Soal Obor

“LUAR biasa ya kemeriahan penyambutan obor Asian Games kemarin itu, mbak! Tua muda, laki perempuan, semua ceria! Sukacita dan antusias di sepanjang jalan!” kata Gilang, tadi petang.

“Bener, dek! Emang luar biasa! Semangat warga untuk nonton dan meriahin pawai api abadi Asian Games itu patut diacungi dua jempol! Kesiapan jajaran aparat pemerintah juga bagus! Jadi semua berjalan sukses! Bahkan bisa dibilang di Lampung ini yang paling meriah!” sahut Dinda.

“Mbak nonton juga kan kemarin itu?!”

“Iyalah, dek! Kan satu sekolah dikasih kesempatan buat nonton waktu arak-arakan obor itu lewat! Ini kan peristiwa yang belum tentu berulang dalam belasan tahun ke depan!”

“Kenapa sih mbak obor Asian Games itu mesti diarak keliling negeri?!” tanya Gilang.

“Untuk membangun dan ngebangkitin semangat seluruh rakyat, intinya itu dek! Posisi Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games yang mulai minggu depan itu dimanfaatin bener oleh Pak Jokowi untuk menyatukan semangat dan tekad seluruh anak bangsa agar optimis akan masa depan! Agar gelora semangat olahraga menggema di seluruh pelosok negeri! Banyak nilai kebatinan yang tersimpan di dalam acara pawai obor ini, dek!” jelas Dinda

“Tapi kenapa harus obor berapi yang dibawa keliling negeri ya, mbak? Kan bisa aja maskot Asian Games yang diarak-arak!”

“Adek, sudah jadi tradisi kalo acara-acara olahraga selalu ditandai dengan dibawanya obor ke seantero wilayah! Bahkan, menyambut pelaksanaan piala dunia di Rusia waktu itu ya begitu!”

“Nilai ngarak obor itu yang adek belum pahami, mbak! Dan kenapa mesti api yang dikelilingin?!” sela Gilang.

“Jadi gini, dek! Sebenernya, tradisi ngarak obor ini implementasi dari ajaran hasta brata!”

“Hasta brata itu apa sih, mbak?!”

“Hasta brata adalah salah satu ajaran tentang falsafah kepemimpinan Jawa! Yang dalam jagad pakeliran disimbolisasikan dengan wahyu makutharama! Atau anugerah mahkota Prabu Rama! Setidaknya, ada delapan falsafah kepemimpinannya! Yang semuanya bermuara pada simbol dari seluruh isi dunia! Ini memang ajaran zaman baheula, dek! Tapi tetep ngikutin perkembangan zaman!” urai Dinda.

“Nah, kalo soal obor berapi itu ngikuti falsafah apa dong, mbak?!”

“Kalo soal obor ini lebih kepada falsafah mulat laku jantraning dahana, dek! Pengertiannya, seorang pemimpin harus bisa meneladani api yang panas serta sanggup membakar segala yang disentuhnya!”

“Wah, pemimpin apaan yang kayak gitu, mbak? Kok malah kesannya membumihanguskan yang nggak sejalan dengan dia?!” celetuk Gilang.

“Pemaknaannya nggak gitu, dek! Maksudnya itu seorang pemimpin harus berwibawa serta bernyali untuk menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu! Selain itu, harus berani memerangi keangkaramurkaan agar keselamatan dan kedamaian hidup rakyat dan negaranya dapat terjamin dengan baik! Jadi itu maksudnya ajaran mulat laku jantraning dahana itu!” urai Dinda.

“Oh gitu to, mbak? Kalo gitu obor yang dibawa lari itu juga ada maknanya ya?!”

“Iya, pastinya ya adalah, dek! Itu mengajarkan pada kita akan falsafah mulat laku jantraning bantala! Maksudnya seorang pemimpin harus meneladani bumi! Yang bersifat kuat dan murah hati!”

“Pemaknaan luasnya gimana, mbak?!”

“Seorang pemimpin harus menjadi abdi rakyat yang baik! Itu sebabnya, pemimpin yang ngecewain rakyat dan khianatin janji-janjinya saat kampanye, nggak selaras dengan sifat bumi!”

“Jadi, soal kirab obor api Asian Games itu sebenernya banyak bawa nilai ya, mbak? Nggak sekadar rame-rame dan sukacita aja!” ucap Gilang.

“Sebenernya ya gitu, dek! Cuma kan sekarang ini makin jarang orang yang bisa ambil pelajaran atau nilai yang ada dibalik setiap acara dan kegiatan! Kita generasi milenial inilah yang seharusnya bisa menangkap makna-maknanya! Sebab, tak ada sesuatu apapun yang tak berhikmah!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *