6 views

Soal Sabar Subur

“MBAK, ngerti nggak sih yang selalu diomongin buya itu? Soal sabar subur makmur itu?!” kata Gilang petang tadi.

“Oh yang itu ya, dek? Sing sabar, sabar itu jalan nuju subur, subur itu bawa kita hidup makmur?!” sahut Dinda.

“Iya, kalimat itu, mbak? Perasaan sejak kecil sampe sekarang, kalo ngobrol-ngobrol pasti ujung omongannya ke itu terus! Emang apa maksudnya sih?!”

“Kalo mbak pernah baca, itu salah satu falsafah Jawa yang banyak ditirakati para pemimpin bangsa kita dulu-dulu, dek?! Sabar subur makmur, gitu kalimatnya!”

“Maksudnya gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Kesabaran itu adalah kesuburan! Kesuburan itu akan membawa pada kemakmuran! Gitulah alurnya, dek!”

“Pengertian gampangnya kayak mana, mbak?!”

“Bisa dianalogikan, nggak ada benih yang ditebar oleh seorang pemimpin di ladang kehidupan ini seketika menghasilkan buahnya! Cuma dengan selalu ngerawatnya setiap hari dengan penuh kesabaran; benih itu akan bersemi! Tumbuh subur dan menghasilkan sesuatu yang positif! Sesuatu yang membawa kemakmuran bagi yang dipimpinnya!” jelas Dinda.

“Tapi soal kesabaran juga jadi falsafah Jack Ma, bos besar Grup Ali Baba di Tiongkok lho, mbak?!” ucap Gilang.

“Oh gitu, dek! Emang apa kata Jack Ma?!” tanya Dinda.

“Kata dia; Hal utama yang perlu kamu miliki adalah kesabaran! Jangan pernah putus asa! Bila hari ini sulit, esok akan lebih sulit! Tapi percayalah, esok lusa matahari akan bersinar dengan cerah! Gitu kata Jack Ma! Dan dia sudah buktikan kalo dengan kesabarannya itu Grup Ali Baba jadi kerajaan bisnis dunia!” urai Gilang.

“Bener itu, dek! Ada kesepahaman filosofi dan apa yang dipraktikkan Jack Ma dengan falsafah Jawa! Sabar iku ingaran mustikaning laku! Kesabaran merupakan keindahan dari suatu perjalanan hidup!”

“Maksudnya sabar iku ingaran mustikaning laku apa, mbak?!”

“Hanya dengan jiwa yang sabar, segala cita-cita dapat tercapai dengan baik! Tentu, cita-cita itu harus disertai doa dan upaya yang optimal, dek! Sebab, tanpa doa dan upaya, cita-cita itu hanya mimpi indah di siang bolong!” kata Dinda.

“Tapi emang berat ya bisa sabar itu, mbak?!” ujar Gilang setelah diam sesaat.

“Emang adek lagi kenapa?!”

“Adek lagi di-buly kakak-kakak kelas, sebab adek kepilih jadi pemain inti tim futsal, mbak?! Yang milih kan pelatih! Adek juga baru kenal! Karena adek anak baru, jadi dibuat nggak nyaman sama kakak-kakak kelas! Kesel, keki, dan sakit hati sebenernya adek ini! Cuma inget pesen buya itu; sing sabar, sabar kuwi nuju subur, subur kuwi nggowo neng makmur!” kata Gilang dengan menahan emosi.

“Oalah, rupanya adek lagi ngerasain ketidaknyamanan to! Nyantai aja, dek! Mantepin tekad! Tekad iku ngluwihi kekuatan! Tekad itu melebihi kekuatan! Tekad itu lebih ampuh dari segala daya!” ucap Dinda.

“Tekad untuk nunjukin kalo adek emang pantes jadi pilihan pelatih ya, mbak?!”

“Iyalah, dek! Tunjukin adek emang punya kemampuan! Adek emang hebat, jadi wajar kalo jadi yang terpilih! Gelorakan tekad dan ambisi untuk tidak kecewain pilihan pelatih!”

“Ambisi itu penting juga ya, mbak?!” sela Gilang.

“Ya pentinglah, dek! Dengan memiliki ambisi, kita akan mampu memaksimalkan potensi diri! Ambisi buat kita punya kekuatan untuk ngalahin semua rintangan bahkan membuat keajaiban! Dengan punya ambisi, kita akan terus belajar dan tidak cepat puas!” urai Dinda.

“Terimakasih sharingnya ya, mbak! Bangga adek punya mbak yang pinter dan bijak!” ujar Gilang sambil memeluk Dinda.

“Nggak usah lebay, dek! Biasa aja kali! Lagian mbak nggak tau, tekad dan ambisi adek itu mau ditunjukin dimana? Sebagai anggota tim futsal sekolah atau apa?!” kata Dinda.

“Mau adek jadiin pondasi buat ngejalanin falsafah; sabar, subur, makmur, mbak!” sahut Gilang sambil terus memeluk Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *