Soal Santri

“NAMA santri lagi booming ya, mbak! Dimana-mana buat acara perayaan Hari Santri!” kata Gilang, sepulang sekolah, sore tadi.

“Iya, dek! Alhamdulillah! Berkat adanya Keppres No 22 tahun 2015, santri punya eksistensi yang terakui secara nasional! Dan setiap tanggal 22 Oktober ditasbihkan sebagai Hari Santri! Kita patut bangga atas adanya hari spesial buat santri ini, dek!” sahut Dinda.

“Emang lebihnya santri itu apa sih, mbak?!” sela Gilang.

“Banyak, dek! Dari suasana dan sistem pendidikannya aja beda! Lebih berat! Bukan hanya pelajaran umum tapi juga belajar ilmu keagamaannya yang lebih menonjol! Belajar kitab kuning! Hafalan Al-Qur’an, dan sebagainya!”

“Selain itu, apa mbak..?!”

“Yang pasti, sistem atau suasana belajar mengajarnya, dek! Yang namanya pondok itu pastinya lebih sederhana! Suasananya menggambarkan keprihatinan! Makan minumnya pun apa adanya! Nggak mewah-mewahan! Jam belajarnya pun padat!” ujar Dinda.

“Nggak ada istirahatnya dong, mbak?!”

“Ya tetep adalah, dek! Nggak 24 jam belajar terus! Biasanya jam 04 sudah bangun! Abis solat malem, wirid! Lanjut solat subuh! Ngaji Qur’an! Terus istirahat! Mandi dan sarapan! Masuk kelas! Belajar! Sampai dhuhur! Siangnya, belajar lagi sampe sore! Abis maghriban ngaji kitab sampe isya! Abis makan malem, belajar lagi! Tapi tetep ada waktu buat istirahat!”

“Kelebihan yang mendasarnya apa mondok dan jadi santri itu, mbak?!” tanya Gilang.

“Yang pasti ya ketaatan, kepatuhan dan keikhlasan dalam jalani apapun perintah pak kyai, dek! Perilaku ini yang amat menonjol! Nggak ada yang namanya santri berani bantah pernyataan kyai-nya! Bahkan, saat pak kyai bicara, mereka menunduk! Menatap mata pun tak berani! Yang namanya santri itu bener-bener patuh dan hormat pada kyai-nya! Dengan begitu, mereka meyakini ilmu pak kyai akan menurun dan mereka punya bekal ilmu mumpuni di semua bidang! Jadi, santri itu lebih pada unggah-ungguhnya! Lebih pada akhlaknya! Pada kelebihan ilmu keagamaannya! Pada kemampuan mensinergikan ilmu keagamaan dengan kemodernan! Bertugas mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin!” urai Dinda.

“Santri yang mumpuni dan bisa ikuti perkembangan zaman biasanya lahir dari pondok yang kayak mana, mbak? Kan pondok itu lembaga pendidikan dunia akherat?!”

“Pondok-pondok yang didirikan dengan penuh keikhlasan tentunya, dek! Yang dinawaitukan sebagai tempat mendidik kaum muda Islam! Pondok harus teguh jalani sistem pendidikan yang tawassut, tasamuh, tawajun, dan i’tidal, dek! Inilah yang bisa melahirkan santri-santri yang mumpuni ke depannya!” kata Dinda.

“Maksudnya yang kayak mana sih, mbak? Adek nggak nyambung!”

“Maksudnya pondok yang megang teguh sikap moderat, toleran, harmoni, dan konsisten, dek! Pondok yang dikelola dengan penuh keikhlasan oleh para pengasuh dan kyai-nya! Dengan adanya Hari Santri, seharusnya semua pihak yang terlibat dalam urusan pondok pesantren makin ningkatin kualitas dan kuantitas pendidikannya! Dan  yang dibutuhkan saat ini adalah kerjasama, bukan hegemoni atau utopia politik! Sebab, berpolitiknya kaum santri adalah politik kenegaraan, kerakyatan, dan etika!” tutur Dinda. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *