Soal Sedekah

“DEK, kok mainnya jelek bener gitu sih? Padahal lawannya tadi kan jauh dibawah kemampuan tim adek?!” kata Dinda pada Gilang saat di mobil sepulang sekolah, sore tadi.

“Kami lagi nggak fresh, mbak! Banyak yang masih capek juga! Makanya nggak bagus mainnya tadi!” ucap Gilang.

“Tapi kan sebenernya tetep bisa mainkan strategi beda dengan fisik yang lagi nggak fit gitu, dek? Tadi keliatan bener tim adek kocar-kacir nggak karuan ngadepin serangan lawan! Padahal, tim futsal yang jadi lawan itu sudah sering dikalahinkan?!”

“Ya, sebenernya kami bisa aja ngalahin mereka, mbak? Cuma adek dan temen-temen sepakat untuk ngalah?!” sela Gilang.

“Lho, kok malah sepakat untuk ngalah to, dek? Dimana-mana yang namanya pertandingan itu -kalopun ada kesepakatan- ya meraih kemenangan! Bukannya sepakat untuk kalah?! Kok aneh gitu mikirnya!” kata Dinda.

“Inilah seninya sisi lain kehidupan itu, mbak! Nggak semua pertandingan mesti dimenangkan! Ada kalanya sengaja ngalah!” sahut Gilang sambil tersenyum.

“Terus maksudnya apa dengan pilihan ngalah itu? Mbak nggak nyambung, dek! Nggak paham mbak dengan logika berpikir kayak gitu?!”

“Pilihan sengaja ngalah itu buat nyenengin tim lawan, mbak! Kan nyenengin orang lain itu dapet pahala! Kalo bahasa temen-temen tadi; mari kita bersedekah dengan kasih kemenangan buat mereka! Biar mereka seneng! Bahagia dan bangga! Kita dapet pahala! Jadi, buat tim adek, pertandingan tadi itu lahan cari amal shaleh!” urai Gilang masih sambil tersenyum.

“Aduh, adek! Namanya sedekah itu ya nggak kayak gitulah! Banyak cara lain buat bersedekah! Bukan dengan pola itu?!” sela Dinda, terheran.

“Mbak yang mesti mendinamiskan pemahaman dan akselerasi dalam soal bersedekah! Intinya kan gimana niatnya aja! Nyenengin orang dengan berbagi! Sepanjang nilainya positif, kan begitu?! Jadi jangan saklek-saklek amatlah! Kita selaraskan dengan situasinya aja! Berpikir dan bertindak out of the box kan nggak apa, selama bermanfaat!” jelas Gilang.

“Tapi ya nggak gitu jugalah, dek! Beramal shaleh emang perlu! Namun polanya jangan nganeh-nganeh!”

“Kalo soal pola, jangan didebatin, mbak! Karena bukan itu intinya! Beramal shaleh itu kan bagian sakral dari kebutuhan manusia!”

“Maksudnya gimana, dek?!”

“Manusia itu, kita-kita ini kan terdiri dari tiga unsur; akal, jasad, dan ruh! Yang masing-masing punya kebutuhan!” ucap Gilang.

“Coba adek jelasin gimana kebutuhan masing-masing unsur itu?!”

“Kebutuhan akal adalah tadabur, membaca dan menganalisa! Kebutuhan jasad adalah makan, minum, dan istirahat! Sedang kebutuhan ruh adalah amal shaleh! Nah, terkait sama kebutuhan ruh itulah kami bersepakat untuk bersedekah dalam pertandingan tadi dan ngalah, mbak!”

“Kenapa mesti ngalahnya di pertandingan dengan lawan yang lebih lemah?!” ujar Dinda.

“Yang namanya sedekah itu kan pada sesuatu yang lebih lemah dari kita, mbak? Bukan pada yang lebih kuat dari kita?! Dan segala sesuatu itu ada waktunya! Sa’atan-sa’atan kalo bahasa Arabnya!” kata Gilang.

“Nurut adek dan temen-temen, waktu buat bersedekah yang pas di pertandingan tadi ya?!”

“Iya, mbak! Kan pas hari jumat, hari yang penuh barokah! Sekaligus ngebangun semangat tim lawan untuk ke depannya bisa lebih hebat lagi! Jadi, dalam bersedekah itu ada nilai kemakhlukan dan ke-Ilahian! Jangan kita ribet dalam urusan polanya! Sudah terlalu lelah kita oleh perdebatan tiada akhir dalam soal pola, yang akhirnya buat kita nggak jadi meraih amal shaleh dengan bersedekah!” tutur Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *