41 views

Petugas Tiket LF Arogan

HARIANFOKUS. com – Sukses besar yang diraih panitia Lampung Fair (LF) 2018 tercoreng di malam penutupan, Sabtu (27-10) malam. Petugas yang melayani pembelian tiket pengunjung, bersikap arogan.

Petugas pria itu memaksa pembeli tiket membayar dengan uang pas. Tak peduli calon pengunjung telah antri cukup lama untuk sampai ke depan tempat pembelian tiket.

Sikap arogan petugas yang bertugas sekitar pukul 20.00 itu tak urung membuat beberapa calon penonton, kecewa. Salah satunya seperti yang disampaikan Gilang.

ANTUSIASME pengunjung ke LF 2018 memang cukup tinggi. Semua stand dan penjaja makanan sesak oleh masyarakat yang mencari hiburan di Sabtu (27-10) malam.

Warga Perumahan Korpri, Sukarame, Bandarlampung, ini menjelaskan setelah antri sekitar 20 menit di depan tempat pembelian tiket, terpaksa ia lebih lama lagi mendapatkan tiket masuk LF akibat perilaku arogan petugasnya.

“Saya mau beli 2 tiket. Saya pegang uang Rp 50.000. Petugas itu minta uang pas. Dengan alasan belum ada kembalian. Padahal, di kiri kanannya kan ada petugas lain, yang pasti pegang uang untuk cukupi kembalian. Karena penolakan petugas itu, terpaksa orang lain yang diduluin oleh petugas itu,” kata Gilang.

Karena menunggu beberapa lama tak juga petugas tersebut mau menerima uangnya, dengan alasan tak ada kembalian, meski telah banyak pembeli tiket yang membayar, Gilang terpaksa keluar barisan antrian. Dia menemui orang tuanya dan meminta uang pas, Rp 20.000.

“Mau nggak mau, saya antri lagi. Dan setelah saya kasih uang pas, baru petugas itu mau berikan tiket untuk masuk LF,” ujar Gilang.

KALANGAN pejabat Bapenda Lampung tetap semangat datang ke stand sampai malam penutupan LF, Sabtu (27-10) malam.

Ternyata bukan Gilang saja yang menemui pengalaman serupa. Beberapa pengunjung di malam terakhir LF pun menyatakan hal yang sama.

“Bener itu, penjual tiket masuk LF banyak yang sok-sokan. Apa karena kami pasti beli tiket maka diperlakukan seenaknya aja,” kata Chandra, warga Metro, yang datang ke arena LF di PKOR Way Halim bersama istri dan dua anaknya.

Sama seperti yang dialami Gilang, Chandra pun menyerahkan uang Rp 50.000 untuk membeli 4 tiket.

“Dengan alasan nggak ada kembalian, saya harus antri lagi. Padahal di tempat pembelian tiket itu kan banyak petugasnya. Uangnya kan banyak. Bisa saling silang antar mereka demi melayani pengunjung. Ini kok arogan dan saklek bener. Untung kami dateng di malem penutupan, jadi nggak bakalan balik lagi. Kami kecewa dengan perilaku petugas tiket,” beber Chandra.

Lokasi pembelian tiket pun dinilai Gilang tidak strategis.

“Dan terkesan alakadarnya saja. Kalau panitianya bergengsi, mestinya kan bisa dibuat yang bagus dan tertata rapih. Ini kan nggak. Bahkan banyak pengunjung yang kejeblos masuk selokan setelah beli tiket, karena jembatannya nggak bagus,” imbuh dia.

Ironisnya, setelah tiket diserahkan ke tempat pemeriksaan, petugas yang merobek tiket pun hanya menjatuhkan tiketnya ke tanah. Pun tak disediakan tempat khusus bagi pengunjung yang akan membuang tiketnya setelah melalui pintu pemeriksaan. Akibatnya, di pintu masuk, bekas tiket bertaburan di tanah. Menjadikan kawasan itu kotor dan kumuh.

Namun, dibalik itu semua, mayoritas peserta LF 2018 tetap antusias sampai malam penutupan, Sabtu (27-10) malam.

Menurut pantauan, hampir semua OPD di lingkungan Pemprov Lampung masih aktif dengan aktivitas pamerannya. Banyak pejabat yang juga hadir di stand mereka.

Seperti yang terlihat di stand Bapenda Lampung, Dinas Perdagangan Lampung, maupun Dinas Pendidikan Lampung. Antusiasme pengunjung juga mencapai puncaknya di malam penutupan LF yang dinilai banyak kalangan lebih semarak dibandingkan tahun sebelumnya. (win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *