3 views

Soal Kebersamaan

“MBAK lagi ada masalah sama temen deket ya? Adek perhatiin sudah seminggu ini nggak jalan sama temen-temen yang selama ini runtang-runtung?!” kata Gilang.

“Nggak ada apa-apa kok, dek? Ya lagi nggak ada agenda yang buat kami jalan bareng aja! Emangnya kenapa?!” sahut Dinda.

“Ya, adek aneh aja sih? Biasanya kan mbak sama grupnya selalu ada aja kegiatan! sudah di sekolah runtungan kesana-sini barengan, di luar jam sekolah juga ada aja acara bareng! Ya syukur kalo nggak ada apa-apa! Kirain lagi ada masalah!”

“Nggak ada apa-apa kok, dek! Semua baik-baik aja! Grup mbak tetep kompak! Solid dan saling mendukung! Kebetulan aja lagi nggak ada sesuatu yang menarik buat diagendain jalan bareng! Lagian, kebersamaan kan nggak mesti keliatan runtang-runtung, dek!”

“Nah, itu yang mau adek sampein sebenernya, mbak!” sela Gilang.

“Emang apa yang sebenernya mau adek sampein?!” tanya Dinda.

“Ya soal kebersamaan mbak sama grupnya itu!”

“Maksudnya gimana sih, dek?!”

“Mulai banyak lho temen-temen di sekolahan yang ngerumpiin kalo gank mbak itu sudah bubar! Sudah nggak nyatu lagi! Kebersamaan yang dulu buat banyak orang iri ngeliatnya, sekarang sudah tinggal kenangan!” ujar Gilang.

“Oh gitu to, dek! Ya biar aja orang ngerumpiin gitu, nggak ada masalah kok! Nyantai-nyantai aja, dek! Orang kan selalu ngeliat sesuatu dari lahiriyahnya! Kalo dulu runtang-runtung terus sekarang nggak, dianggep sudah nggak akrab! Kalo dulu sering pulang bareng dari sekolah, sekarang masing-masing, dibilang nggak akur lagi! Itu biasa-biasa aja, dek! Nggak perlu dipikirin penilaian kayak gitu mah!” jelas Dinda dengan entengnya.

“Tapi kan denger rumpian kayak gitu nggak enak juga adek ini, mbak?!”

“Ya nggak usah dipikirinlah, dek! Emang telinga kita buat dengerin cerita bagus maupun jelek, dek! Tapi nggak semua harus dipikirin! Apalagi dimasukin ke hati! Apalagi kalo rumpian itu dari penilaian kasat mata aja!”

“Maksudnya kasat mata itu gimana, mbak?!” ucap Gilang.

“Yang jadi penilaian dari rumpian itu cuma karena ngeliat lahiriyahnya aja, dek! Biar adek tau ya, yang namanya kebersamaan itu bukan sisi lahiriyah yang dominan! Tapi suara batin! Kesesuaian perasaan, itu yang penting! Kesamaan pemikiran! Penyadaran akan kuatnya toleransi! Saling memahami! Kukuhnya meredam egoisme pribadi! Itu syarat buat ngebangun kebersamaan, dek! Yang itu semua diekspresiin dengan jalan bareng! Runtang-runtung kayak lem sama perangko! Gitulah istilahnya!” jelas Dinda.

“Oh gitu, mbak! Jadi salah ya kalo kebersamaan dinilai dari masih jalan bareng apa nggak! Masih sering ketemuan buat kongkow-kongkow atau nonton bareng apa nggak?!” kata Gilang.

“Ya bisa dibilang salah nggak salah, dek?!”

“Kok gitu, Maksudnya gimana, mbak?!”

“Kita kan nggak boleh semena-mena atau dengan begitu aja memvonis penilaian seseorang itu salah, dek! Kita harus pahami dulu, seberapa paham orang itu akan apa yang dinilainya! Kalo pemahamannya soal kebersamaan dinilai dari kasat mata aja, ya kita anggep wajar manakala dia berasumsi kalo nggak jalan bareng lagi berarti kebersamaan itu sudah bubar! Nggak salah dia nilai begitu, karena ya setaraf itulah kemampuannya dalam menilai!”

“Jadi, kebersamaan yang sebenernya itu kayak mana, mbak?!” ujar Gilang lagi.

“Apapun itu muaranya dari batin, dek! Dari jiwa kita! Dari krenteg ati! Lahiriyah akan menyesuaikan dengan suara hati setelah ada perintah dari otak yang dialiri setrum dari hati! Alurnya begitulah sederhananya, dek! Kebersamaan yang terbangun dari pondasi semacam ini, takkan lemah hanya oleh ketidakrutinan pertemuan atau jalan bareng! Cuma memang, nggak semua kebersamaan¬† dibangun dengan cara itu, dek?!” kata Dinda.

“Oh, ada juga ya kebersamaan berdimensi lain, mbak?!”

“Ya adalah, dek! Maka tadi mbak bilang, kita nggak boleh semena-mena memvonis penilaian seseorang itu salah atau benar! Sebab, tolok ukur masing-masing orang nggak sama! Kearifan kita dalam menelaah penilaian itulah yang penting! Terlepas apakah itu baik atau buruk!”

“Terus, kebersamaan yang berdimensi lain tadi kayak mana, mbak?!” sela Gilang.

“Itu kebersamaan yang didominasi dengan pendekatan lahiriyah, dek! Biasanya, terkait dengan upaya mendapatkan keuntungan-keuntungan finansial, status sosial atau gengsi di mata orang lain! Biasanya, terwujud dengan gamblang manakala seseorang sedang punya kekuasaan! Pasti banyak yang ngerubung bahkan runtang-runtung kapan pun!”

“Misalnya kayak mana, mbak?!”

“Ini contoh aja ya, dek! Bukan ngomongin orang! Saat sang penguasa kemana aja, dalam kegiatan apa aja, selalu nempel! Terlepas apakah dia ada kaitan apa nggak! Terlepas dia diajak apa nggak! Yang penting selalu runtang-runtung! Biar diliat orang kalo dia nempel terus dengan sang penguasa! Ini namanya kebersamaan yang didominasi pendekatan lahiriyah, dek!”

“Banyak yang praktekin pola kebersamaan semacam ini ya, mbak?!”

“Pastinya ya banyaklah, dek! Karena masing-masing kita kan memang punya hak buat memainkan pola kebersamaan yang kayak mana! Nggak boleh juga kita melarangnya! Tapi, ada kelemahannya pola ini, dek!”

“Apa kelemahannya, mbak?!”

“Karena kebersamaan itu didominasi kepentingan lahiriyah, sedang kebersamaan batinnya ringkih, akibatnya bisa berbuah bahaya!”

“Maksudnya, mbak?!”

“Karena dia nggak bisa nempatin diri untuk menyuarakan suara batinnya akan kebenaran, dek! Nggak ada keberanian untuk mengingatkan! Dan pastinya, akan kurang cermat dalam menjaga sang penguasa manakala ada bahaya didepannya! Maka tak jarang, jika sang penguasa terperosok, dia pun akan ikut terperosok! Sebab, dia nggak punya pengendali, yaitu suara batinnya untuk menjaga kebersamaan dalam refleksi saling asah, asih, dan asuh! Kebersamaan itu memang mahal, dek! Makanya sangat sedikit orang yang bisa memahami dimensi kebersamaan yang sangat indah ini!” tutur Dinda. (¬§)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *