33 views

Soal Kesabaran

“LAMA amat sih ini go-car-nya, dek! Sudah pesen apa belum sebenernya adek ini!” ucap Dinda yang kelihatan sudah “bingsal” karena pesanan kendaraan penjemputnya belum datang juga.

“Ya sudah pesenlah, mbak! Makanya kita sudah tau siapa sopir dan apa mobilnya yang mau jemput kita! Sabar ajalah dulu!” sahut Gilang.

“Biasanya kan nggak selama ini sih, dek! Lagian mbak kan ada tugas di rumah, jadi harus cepet pulang!”

“Ya emang sih, nggak biasanya pula nunggu jemputan selama ini! Tapi namanya di jalan, kan seribu satu kemungkinan bisa aja kejadian! Disyukuri dan dibawa enjoy ajalah, mbak!” ujar Gilang.

“Apanya yang mau disyukuri, dek! Wong ngeselin kayak gini?!” ketus Dinda.

“Mensyukuri suasana ngeselin gini lebih baik ketimbang kita nambah stres, mbak! Kita kan sudah diajari untuk bersyukur dalam setiap keadaan, baik yang kita sukai maupun yang nggak disukai!”

“Ya bener sih, mama ngajarin gitu, dek! Cuma kan nggak mudah lakuinnya!”

“Ya semua kan berproses, mbak! Setahap demi setahap! Nggak bisa pula ujug-ujug! Yang mesti kita renungi, mungkin ada sesuatu yang berhikmah dari lamanya sopir go-car ngejemput kita saat ini!”

“Apa coba hikmahnya, dek?” kata Dinda.

“Minimal kita belajar lebih sabar, mbak! Ujian hidup itu kan kadang berupa nikmat dan kesenangan, tapi kadang juga berupa kesulitan dan musibah! Pastinya, kita akan ketemu ujian hidup ini dalam dua keadaan, mbak! Susah dan senang! Itu sudah hukum alamnya kehidupan!” ujar Gilang.

“Jadi harus sabar, tetep besar hati dan nrimo aja ya walo kita kesel kayak gini?!” sela Dinda.

“Ya harus gitu, mbak! Harus ikhlas aja nerima keadaan seperti ini! Kita nggak tau ada rahasia aapa dibalik peristiwa ini! Seperti kata orang bijak; tak ada keburukan dalam episode kehidupan orang yang beriman! Karena dalam kondisi senang, dia akan dapat kebaikan berupa pahala syukur! Sedang dalam kesulitan, dia akan dapetin kebaikan lewat pahala sabar!”

“Adek kok jadi penyabar gini sih? Belajar dari mana?!” tanya Dinda.

“Belajar dari kehidupan aja, mbak! Mulai adek di kandungan, kan penuh kesabaran mama jalanin kehamilannya! Adek lahir, kan dengan kesabaran juga mama dan buya ngurusinnya! Adek rasain dan syukuri itu semua, mbak! Termasuk dalam mencari teman pun, adek cukup selektif! Karena keberadaan teman akan memengaruhi terhadap sikap, cara pandang, perilaku dan kebiasaan kita! Itu sebabnya, adek hanya berteman dekat dengan orang yang karakternya sama, yaitu penuh kesabaran sebagai ekspresi rasa syukur!” kata Gilang.

“Oh gitu, dek! Emang kesabaran dan pertemanan itu saling mengait ya, dek?” kata Dinda.

“Ya pastinya gitulah, mbak! Dengan kesabaran kita akan temukan teman yang sehati! Yang bisa setikar-seketiduran! Dari pertemanan kita akan dapatkan kekuatan untuk kemantapan kesabaran!”

“Adek ini nyindir mbak ya? Karena temen-temen mbak banyak yang nggak sabaran jadinya mengimbas ke mbak! Gitu maksudnya ya?!” ucap Dinda.

“Nggaklah, ngapain nyindir mbak! Adek cuma mau nyampein aja kok; kalo kesabaran itu hal penting dalam kehidupan! Dan itu juga akan membawa kita ketemu dengan teman yang bisa seiring sejalan! Nggak setinggalan!”

“Oh, kayak mbak ini ya! Karena ditinggalin temen-temen yang pulang masing-masing, terus mesen go-car! Untung ada adek, jadi ada yang nemenin!” ketus Dinda.

“Yah, kali juga kayak yang kita alami sekarang ini, mbak! Makanya jadiin ini moment kita mantepin kesabaran aja, mbak! Dengan itu, kekeselan nungguin jemputan ini tetep berhikmah positif buat kita! Nggak perlu uring-uringan!” kata Gilang lagi sambil meluk Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *