3 views

Soal Kegilaan

“WOW, hebat! Adek bener-bener bisa ngebangun tim yang solid! Luar biasa! Ini prestasi mengukir sejarah!” kata Dinda dengan wajah ceria saat menyambut Gilang di pinggir lapangan futsal, sore tadi.

“Alhamdulillah…! Terimakasih, mbak! Adek sendiri nggak nyangka kalo tim ini  bisa jadi juara!” sahut Gilang sambil membasuh keringatnya.

“Iya, luar biasa mainnya tim adek! Baru sekali ini terjadi di sekolah kita, tim futsal anak kelas VII bisa ngalahin kelas IX! Apalagi tim kelas IX itu kan baru aja jadi juara tingkat SLTP se-provinsi! Mbak bangga sama adek!” lanjut Dinda masih dengan sumringahnya.

“Iya, kami aja nggak nyangka bisa ngalahin tim kelas IX itu, mbak! Kami hanya bertekad main total! Bersemangat dan jaga kekompakan! Alhamdulillah, hasilnya amat membanggakan!”

“Emang luar biasa ini, dek! Apalagi kan mayoritas yang dimainin bukan pemain yang selama ini dikenal jago dan berkualitas! Tapi hasilnya malahan buat kejutan dan mengukir sejarah!”

“Iya emang, kami sengaja buat strategi itu, mbak!” ujar Gilang.

“Maksudnya, sengaja nggak mainin pemain yang selama ini dikenal jago dan berkualitas, gitu ya dek?!” sela Dinda.

“Iya, mbak! Emang sengaja kami buat strategi begitu! Tim kelas IX kan sudah tau persis kemampuan pemain kami yang jago dan kualitasnya gimana! Jadi, pas di final, kami turunin pemain-pemain lain! Terbukti, strategi kami tepat, mbak!” kata Gilang.

“Jadi, yang diturunin tadi pemain dengan karakter yang gimana, dek?!”

“Kami mainin pemain yang gila, mbak! Yang nggak kenal lelah ngejer bola, yang nggak takut ngehadang lawan, yang berani bertarung di lapangan! Juga yang nggak ragu-ragu dalam nendang bola ke gawang lawan!”

“O gitu ya? Jadi yang diturunin tadi pemain yang punya kegilaan, gitu ya dek?!” ucap Dinda lagi.

“Iya, mbak! Dalam situasi tertentu, dengan kondisi tertentu, kita harus berani improvisasi! Harus berani lakuin hal-hal yang out of the box! Kayak tadi, ngadepin tim kelas IX yang tangguh, nggak bisa kita mainin anggota tim yang jago gocek bola aja! Karena sudah ketauan kualitasnya! Maka, kami turunin pemain yang gila!” kata Gilang sambil tertawa.

“Jadi, kunci kemenangan tadi karena nurunin pemain yang berkarakter gila, gitu ya dek?!”

“Bener, mbak! Emang gitu! Dalam situasi atau kondisi tertentu, kegilaan itu diperlukan! Karena kita butuh ide-ide yang berbeda untuk ngebuat hidup terasa lebih hidup! Untuk ngebuat sesuatu yang beda dalam tampilan dan keyakinan!”

“Tapi kesannya kalo yang namanya kegilaan itu kan berkonotasi negatif sih, dek!” ucap Dinda.

“Ya nggak jugalah, mbak! Jangan terlampau sensitif oleh kesimpulan negatif atau positif! Sepanjang sesuai suara hati, dan mampu diekspresikan dengan baik, nyaman, aman, dan terukur, kegilaan itu hal yang baik! Yang positif, mbak! Karena dalam banyak hal, pada hidup ini, kita merluin kegilaan-kegilaan! Bukan yang yes men doang!”

“Walo dalam kegilaan tapi tetep rendah hati lho, dek? Jangan mentang-mentang karena sudah jadi juara!” nasihat Dinda.

“Insyaallah kalo itu mah, mbak! Adek sejak awal bilang dengan temen-temen, jangan pernah lupa akan jati diri! Dan selalu ingat dari mana kita berasal! Adek tebarkan pembawaan yang selalu rendah hati itu, mbak!” sahut Gilang dengan sungguh-sungguh.

“Syukur kalo gitu, dek! Sebagai kapten tim futsal, jadilah pemimpin yang rendah hati, karena akan nyaman dengan jati diri sendiri! Nggak ngerasa butuh untuk menarik perhatian!”

“Karakter paling mudah diliat dari pemimpin rendah hati itu kayak mana sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Gampang ngeliatnya, dek! Dia akan bersukacita dengan pencapaian orang lain! Memperlengkapi orang lain untuk jadi unggul! Ngizinin orang lain bersinar!” kata Dinda.

“Jadi nggak boleh nonjol dong pemimpin yang rendah hati itu, mbak?!”

“Ya nggak gitu jugalah, dek! Bukan berarti nggak boleh tampil menonjol! Tapi ia harus punya sudut pandang yang luas dan tau kapan harus tampil! Yang perlu adek inget bener; kerendahan hati adalah kesadaran kalo seorang pemimpin tidak lebih baik dari orang-orang yang dipimpin! Jadi, kegilaan yang adek mainkan dalam final tadi mesti diikuti dengan kerendahan hati! Kalo sudah begitu, baru kegilaan itu akan menjadi kenangan yang terindah!” tutur Dinda, sambil membantu Gilang membawakan sepatunya menuju mobil dan pulang. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *