0 views

Soal Evaluasi

“MBAK, emang kalo evaluasi itu cuma soal kekurangan-kekurangan atau kesalahan aja ya yang dibicarain,” ucap Gilang, sore tadi.

“Ya nggak jugalah, dek! Justru harus diungkapin hal-hal positifnya! Atau kesuksesan-kesuksesannya! Bahwa karena semua tugas atau pekerjaan nggak bakal bisa mencapai sempurna, maka diperluin yang namanya evaluasi!” sahut Dinda.

“Jadi, hakekat evaluasi itu sebenernya apa sih, mbak?”

“Untuk nemuin apa saja yang sudah dikerjakan, dek! Apa saja yang sudah berhasil! Apa aja yang belum, dan itu yang akan dibahas untuk dicarikan solusinya!”

“Target dari evaluasi itu apa emangnya, mbak?!” lanjut Gilang.

“Agar tugas apapun, pekerjaan apapun akan bisa lebih maksimal hasilnya! Jadi targetnya ya nemuin langkah-langkah yang lebih baik agar tugas atau pekerjaan apapun itu hasilnya akan maksimal,” jelas Dinda.

“Tapi kenapa kalo ada rapat evaluasi selalu kekurangan atau kesalahan aja yang diungkap, mbak! Nggak pernah hal-hal yang baik, yang sukses dibeberin! Jadi kesannya, evaluasi itu cuma cari salah aja! Jadi ajang ngorek-ngorek kekurangan doang!” sela Gilang.

“Kalo kayak gitu yang terjadi, berarti fungsi evaluasi itu nggak jalan, dek! Nyimpang dari hakekatnya!”

“Bahkan, sering kali dari apa yang disebut evaluasi itu muncul pikiran buat dilakuin reposisi lho, mbak? Ini bener nggak sih?!”

“Sudah pasti ya nggak benerlah itu mah, dek! Lagian, yang namanya evaluasi itu nggak bisa semena-mena dilakuin! Ada tata aturannya! Nggak bisa kapan aja atau siapa aja langsung ngevaluasi, apalagi sampe menjurus ke reposisi personal! Itu sudah salah kaprah!”

“Yang bener kayak mana polanya, mbak?!”

“Semua kan pasti ada aturannya, dek! Misalnya adek sekarang kan ketua kelas! Masa pengabdiannya satu tahun! Nah, menjelang habis masa jabatan, kan ada evaluasi! Disitu prosesnya dilakuin! Bahwa dalam empat bulan sekali adek adain rapat untuk bahas program kelas, itu bagus! Disitu masukan, kritik dan saran disampein! Ini juga bagian dari evaluasi! Jad intinya, evaluasi itu dilakuin sesuai waktu dan tempat yang pas! Nggak bisa seenaknya aja!” ujar Dinda.

“Gimana kalo seseorang nganggep orang lain gagal dalam jalanin tugas dan gulirin ide buat dilakuin evaluasi atas kepemimpinannya dan oleh karenanya diperluin reposisi atau pergantian, mbak?!” kata Gilang.

“Itu malah nggak bener, dek! Pikiran keblinger itu! Nggak ada kepemimpinan itu yang personal! Ia masuk dalam sistem! Ada tata aturan yang mesti ditaati! Ada kolektif kolegial yang harus dipahami! Jadi nggak selayaknya satu orang menilai kinerja suatu kepemimpinan apalagi tidak dalam waktu yang tepat!” ujar Dinda.

“Kalo di perusahaan kan bisa aja itu, mbak! Sang pemilik nggak suka lagi sama anak buah yang ditugasinnya mimpin unit usahanya terus diganti kapan aja?!”

“Perusahaan sekalipun punya aturan, dek! Nggak bisa juga pemiliknya main angkat dan pecat kapan dia mau! Pemilik pasti punya schedule tersendiri! Lagian, nggak mungkin dia angkat orang jadi pimpinan unit usahanya kalo dia nggak yakin akan kemampuan orang itu! Jadi, sebenernya, apapun itu ada aturannya, dek! Pasti ada tata kerja yang dibuat! Dalam unit sekecil apapun!”

“Jadi, nggak bisa ya pemilik perusahaan sekalipun kapan aja main evaluasi dan lontarin pikiran ganti pimpinan unit, mbak?!” tanya Gilang.

“Iyalah, dek! Ngapain dipikirin! Kalo yang ngelontarin evaluasi itu orang terlatih, dia akan mainkan pola gegeran dan ger-geran!”

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Dia akan lahirkan dulu suasana gegeran! Rame-rame! Ribut-ribut! Baru ger-geran! Ketawa-ketawa! Itu kalo yang ngelontarin evaluasi emang terlatih, dek! Tapi kalo cuma sekadar buat orang nengok aja, ngeliat dia, ya nggak nyampe ilmu gegeran dan ger-geran itu!” tutur Dinda, kali ini sambil tertawa. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *