Soal Peran

“ADUH, dek! Mbak bingung deh main drama sekali ini!” kata Dinda saat di mobil sepulang sekolah, sore tadi.

“Emang kenapa? Mbak kan sudah biasa main drama! Yang musikal maupun kolosal kan sudah pernah dijalani! Bingung apanya emang, mbak?” sahut Gilang.

“Perannya itu yang nggak cocok, dek! Sangat kontras dengan pembawaan keseharian, jiwa dan karakter mbak!”

“Emang perannya apa?!”

“Mbak jadi sepupunya sang raja, dek! Tapi perilakunya itu yang ngelebihin sang raja, apalagi permaisuri!” ujar Dinda.

“Maksudnya kayak mana sih, mbak?” tanya Gilang.

“Sebagai sepupu sang raja, mbak banyak ngatur ini-itu! Bahkan pimpinan aja down dengan tekanan-tekanan yang mbak ciptain! Sampai semua panglima dan hulubalang takut dan tunduk sama mbak!” jelas Dinda.

“Oh gitu, mbak! Terus yang buat mbak bingung apanya?!” sela Gilang.

“Perilaku yang over acting kayak gitu kan bukan karakter mbak, dek?!”

“Ya bener sih, bukan karakter mbak yang kayak gitu?! Tapi itu kan cuma peran di drama aja, mbak!”

“Emang cuma peran di drama aja sih, dek! Cuma karena perannya antagonis, jadinya nggak plong juga mbak tampilnya!”

“Dibawa nyantai aja, mbak! Jangan terbebani! Masukkan dalam hati peran itu, olah dalam alur pikir, dan ekspresiin tanpa pretensi! Adek yakin kok, mbak pasti bisa!” kata Gilang, menyemangati.

“Gitu ya, dek! Lagian, dalam kehidupan nyata, peran kayak gitu kan nggak ada, jadi susah masuknya!” ucap Dinda.

“Siapa bilang dalam kenyataan nggak ada, mbak?! Bisa jadi lahirnya cerita drama itu karena penulis naskah dan sutradaranya justru tau persis kalo lelakon sepupu yang lebih over dari sang raja itu memang ada bahkan banyak dipraktikkan orang selama ini!”

“Oh ya, emang ada ya sepupu yang ngerasa lebih raja dibanding sang raja yang sebenernya itu, dek?!” kata Dinda.

“Ya adalah, mbak! Bahkan banyak yang nunjukinnya dalam keseharian! Banyak sepupu, keponakan, bahkan sepupunya sepupu, yang perilakunya ngalah-ngalahin pembawaan sang raja! Mereka ngatur apa aja seenaknya! Tak peduli aturan apalagi etika! Meremehkan sejawat bahkan atasannya pun sudah biasa!”

“Oalah, ada ya ternyata peran kayaak gitu?! Mbak nggak tau, dek!”

“Ini mah bukan peran, mbak! Tapi kenyataan! Perilaku keseharian! Yang buat orang lain -para bawahan sang raja- menjadi jengah! Keki dan sakit hati atas pembawaan para sepupu itu! Tapi semua diam, nonton aja!”

“Kok sang raja diem aja ya, dek?!” ujar Dinda.

“Karena sang raja nggak tau, mbak! Yang sampe kan cuma yang bagus-bagus aja! Laporan sepupu juga kan yang nyeneng-nyenengin hati aja! Kecuali dia pengen ngebuang orang, baru dia provokasi sang raja! Lelakon kayak gini ada di kehidupan nyata, mbak!” urai Gilang.

“Pantes aja judul drama yang mbak mau mainin ini unik, dek! Sepupu Menebar Takut, Sang Raja Manggut-Manggut! Ternyata drama itu buat ketawaan aja to! Tau gitu, nggak perlu bingung-bingung mbak mainin perannya, dek!” kata Dinda sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *