0 views

Soal Bendera

“MBAK, kenapa sih gara-gara bendera dibakar aja jadi ruame gini?! Emang makna sakralnya apa sih bendera itu?!” ucap Gilang tadi petang saat antri di tempat dokter gigi.

“Bendera itu lambang sesuatu, dek! Atribut kebesaran yang  dibanggakan komunitasnya! Identitas sakral bagi suatu kaum! Juga bermakna sebagai jati diri dari sesuatu! Karenanya, yang namanya bendera adalah sesuatu yang sakral! Minimal bagi komunitasnya!”

“Kayak bendera merah putih sebagai lambang negara kita ya, mbak! Jadi sakral ya!”

“Ya semacam itulah, dek! Makanya, jangan pernah memainkan bendera apapun sesuka kita! Jangan mencopot bendera penanda komunitas lain hanya karena kita bukan bagian darinya! Bahkan kalo liat ada bendera jatuh, milik siapapun itu, selayaknya kita memasangkannya kembali! Minimal ya nyingkirin dari jalan kalo jatuhnya ke jalan, agar tak diinjak orang atau kendaraan yang lalulalang!” kata Dinda.

“O gitu, mbak! Wajar ya kalo urusan bakar bendera yang terjadi di Garut beberapa hari lalu jadi perbincangan ya?!” sela Gilang.

“Wajar, dek! Karena ini bukan soal bendera yang dibakar aja! Tapi kalimat yang ada di bendera itu! Ada kalimat Tauhid tertulis di bendera tersebut! Kalimat yang amat sakral bagi umat Islam! Ironisnya lagi, yang ngebakar juga orang Islam! Maka bisa dipahami kalo soal ngebakar bendera ini jadi perhatian serius berbagai kalangan!”

“Tapi kata pelakunya yang mereka bakar itu benderanya ormas yang sudah dilarang pemerintah, mbak?!” ujar Gilang.

“Kalo pun bener itu benderanya ormas yang sudah dilarang, tetep aja nggak pas, dek! Bukan cuma karena bendera adalah kebanggaan suatu komunitas tapi juga karena adanya kalimat Tauhid di bendera tersebut! Mana kejadiannya pas perayaan Hari Santri! Wajar kalo segera menyulut beragam pernyataan keprihatinan maupun penyesalan!”

“Kan sudah ditangani polisi, mbak! Berarti proses hukumnya sudah berjalan! Seharusnya nggak perlu diramekan lagi!” kata Gilang.

“Kita bersyukur, polisi cepat bertindak, dek! Jadi tidak nimbulin berbagai kemungkinan kerusuhan! Memang,  sudah nggak perlu diramekan lagi! Tapi sebenernya ya nggak bisa ditutup begitu aja kejadian itu, dek!”

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Bahwa soal bendera bertuliskan kalimat Tauhid yang dibakar itu sudah ditangani penegak hukum, kita patut apresiasi, dek! Kerja cepat polisi ini berdampak positif! Tapi pelajaran dari kejadian ini harus kita petik! Kita semua harus makin dewasa dan bijak dalam menyikapi sesuatu, yang mungkin bagi kita hal itu kurang pas! Fanatisme harus bisa dikelola dengan jernih! Idealisme mesti dikancah dalam alur pertimbangan yang matang dalam mengekspresikannya! Karena menghargai kebanggaan antarsesama amat penting dilakukan!” jelas Dinda.

“Kalo gitu, ketimbang kita duduk aja nunggu antrian ini, yuk kita pasangin bendera partai yang jatuh itu, mbak?!” kata Gilang sambil menunjuk bendera sebuah partai yang jatuh di jalan depan tempat dokter gigi praktik.

Maka, Dinda dan Gilang pun memasang kembali bendera partai itu ditempatnya. Walau keduanya belum punya hak pilih. (¤)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *