1 views

Soal Keberagaman

“MBAK, kok aneh ya Idul Adha sekali ini?” kata Gilang, sore tadi.

“Aneh gimana, dek?!” sahut Dinda.

“Solat ied-nya nggak bareng sesama umat Islam! Ada yg kemarin solatnya, bahkan dua hari lalu! Kita baru tadi! Kok bisa masing-masing gitu sih, mbak? Nggak kompak banget!” lanjut Gilang.

“Oh, soal solat ied-nya to, dek?! Ya nggak apa-apa! Itu bukan masalah! Masing-masing kan punya keyakinannya sendiri! Nggak perlu diperdebatkan! Yang penting itu kan memaknai Idul Adha itu sendiri!” ujar Dinda.

“Ya tapi kan kalo masing-masing punya keyakinan waktunya sendiri, nggak bagus juga, mbak! Kok urusan nentuin lebaran aja sudah nggak kompak, gimana dengan urusan-urusan lain?!”

“Ya itulah namanya keberagaman, dek! Jdi bukan soal kompak nggak kompak! Dalam keberagaman itulah kita ini hidup! Justru dengan tetep terpeliharanya keberagaman dengan baik dan disikapi secara bijak, kita akan makin dewasa dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara!”

“Wah, mbak ngomongnya sudah kayak bahasa pejabat aja! Pake istilah keberagaman segala!” sela Gilang sambil tersenyum.

“Lho, yang mbak omongin ini beneran kok, dek! Kita sebagai manusia emang sejak awalnya sudah diskenariokan oleh Tuhan untuk beragam! Berbeda suku! Beragam adat istiadat! Beragam pemahaman! Dan sesungguhnya, keberagaman itulah hakekat kehidupan yang sesungguhnya! Maka itu, kalo ada yang ngomong soal keberagaman, ya emang biasa-biasa aja! Bukan sesuatu yang baru atau buat dikhawatirin!” jelas Dinda.

“Jadi, dalam keberagaman itulah kita bisa nyatu, begitu ya mbak?!”

“Iya, bener itu, dek! Gimana kita mau nyatu kalo nggak beragam? Kan gitu logikanya! Jadi, kalo adek liat ada perbedaan-perbedaan dalam kehidupan ini, ya nggak usah heran!”

“Emang Tuhan sejak awal skenarioin manusia itu dalam keberagaman, mbak?” tanya Gilang.

“Iya, dek! Tuhan sengaja menciptakan kita selaku manusia dalam berbagai suku bangsa! Untuk saling mengenal! Nah, pada perkataan Tuhan itu terbaca jelas kalo kita emang diciptakan dalam keberagaman! Tapi, keberagaman itu untuk  saling ngenal, saling nyatu! Bukan untuk melahirkan perbedaan terus menerus dengan alasan  mertahanin keberagaman yang ada! Kalo keberagaman dijadikan alat buat kita nggak saling ngenal dan menyatu, itu yang salah!” urai Dinda.

“Jadi sebenernya biasa-biasa aja ya kalo ada yang lebaran duluan kayak sekarang ini?!”

“Ya biasa-biasalah, dek! Justru itu dinamika atau warna dari keberagaman yang jadi hakekat kehidupan kita! Yang penting itu kan kita sama-sama bisa memaknai lebarannya! Apalagi solat ied-nya kan sunah aja! Bukan sesuatu yang wajib!”

“Terus kenapa kita baru hari ini lebarannya, mbak?!” sela Gilang.

“Ya kita ikuti saja apa keputusan pemerintah, dek! Pemimpin kita kan pemerintah, jadi ya kita ikut apa yang jadi keputusannya!”

“Kenapa harus gitu, mbak?!”

“Karena kita berpegang pada ketentuan Tuhan! Yaitu taat kepada Allah, dan taat kepada Rasul-Nya, serta taat pada pemimpin negerimu! Bahasa Alqur’annya; atiullah wa atiurrasul wa ulil amri minkum! Itu patokan kita, dek!” ujar Dinda.

“Jadi, yang lebaran duluan nggak taat dong pada pemimpin negeri?!” kata Gilang.

“Nggak bisa juga kita bilang begitu, dek! Dalam urusan ubudiyah, semua kita punya hak untuk lakuinnya kapan aja sepanjang sesuai ketentuan! Bagi yang lebaran duluan, tentu punya pertimbangan! Punya alasan-alasan juga! Begitu juga yang solat ied-nya hari ini! Itulah perlunya kita semua bisa memahami keberagaman dalam dimensi yang luas! Dalam kedewasaan dan kebijaksanaan!” urai Dinda.

“Jadi keberagaman itu nggak bakal bisa dihilangkan ya, mbak?!”

“Ya nggak bisa, dek! Sebab itu sudah skenario Tuhan sejak nyiptain Mbah Adam dan Mbah Hawa! Tapi bukan keberagamannya yang hendaknya kita tonjol-tonjolkan, melainkan saling mengenalnya! Karena hal ini nyata-nyata mengajarkan pada kita untuk bisa menyatu dan bersatu! Dan, karena keberagaman adalah hakekat kehidupan, maka jangan terlalu mudah menuding orang yang tak seide dengan kita! Yang tak mau terima pikiran kita! Yang nggak mau berteman dengan kita!”

“Jadi keberagaman itu musti kita kemas sebagai perekat kebersamaan ya, mbak!” kata Gilang.

“Bener itu, dek! Dalam keberagaman itulah kita bangun kebersamaan! Keberagaman status! Keberagaman pemikiran! Keberagaman yang lain-lain! Dan amat tak elok jika atas nama kebersamaan terus kita berangus yang namanya keberagaman! Sebab, keberagaman itu sunnatullah! Sesuatu yang memang sudah diskenariokan Tuhan bagi anak cucu Mbah Adam dan Mbah Hawa! Persoalannya; mengemas keberagaman jadi  kebersamaan itu emang nggak mudah dan butuh waktu! Disinilah kita perlu menginsyafi akan kenisbian kita!” tutur Dinda. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *