1 views

Soal Hearing

“MBAK, apa sih maksudnya hearing itu? Tadi di kelas, guru bilang kalo kita diundang ke acara itu oleh dewan perwakilan rakyat, harus dateng!” kata Gilang saat di mobil sepulang dari sekolah, sore tadi.

“Hearing itu dengar pendapat maksudnya, dek! Bahasa kerennya rapat dengar pendapat alias RDP! Memang itu bagian dari hak anggota dan lembaga legislatif dalam mendapatkan informasi atau kebenaran atas suatu persoalan!” jelas Dinda.

“Emang kita wajib hadir ya kalo diundang hearing itu, mbak?!”

“Mestinya ya gitu, dek! Yang ngundang kan lembaga terhormat, selayaknya kita pun merasa terhormat untuk memenuhi undangan itu!”

“Tapi kata guru tadi, pada kenyataannya, banyak yang diundang hearing nggak hadir! Bahkan nggak ada konfirmasi kenapa tidak hadir! Berarti kan nggak ngehormatin lembaga terhormat, mbak? Gimana kalo kayak gitu!” ucap Gilang.

“Ya emang nggak ada sanksinya juga kalo pun nggak menuhi undangan hearing itu, dek! Walo ada ketentuan, kalo beberapa kali diundang nggak hadir bisa dipanggil paksa! Tapi masak iya, mau dengar pendapat aja kok pake paksa-paksaan segala! Jadi semua ya kembali ke personal yang diundang!” kata Dinda.

“Maksudnya kembali ke personal yang diundang itu gimana sih, mbak?!”

“Ya balik ke pribadi masing-masing aja, dek! Kalo dia sebagai warga negara yang baik, pastinya ya akan menuhi undangan lembaga terhormat itu! Tapi kalo dia ngerasa nggak ada kepentingan atau nyembunyiin sesuatu, ya bisa aja milih nggak hadir! Jadi semua balik ke personalnya aja, dek!”

“Oh gitu to, mbak! Jadi terserah sama yang diundang ya! Mau hadir mau nggaknya! Lagian, ngapain aja sih di hearing itu?!”

“Ya semua balik ke orangnya aja, dek! Pastinya hearing itu, dengerin pendapat atas suatu persoalan yang oleh dewan dirasa perlu! Kalo dengan organisasi perangkat daerah misalnya, mulai dari program kerja, target, kendala, sampai ke pencapaian! Kalo dengan pihak lain, nyesuaiin dengan persoalannya aja, dek!”

“Kalo kata guru adek tadi, biasanya yang nggak menuhi undangan hearing itu karena mau bahas persoalan-persoalan yang sensitif, mbak! Baik secara politis maupun hukum! Bener nggak sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Bisa juga gitu, dek! Dewan itu kan emang lembaga politik, sudah tentu persoalan-persoalan politislah yang dominan dibahas! Maka itu, bagi orang yang ngerasa harus sembunyiin sesuatu terkait suatu persoalan, milih nggak hadir ketimbang kebablasan nyampein pendapatnya!”

“Tapi kan itu nggak bagus juga, mbak! Nggak ngehargai undangan lembaga terhormat?!” kata Gilang.

“Dalam konteks sebagai warga negara yang baik, emang seharusnya ngehargai lembaga perwakilan rakyat, dek! Ada etika kehidupan berbangsa dan bernegara yang mesti dijunjung tinggi! Tapi kalo kepentingan personal atau kelompok yang mengedepan, seringkali kita membelakangkan etika dan penghormatan atas undangan hearing itu!”

“Gimana kalo yang nggak muncul di hearing itu malah anggota dewan yang diundang, mbak?!”

“Kalo yang diundang juga berstatus anggota dewan dan nggak hadir, berarti dia melecehkan status dirinya sendiri, dek! Status yang terhormat yang selama ini buat dia dihargai dan dihormati banyak orang! Tentu kalo ada yang kayak gini, kita patut seselinlah!”

“Kalo ada kejadian kayak gini, gimana nilai orang itu, mbak?!” ujar Gilang.

“Ya berarti dia belum bermental sebagai yang terhormat, dek! Baru sebatas pakaiannya aja! Lahiriyahnya doang! Mungkin kita perlu ingatkan pesan orang bijak; yen wedi ojo wani-wani, yen wani ojo wedi-wedi! Kalo takut jangan berani-berani, kalo berani jangan takut-takut!” kata Dinda.

“Pesen itu cuma buat yang diundang hearing tapi nggak hadir, apa buat yang ngundang juga, mbak?!”

“Ya buat keduanyalah, dek! Biar sama-sama mawas diri!” tutur Dinda sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *