1 views

Soal Wakil

“MBAK, ngapa ya kok dimana-mana urusan wakil itu jadi perdebatan dan nimbulin masalah?!” kata Gilang saat kongkow dengan Dinda di gazebo menjelang maghrib sore tadi.

“Ya karena keberadaan dan peran wakil itu strategis, dek! Wakil itu kan awak lan sikil! Badan dan kaki bagi pimpinannya! Harus trengginas pada saat diperlukan! Emang yang adek lagi ikutin soal apa sih?!” ujar Dinda sambil terus memainkan gadgetnya.

“Itu lho, soal cawapres, mbak? Kok kayaknya nggak beres-beres! Perdebatannya nggak brenti-brenti! Bahkan sampe ada yang ngancam, kalo wakilnya bukan dari pihaknya, mau narik diri segala! Aneh aja bagi adek, kok urusan jadiin cawapres aja segumek ini!”

“Ya itulah dunia politik, dek! Walo fatsunnya semua bisa diatur dan dikompromikan, tapi kan tetep aja nggak bakal muasin semua pihak! Urusan politik itu kan banyak komanya, bahkan nggak ada titiknya!”

“Maksudnya gimana sih, mbak?!” sela Gilang.

“Soal kekuasaan yang jadi prioritas, dek! Dan emang, urusan politik bukan alat pemuas! Maka wajar kalo ada aja yang nggak puas! Apalagi kalo syahwat untuk megang kekuasaan sudah nggak tertahankan! Bisa lupa etika, lupa diri, bahkan ngehalalin semua cara! Yang penting bisa berkuasa!”

“Lha kalo calon wakil yang disodorin dirasa nggak pas, gimana dong?!”

“Itu sebenernya yang terjadi saat ini, dek! Karena yang disodor-sodorin itu dirasa nggak pas makanya muncul perdebatan! Lahir ancam-mengancam! Dimainkan gaya injek-injekan! Kalo dirasa sudah klop, ya semua berjalan lancar-lancar aja, dek! Disinilah kedewasaan kita semua dipertaruhkan! Apakah posisi cawapres itu segalanya ataukah meraih kemenangan buat bisa berbuat banyak bagi rakyatnya!” ujar Dinda.

“Jadi maksudnya gimana ini, mbak?!”

“Dalam urusan politik, banyak orang sering lupa, dek! Lupa kalo politik itu bukan tujuan! Tapi sekadar jalan aja! Nyawapres pun bukan tujuan! Tapi jalan buat bisa nambah bobot pengabdian dan perjuangan bagi kepentingan rakyat ke depannya! Karena menggelegaknya syahwat politik yang sudah memanasi kepala, banyak yang lupa kalo sebenernya bangsa ini merluin wapres yang berkarakter mulat laku jantraning kartika!”

“Opo to maknane mulat laku jantraning kartika kuwi, mbak?!” ucap Gilang dengan bahasa Jawa yang difasih-fasihkan.

“Maksudnya itu pemimpin yang meneladani bintang! Yang bersinar terang di ketinggian serta dapat dijadikan pedoman arah! Posisi wakil mestinya kayak gitu, dek! Baru melengkapi figur sang pemimpin yang mulat laku jantraning maruta!” kata Dinda.

“Apa pula istilah itu sih, mbak?!”

“Maknanya, seorang pemimpin itu meneladani angin! Yang berada dimana-mana! Selalu mengisi setiap ruang kosong! Artinya, selalu dekat dengan rakyat! Tanpa beda-bedain derajat serta martabatnya!”

“Oh gitu ya maknanya! Terus nurut mbak, wapres ke depan perhatian utamanya ke program apa?!”

“Mesti nerangin kehidupan rakyat kebanyakan yang saat ini kesusahan, dek! Liat aja, semua harga bahan pangan keseharian sekarang mahal semua! Abis urusan telur, sekarang harga beras! Ini ngebuat rakyat kebanyakan makin menjerit, dek!”

“Ya itu dia, mbak! Kok harga telur kemarin itu bisa naik gitu ya! Sekarang harga beras, walo katanya ada stok 2,2 juta ton?!” kata Gilang.

“Gimana nggak serba mahal, dek? Wong semua impor kok! Harga telur naik nggak ketulungan kemarin itu kan karena pakan ayam kita aja impor! Stok beras di gudang bulog itu juga pastinya ya hasil impor! Semua jadi serba mahal itu ya karena datengin kebutuhan dari luar negeri itulah, dek!”

“Lha, yang katanya surplus beras itu gimana, mbak? Kan sudah digadang-gadang kita sekarang ini sudah swasembada pangan?!”

“Kalo rencana dan katanya sih sudah begitu, dek?! Cuma faktanya kan nggak begitu! Tetep aja barang impor yang diduluin! Garam aja kita impor kok, apalagi yang lain-lain! Jadi, kalo banyak tenaga kerja asing yang nukang batu sekarang ini, ya nggak usah heran! Wong emang semua sendi kebutuhan rakyat kebanyakan pun sudah barang impor kok!”

“Kalo cawapres nanti mesti ngurusi ginian, apa nggak pusing ya, mbak? Semua kan tau kalo barang impor terus masuk, berarti ada pendapatan tambahan buat pihak-pihak terkait?!” ujar Gilang.

“Belum ada yang kepikir sampe disanalah, dek! Masih pada sibuk rebutan posisi! Jadi nggak usah heran, kalo siapapun yang didapuk jadi wakil nantinya, pasti kelimpungan juga kalo jadi wapres! Apalagi kalo sang pemimpin terus asyik dengan program mercusuarnya!” tutue Dinda sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *