0 views

Soal Keadilan

“KENAPA muram gini wajahmu, dek? Pasti hasil ikut lomba cepat tepatnya nggak bagus ya?!” sapa Dinda saat Gilang masuk rumah, tadi petang.

“Iya, gagal tim adek, mbak! Cuma nyampe semifinal aja! Nggak adil sih jurinya?!” sahut Gilang.

“Maksudnya nggak adil gimana, dek?!”

“Jurinya keliatan tebang pilih dalam kasih pertanyaan, mbak! Pas buat tim adek, susah-susah! Gitu buat lawan, mudah-mudah! Bener kata orang ya, susah wujudin keadilan itu!”

“Yah, emang nggak mudah jadi juri itu, dek! Betapapun dia sudah bersikap adil, tetep aja bagi pihak yang ngerasa dirugiin ya nggak adil!”

“Sebenernya soal keadilan itu kayak mana sih, mbak? Ada nggak pelajaran hidupnya?!” kata Gilang.

“Ada suatu kisah melegenda di kalangan nelayan yang tinggal di kawasan Sungai Tigris! Sungai yang membelah Kota Baghdad, Irak! Tepian Ar-Rashafah dan Al-Karkh!” ucap Dinda.

“Gimana ceritanya, mbak?!”

“Ada seorang pemuda nelayan setempat yang dengan perahu kecilnya menyeberangkan orang dari Ar-Rashafah ke Al-Karkh! Itulah pekerjaannya! Suatu hari, ia menyeberangkan seorang gadis dan ibunya! Sang pemuda itu rupanya terpikat dengan gadis itu! Setiap akhir pekan, gadis dan ibunya pasti melakukan perjalanan menyeberangi Sungai Tigris!”

“Terus, mbak?” sela Gilang, penasaran.

“Ketertarikan sang nelayan pada gadis itu harus dipadamkan karena status sosial ekonomi mereka yang jauh berbeda! Kayak langit dan bumi! Alhasil, si gadis menikah dengan orang lain dan telah punya anak bayi! Tapi, sang nelayan tetap memendam hasrat! Dari ketertarikan berubah menjadi dendam!” urai Dinda.

“Lanjutannya gimana..?!” potong Gilang, tak sabar.

“Suatu hari, wanita muda itu dengan bayinya menaiki lagi perahu sang pemuda! Dendam rupanya membuat si nelayan mata gelap! Ibu dan bayinya dibunuh dalam perahu dan jasadnya dilemparkan ke Sungai Tigris!”

“Jasadnya ketemu nggak, mbak?!”

“Nggak, dek! Jasad ibu dan bayinya tenggelam di kedalaman sungai! Sang nelayan pun berganti profesi! Menghilangkan jejak! Menjadi pemotong daging di perusahaan sekitar pelabuhan tepian Sungai Tigris!” lanjut Dinda.

“Terus, soal keadilannya gimana, mbak?!” ketus Gilang.

“Sabar dong, dek! Ini baru mau masuk ke soal itu?! Suatu malam, saat pemuda itu pulang dari tempat jagalnya, dia mendengar suara orang minta tolong dari sebuah gang sempit! Buru-buru dia kesana! Ternyata, ada seorang laki-laki berlumuran darah dalam kondisi kritis!”

“Terus, mbak…?!”

“Pemuda itu mencoba menolongnya! Pisau jagalnya jatuh ke badan laki-laki itu! Berlumuran darah juga! Saat bersamaan, banyak orang datang ke tempat kejadian perkara! Maka, ditangkaplah pemuda itu! Karena hanya dia yang ada di lokasi, dan dengan pisau jagalnya yang berlumuran darah!”

“Jadi, pemuda itu akhirnya tersangka dan diadili ya, mbak?!” ujar Gilang.

“Iya, dek! Dia diadili dan divonis hukuman gantung!”

“Tapi kan bukan dia yang membunuh laki-laki itu, mbak?!”

“Saksi dan fakta di persidangan menguatkan pemuda itulah pembunuh laki-laki yang mati di gang sempit itu! Sang pemuda menyatakan di persidangan kalau pihak berwenang harus mencari pembunuh yang sebenarnya terhadap laki-laki tersebut! Dia mengakui telah membunuh wanita muda dan bayi mungilnya, yang ditenggelamkan di Sungai Tigris!” kata Dinda.

“Terus apa lagi kata pemuda itu, mbak?!”

“Dia bilang; hukuman yang dijatuhkan terhadap diriku bukanlah keadilan manusia, akan tetapi keadilan Tuhannya manusia! Jadi, dek! Dalam soal keadilan, jangan terlalu cepat menyimpulkan apalagi memvonis! Karena manusia bisa khilaf tapi Tuhan tak kan pernah salah!” sambung Dinda.

“Oh gitu ya, mbak! Bener juga ya?! Bicara soal keadilan emang kita mesti bijak! Nggak bisa semau kita aja! Tapi ngomong-ngomong, mbak bisa cerita kisah ini darimana ya? Penasaran juga adek jadinya!” kata Gilang.

“Adek beneran mau tau? Kisah aslinya ada di kitab Nasyiwar Al-Muhadharah karya Al-Qadhi At-Tunukhi! Yang mbak ceritain ini, intinya aja! Prinsipnya; keadilan itu pasti ada! Tak tau akan lewat manusia atau Tuhan! Jadi jangan pernah putus asa berharap akan adanya keadilan! Dalam dimensi kehidupan apapun!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *