13 views

Soal Kurma

“MBAK, tadi temen adek bilang, mau minta oleh-oleh apa? Ortunya kan mau berangkat haji ke Tanah Suci! Gimana nurut mbak?!” kata Gilang pada Dinda saat makan malam.

“Terus adek bilang apa?!” sahut Dinda.

“Adek jawab; aku pikirin dulu ya?”

“Kok gitu! Ya jawab aja apa yang adek mau! Tapi ya yang pantes! Jangan minta oleh-oleh yang ngeberatin!”

“Adek bingung mau jawab apa, mbak? Nurut mbak apa ya yang pantes!” ucap Gilang sambil mengunyah makanan.

“Minta kurma aja, dek!” sela Dinda.

“Kurma..? Ngapain minta kurma, mbak? Disini aja banyak! Kiriman dari Arab kan nggak putus-putus!”

“Adek jangan salah! Kurma yang langsung dibeli dari kebunnya di Madinah itu lebih sip!”

“Tapi ngebebanin namanya, mbak! Katanya minta oleh-oleh yang pantes, masak mau ngerepotin orang nenteng kurma sejak dari Madinah, dibawa ke Mekkah terus sampai rumah lagi? Nggak enaklah ngomongnya, mbak?!”

“Ya kalo ukurannya enak nggak enak gitu, beda dek! Tapi kalo saran mbak, bilang oleh-olehnya kurma aja! Soal belinya di Arab sana atau di toko yang ada di Telukbetung, itu masalah lain!” kata Dinda.

“Kenapa mesti minta oleh-oleh kurma sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Kita kan tau kurma itu buah kesukaan Nabi, dek! Berarti banyak kebaikan dan insyaallah keberkahannya kalo kita suka dengan kurma! Kalo soal vitaminnya, nggak usah ditanya lagi! Banyak kandungan di sebutir kurma itu!” jelas Dinda.

“Oh gitu, mbak! Pantes aja mama selalu sediain kurma ya di meja? Berarti mama tau bener manfaat buah itu?!”

“Ya pastinyalah, dek! Mama paham bener soal manfaat kurma! Jadi selalu nyediain kurma, nggak cuma di bulan Ramadhan aja! Dan kalo mbak nyaranin adek minta oleh-oleh kurma, itu karena ada perumpamaan antara kita sebagai manusia adalah seperti pohon  kurma!” ujar Dinda.

“Perumpamaannya kayak mana, mbak?!” kata Gilang.

“Yang pertama; pohon kurma itu tumbuh di tempat yang baik! Nggak bisa kan pohon kurma tumbuh, apalagi berbuah, di tempat sembarangan? Ini ngajarin sama kita untuk selalu berada di tempat dan lingkungan yang baik! Itu yang pertama, dek!”

“Oh gitu, terus apa yang kedua, mbak?!”

“Pohon kurma itu berbuah di sepanjang musim! Jadi nggak ada ceritanya buah kurma ngalami kelangkaan! Pasti selalu ada, mau kapanpun! Ini ngajarin sama kita bahwa kita mesti bisa memberi kemanfaatan bagi sesama! Tentu dalam konteks kebaikan dan kemajuan!”

“Lanjutannya apa, mbak?!” Gilang makin penasaran.

“Yang ketiga, buah kurma itu bergizi dan nggak mudah busuk!  Hal ini memberi pelajaran bahwa kita harus punya kepercayaan diri dan kebermanfaatan bagi sesama! Pribadi yang nggak rapuh sekaligus istiqomah di jalan kebaikan!” jelas Dinda.

“Masih ada perumpamaan yang lain, mbak?!”

“Masih satu lagi, dek! Yaitu tak ada yang terbuang! Mau batangnya, daunnya, sampai ke bijinya, kurma itu nggak ada yang terbuang! Semua memberi kemanfaatan! Hal ini menyadarkan kita untuk selalu berjuang menebar kebajikan, kapan pun dan dimanapun berada! Jadi, kalo adek minta oleh-oleh kurma, itu pas!”

“Pasnya kenapa, mbak?!” sela Gilang.

“Bukan cuma nggak ngeberatin yang mau ngasih, tapi juga ada nilai-nilai kehidupan yang bisa dipetik! Keseimbangan kayak gini yang sejak dini selayaknya kita lakuin! Karena semua isi alam ini tak lain juga ayat-ayat Tuhan!”

“Ngomong-ngomong, kok mbak bisa fasih gitu sih ceritain perumpamaan kita sebagai manusia adalah seperti pohon kurma?!” kata Gilang dengan terheran.

“Mbak baca di Tafsir Jami’ Al-Bayan, dek! Yang kasih perumpamaan itu namanya Syaikh Ibnu Jarir Al-Thabari! Jadi bukan mbak asal-asalan aja!” sahut Dinda sambil tersenyum. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *