9 views

Soal Merenung

“HEI, dek! Ngapain duduk ngelamun di pojokan kayak gitu? Ini mau maghrib, ntar malah kesambet lho!” tegur Dinda pada Gilang, petang tadi.

“Bukan ngelamunlah, mbak! Adek ini lagi merenung!” sahut Gilang yang tampak terkejut dengan teguran Dinda.

“Emang apa yang adek renungin sih?!” tanya Dinda.

“Ya banyaklah, mbak! Tentang aktivitas sehari-hari yang kayaknya begini padet! Tentang apa yang adek dapetin dari semua aktivitas itu! Tentang kayak mana nguatin kegiatan ke depan!” urai Gilang.

“Wow, hebat kali perenungan adek sore ini! Nggak biasanya mau ngerenung gini, dek! Biasanya asyik aja terjebak dalam rutinitas aktivitas keseharian?!”

“Ya kan ada masa-masanyalah kita harus sempetin menyendiri buat merenung, mbak! Perenungan kayak gini kan suatu proses penyadaran diri sendiri akan apa yang kita lakuin! Kita akan terbuka dan jujur dengan diri sendiri! Jadi kita akan tau langkah terbaik ke depan, mbak!”

“Wah, emang sip bener adek mbak satu-satunya ini! Punya kreativitas pemikiran dan talenta! Terus apa yang adek dapetin dari merenung sore ini?!” ucap Dinda sambil mengelus kepala Gilang.

“Banyak, mbak! Ternyata, banyak hal yang kita anggep bener, belum tentu bener di mata orang lain! Apa yang kita nilai sudah baik, ternyata, nggak begitu dinilai orang! Dan, ternyata, tak semua senyuman yang kita dapet dari orang adalah ekspresi persahabatan!” kata Gilang dengan wajah serius.

“Filsafati bener bahasanya, dek! Dalem bener kayaknya hasil merenung ini ya? Emang apa kaitannya senyuman dengan persahabatan?! Kan emang nggak selalu seiring sejalan itu mah, dek?!”

“Ya itulah, mbak! Ternyata emang nggak bisa kita nilai dari lahiriyah semata! Biasanya kan kalo orang tersenyum sama kita berarti dia membuka persahabatan untuk kita! Ternyata nggak selalu begitu! Ekspresi lahiriyah tak selalu identik dengan suara batin! Sebaliknya, suara batin yang mendalam tak selalu terekspresikan dengan pujian, atau bahkan dengan senyuman!”

“Ah, mbak nggak ngerti dengan omongan penuh filsafat begini, dek! Yang konkret-konkret aja sih?!” sela Dinda.

“Mbak, dalam sebuah perenungan itu tak akan selalu kita temukan nilai ketransparanan dalam cakap dan lelakon! Merenung itu pada hakekatnya akan bertemu dengan nilai intrinsik dari sesuatu yang bawa kita pada era perenungan itu sendiri! Ada perdialogan batin yang amat kuat! Yang seringkali, hukum-hukum alamiah pun tak mampu menjawabnya!” kata Gilang.

“Capek mbak dengerin omongan adek ini! Nggak nyambung mbak! Begitu tinggi uraiannya!” ketus Dinda.

“Ya ginilah makna dari sebuah perenungan yang sesungguhnya itu, mbak! Nggak bisa disampein dengan bahasa yang saklek! Karena merenung itu melepaskan seluruh ego kemanusiaan kita! Memberikan kesempatan pada batin kita untuk mengoyak diri kita sendiri! Itu sebabnya, di malam menjelang 17 Agustus selalu ada agenda renungan suci di Taman Makam Pahlawan! Suatu prosesi sakral untuk menyadarkan kita bahwa pahlawan adalah sosok yang tak pernah lupa akan keseimbangan lahiriyah dan batiniyah melalui perjuangan yang dipilihnya! Maka, marilah sama-sama kita merenung; benarkah lahir batin kita sudah merdeka?! Dirgahayu Indonesia!” tutur Gilang sambil beranjak dari kursinya, seiring terdengarnya suara azan maghrib. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *