3 views

Soal Deklarasi

“MBAK, aneh ya di sekolah kita ini! Sedikit-sedikit ada deklarasi!” kata Gilang pada Dinda saat pulang sekolah, sore tadi.

“Maksudnya gimana, dek?!” tanya Dinda.

“Ya setiap kesempatan ada acara deklarasinya! Pengukuhan gitulah, mbak! Besok mau ada deklarasi tim futsal sekolah! Mulai dari tim A, tim B, dan tim C! Lusa, giliran deklarasi tim seni budaya! Mulai dari band, teater, sampai ke qasidahnya! Ngapainlah setiap cabang mau dideklarasiin gitu!” jelas Gilang.

“Oh itu to, dek! Itu emang tradisi di sekolah kita! Itu salah satu cara buat ngebangun kebanggaan sekaligus keseriusan siapa aja yang terlibat di dalam tim itu, dek! Masing-masing sekolah kan punya gaya sendiri dalam ngebangun semangat dan kebanggaan bagi anak didiknya! Ya ikuti aja sih, apa susahnya!” sahut Dinda.

“Ya emang nggak ada susahnya sih, mbak? Cuma aneh aja bagi adek! Kok pake pola deklarasi gitu! Kayak orang mau maju di pilkada aja!” sela Gilang.

“Jadi nurut adek kurang pas ya?!”

“Ya aneh dan kurang pas emang, mbak! Dengan pake istilah deklarasi itu kesannya kok politis banget gitu lho!”

“Adek, jangan kebiasaan debatin soal istilah! Itu cuma kulitnya doang! Substansinya yang harus adek pelajari dan pahami! Mau pake istilah deklarasi, pengukuhan atau pembaiatan, maknanya yang mesti bisa dipahami dan dicermati maksud di baliknya!”

“Itu bener, mbak! Adek paham kok nilai intrinsik yang dimaksud dari kegiatan itu! Cuma kurang sreg dengan kata deklarasi itu aja! Kesannya, itu semua cuma seremonial! Cuma buat pengumuman aja! Nggak ada getaran semangat juangnya! Kurang gregetnya!” ujar Gilang.

“Apapun istilahnya, yang penting adek paham maksudnya kan?!” sela Dinda.

“Ya pahamlah, mbak! Cuma adek khawatir aja, nilai atau substansi dari acara deklarasi itu nggak akan maksimal nantinya! Utamanya buat tim futsal!”

“Emangnya kenapa?!” tanya Dinda.

“Karena mayoritas temen-temen pemain futsal itu anaknya orang-orang yang banyak bersentuhan dengan dunia politik, mbak!”

“Terus apa hubungannya, dek?!”

“Ya jelaslah, mbak! Mereka pasti sudah biasa denger orang tuanya ikut acara deklarasi ini dan itu! Tapi diperhatiin, abis deklarasi yang biasanya gegap-gempita, nggak ada tindaklanjutnya! Cuma kongkow sana-sini! Diskusi dari satu cafe ke cafe yang lain! Nggak jelas greget atau kegiatan apa yang bener-bener ekspresi dari yang namanya deklarasi!” ucap Gilang.

“Adek, emang nggak semua yang ikut acara deklarasi itu akan terus terlibat dalam acara-acara lanjutannya! Semua terpulang pada kesungguhan yang bersangkutan! Juga tergantung pada orang atau tim yang berkepentingan dengan acara itu! Jadi tetep ada proses yang mengikutinya! Kalo ada orang tua temen adek yang abis ikut acara deklarasi terus tindaklanjutnya dengan kongkow aja atau diskusi disana-sini, mungkin dia masuk dalam tim pemikirnya! Think thank-nya! Bukan pelaku lapangannya!” urai Dinda.

“Oh gitu, mbak! Jadi abis deklarasi gitu biasanya dibagi-bagi dalam beberapa tim lagi ya?!”

“Ya biasanya begitu sih, dek! Tinggal sesuai kebutuhan aja! Cuma emang, biasanya, dalam acara deklarasi banyak yang sengaja dihadirkan sekadar untuk meramaikan, dek! Perannya untuk menunjukkan ke publik kalo banyak pendukungnya! Mereka yang semacam ini ya hanya dihadirkan buat meramaikan aja! Abis deklarasi, selesai perannya!”

“Oalah, kasihan juga ya yang dihadirkan hanya buat ngeramein itu, mbak?! Mungkin mereka sudah mikir bakal dilibatin dalam action-action selanjutnya!”

“Semua kembali ke pihak yang berkepentingan dengan deklarasi itu, dek! Maka itu, jangan terjebak dalam eforia acara seremoni! Jangan petentengan pada kegiatan-kegiatan berkonotasi pengumuman atau pengukuhan! Karena ketika tindaklanjutnya dimulai, belum tentu kita diperankan! Atau dibuat sedemikian rupa agar kita tak berperan!”

“Jadi gimana dong adek nanti, mbak?!”

“Kalo adek masuk dalam tim, ya tindaklanjuti dengan sungguh-sungguh! Tunjukin semangat dan kemampuan dengan maksimal! Tapi kalo sekadar meramaikan aja, sebaiknya segera menarik diri atau sadar diri! Nurut feeling, adek itu bakalan terpilih sebagai anggota tim futsal misalnya, apa nggak?!”

“Kalo feeling sih, adek kepilih masuk anggota tim futsal, mbak?! Bahkan bisa juga ngerangkep masuk tim band sekolah!” kata Gilang dengan percaya diri.

“Syukur kalo ada keyakinan gitu, dek! Sebab, deklarasi itu cuma seremoni! Kelanjutannya yang penting! Hal sederhana ini yang sering dilupakan akibat keasyikan serunya acara deklarasi!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *