Soal Penghargaan

“WAH, bingkai apa itu, dek..?!” sapa Dinda saat melihat Gilang pulang sekolah membawa sebuah bingkai berwarna keemasan, tadi petang.

“Bingkai penghargaan, mbak! Band sekolahan kita terpilih jadi juara favorit pada kompetisi minggu lalu! Ini diluar dugaan sebenernya! Alhamdulillah tetep dapet penghargaan walo nggak juara beneran!” ucap Gilang dengan wajah semringah.

“Alhamdulillah ya dek! Walo cuma dapet penghargaan sebagai juara favorit, tapi itu ngebanggain! Setau mbak, di kompetisi tahun lalu nggak ada juara favorit itu lho! Jangan-jangan ini mendadak diadain oleh panitia karena ngehargai perjuangan dan penampilan adek sama temen-temen aja!”

“O gitu, mbak..?! Beneran tahun kemarin nggak ada juara favorit ya?!” celetuk Gilang.

“Seinget mbak sih nggak ada, dek! Tahun lalu kan mbak yang mentas! Vokalis band sekolah kita kan mbak!”

“Iya juga ya?! Kok sekarang ada penghargaan buat juara favorit ya, aneh juga ya, mbak?!”

“Mungkin emang panitianya sudah ngembangin polanya, dek! Nambah penghargaan bagi peserta kompetisi dengan sebutan juara favorit! Kan malah bagus jadinya!” ujar Dinda.

“Bener juga sih, mbak! Dengan makin banyak penghargaan yang dikasih, makin termotivasi orang untuk nunjukin kemampuan terbaiknya!” kata Gilang.

“Iya, tapi jangan lupa, penghargaan kayak gini bukan buat pribadi lho, dek! Ini penghargaan buat tim band! Buat nama sekolah! Buat para siswa-siswi di sekolah! Dan yang jangan dilupain, penghargaan ini juga buat para penonton! Sebab, juara favorit itu kan salah satu penilaiannya pasti ngeliat dari antusiasme penonton waktu adek sama temen-temen mentas!”

“O gitu to, mbak? Emang applaus penonton juga kasih pengaruh ya?!”

“Ya pastinyalah, dek! Mau penonton itu aktif atau pasif, keberadaan mereka bawa pengaruh! Maka itu, jangan pernah sombong karena sebuah penghargaan! Jangan ngerasa apa yang didapet itu dari hasil kerjanya sendiri! Sebab, tak ada penghargaan apapun yang tanpa melibatkan orang lain! Baik secara langsung maupun tidak langsung!”

“Kalo gitu, penghargaan yang diterima beberapa bupati karena daerahnya meraih penilaian wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Menteri Keuangan atas keberhasilan menyusun dan menyajikan laporan keuangan tahun 2017 itu sebenernya bukan buat pribadi dong, mbak?! Penghargaan itu juga kan berkat kerja kolektif?!” sela Gilang.

“Pastinya ya gitulah, dek! Nggak mungkin bupati kerja sendirian! Apalagi ngopenin soal laporan keuangan! Tapi, itu prestasi sekaligus prestise bagi bupati yang daerahnya dapat WTP, dek!” ujar Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Iya, dengan meraih penghargaan WTP itu bukti nyata seorang bupati mampu membina jajarannya dengan baik! Kepemimpinannya bisa jalan dengan sistemik! Itu prestasi dan prestisenya sebagai pemimpin! Penghargaan semacam itu akan mengangkat moral jajarannya untuk terus berbuat yang terbaik ke depannya! Yang dampak positifnya akan terus terjadi peningkatan kesejahteraan bagi masyarakatnya!” urai Dinda.

“Kalo yang nggak dapet penghargaan kayak mana, mbak?!”

“Bagi yang belum dapet, ya bersyukur aja! Karena punya kesempatan untuk lebih concern dalam jalankan pola kepemimpinannya! Dan yang perlu diinget, nggak ada penghargaan yang didapet dengan ujug-ujug! Semua melalui proses! Persoalannya; apakah dengan penghargaan tersebut akan buat bupati-bupati hebat itu jadi lupa diri ataukah bisa mengemasnya sebagai tambahan semangat menuju kasampurnaning dumadi! Kesempurnaan dalam hidup!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *