0 views

Soal Pindah

“MBAK, posisi lagi dimana ya?!” kata Gilang saat telepon Dinda, sore tadi.

“Masih di Bandara Narita, Tokyo! Baru malem nanti terbang ke Soekarno-Hatta! Itu juga pake transit di Philipina 3 jam-an! Kenapa dek?!” sahut Dinda dari seberang.

“Oh gitu..?! Bisa ngobrol sebentar kan, mbak?!”

“Ya bisalah, dek! Asal pulsa adek banyak aja! Sebab kena roomingnya lumayan lho!”

“Pulsa adek banyak kok, mbak! Nggak apa-apa kena rooming juga!”

“Emangnya ada apa sih, dek?!” tanya Dinda.

“Mau konsultasi aja sih, mbak? Temen adek minta Pendapat, adek bingung mau bilang apa?!” ucap Gilang.

“Soal apaan, dek?!”

“Temen adek itu mau pindah sekolah, mbak! Katanya dia nggak betah di sekolahan yang sekarang!”

“Lho, emang kenapa?!” sela Dinda.

“Katanya sih nggak nyaman, mbak! Sering di-bully temen sekelas! Sering diejek kakak kelas! Sering kena tegor sama guru! Jadi dia ngerasa nggak nyaman gitulah, mbak! Padahal sekolahan dia kan termasuk favorit! Suasananya juga bagus!” jelas Gilang.

“Oh gitu to! Kali temen adek aja yang lebay! Yang terbiasa dimanjain! Taunya diagung-agungin! Dapat sambutan yang selalu nyenengin! Jadi, begitu ketemu suasana beda, terus drop!” kata Dinda.

“Ya bisa juga gitu sih, mbak? Cuma kalo sudah sampai kesimpulan nggak nyaman, ya mau gimana lagi?! Jadi nurut mbak, adek dorong dia tetep pindah atau gimana?!”

“Jadi gini lho, dek! Hidup ini pilihan! Adek jajaki aja, kalo temen adek itu emang sudah keukeh mau pindah dengan alasan nggak nyaman lagi, ya sudah! Support aja! Tapi ingetin juga bahwa belum tentu di tempat yang baru nanti otomatis akan nemuin kenyamanan! Karena semua tergantung bawaan kita!”

“Maksudnya gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Sampein aja kalo adek dukung pilihannya! Pindah sekolah! Karena hal itu sesuatu yang lumrah-lumrah aja! Tapi tetap diingetin bahwa kenyamanan nggak dengan serta merta lahir karena kepindahan! Kenyamanan itu hadir lebih disebabkan oleh penerimaan kita atas segala sesuatu yang bersentuhan dengan kita!”

“Artinya nyaman nggaknya atas suatu situasi, tergantung pada penerimaan kita ya, mbak?!” ucap Gilang.

“Prinsipnya ya, begitu, dek! Dan kalo kita temui ada perpindahan kayak gini, ya nggak usah ditanggepi dengan lebay-lah! Biasa-biasa aja itu! Orang kan bisa pindah kapan aja, sesuai mau dia! Ya pindah sekolah, pindah kerja, pindah partai, dan sebagainya! Hal-hal semacam itu biasa-biasa aja!”

“Jadi soal pindah mah nggak perlu diriwehin, gitu ya, mbak?!”

“Iya, ngapain ngeriwehin orang pindah, dek! Ya biar-biar aja! Yang penting kalo buat kita, jangan sampai pindah agama! Kalo pindah dalam urusan lain, oke-oke aja! Sepanjang sudah dipertimbangkan dengan matang!” tutur Dinda.

“Oke, terimakasih, mbak! Hati-hati di jalan! Selamat sampai rumah lagi!” kata Gilang.

“Oke, dek! Amin, amin ya robbal alamin! Mbak juga ini mau pindah ruangan karena sudah waktunya boarding!” sahut Dinda sambil menutup teleponnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *