21 views

Soal Karakter

“MBAK, temen adek satu kelas kan punya kakak, juga di sekolah kita! Tapi kok beda banget ya?!” kata Gilang saat pulang sekolah, sore tadi.

“Beda gimana maksudnya, dek?!” sahut Dinda.

“Kalo yang temen adek satu kelas, bawaannya kasar! Lebih sering marahnya ketimbang ngomong baik-baik! Nggak mau tau dengan kepentingan temen lain! Pokoknya kalo dia pengen apa, ya harus diladeni! Kalo kami diem aja, dia pasti marah-marah! Sambil gebrak-gebrak meja juga!”

“O gitu, terus kalo yang kakaknyaa gimana?!”

“Kalo kakaknya, baik, mbak! Sering senyum! Ramah juga santun! Mau menyapa dan ngobrol-ngobrol dengan kami sebagai adek kelasnya! Malah kakaknya sering minta maaf ke kami kalo ada kelakuan adeknya yang nyebelin!” ucap Gilang.

“Beda banget ya, dek?! Kayak langit dan bumi gitu ya? Padahal mereka itu kakak adek sekandung kan?!” tanya Dinda.

“Iya, sekandung, mbak! Tapi kok beda banget bawaannya ya?! Aneh juga ya?!”

“Masing-masing kita kan punya karakter, dek! Kepribadian! Dimana karakter itu bukan dilahirkan, tapi dibentuk! Dan kalo menurut Heraklitus -seorang psikolog-, karakter seseorang akan memengaruhi nasib orang tersebut!” ucap Dinda.

“O gitu, tapi kok beda bener karakter kakak sama adeknya ya, mbak?! Biasanya kan, walo ada beda -dan pasti ada beda- tapi ya nggak banget-banget gitulah! Kalo ini mah ya seperti mbak bilang tadi; kayak langit dan bumi!”

“Banyak faktor yang memengaruhi karakter seseorang itu, dek! Mulai dari lingkungan terdekat; kayak orangtua, kakak maupun adek, temen-temen di sekolah, sampai ke pergaulan di luar sekolah! Termasuk status sosial ekonomi saat anak tersebut dilahirkan, juga bisa berpengaruh pada karakter seseorang!”

“Jadi banyak faktornya ya, mbak! Terus pengaruh gen bawaan orangtuanya masih tetep berperan nggak, mbak?!” kata Gilang.

“Iya, dek! Banyak faktor yang memengaruhi karakter seseorang itu! Anak yang lahir di saat orangtuanya dalam status ekonomi biasa-biasa aja dengan anak yang lahir ketika orangtuanya sudah berpunya, pasti akan beda!”

“Bedanya gimana, mbak?!” sela Gilang.

“Anak yang lahir di saat orangtuanya masih hidup pas-pasan, hampir bisa dipastikan karakternya akan lebih pendiam! Kurang pede dan pesimistis! Lebih nrimo! Beda dengan anak yang lahir saat orangtuanya sudah berpunya! Apalagi berpangkat setingkat kepala daerah! Akan lebih ceria, lebih pede dan optimistis! Tentu itu positif, dek! Celakanya, kalo nggak diasuh dengan baik akan menjurus pada karakter terbiasa meremehkan orang lain! Selalu merasa dirinyalah yang benar! Selalu minta dilayani! Ini yang biasa terjadi, dek! Tentu tetep ada pengecualian-pengecualian! Karena betapapun, pengaruh gen orang tua teteplah dominan! Ditambah pola pengasuhannya!” urai Dinda.

“O gitu ya, mbak! Berarti nggak mudah juga kita mesti pahami karakter orang ya?!” ujar Gilang.

“Kalo soal itu sih tinggal gimana kita aja, dek! Kalo dibawa mudah, ya gampang aja mahami karakter seseorang! Tapi kalo dibawa berat, ya sulit buat mahaminya! Sebab, meski mayoritas kita selaku anak manusia punya karakter sama tapi tetep mesti kita pahami pula kalo masing-masing kita punya perbedaan! Disinilah seninya kita berinteraksi itu antarsesama itu, dek!”

“Kalo soal karakter seseorang akan memengaruhi nasib orang tersebut yang mbak bilang tadi itu, maksudnya gimana?!”

“Mbak ngutip pernyataan psikolog bernama Heraklitus aja itu tadi, dek! Bukan pendapat mbak! Maksudnya pembawaan atau karakter seseorang akan berdampak pada nasibnya! Banyak contohnyalah, dek!”

“Kasih satu contoh aja, mbak?!” kata Gilang.

“Contohnya temen adek di kelas yang bawaannya banyak marah ketimbang berbaik-baik itu! Kan nggak ada yang mau deket sama dia! Jadilah dia terkucil dari lingkungan kelasnya sendiri! Akibat karakternya yang ngedepanin sikap tinggi hati! Mestinya adek dan temen-temen sekelas mau mengajaknya membaur, biar perlahan karakternya akan berubah! Menjadi lembut, tepo seliro, dan murah senyum!” tutur Dinda.

“Emang bisa berubah karakternya kalo kita berbaik-baik dengan temen itu, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya bisalah, dek! Karakter itu kan bukan dilahirkan! Tapi dibentuk! Sesuatu yang dibentuk itu pasti bisa diubah! Persoalannya; sering kali kita sendiri nggak tau gimana karakter kita yang sesungguhnya, dek! Sementara kita paling suka ngevaluasi karakter orang lain hanya karena adanya perbedaan! Padahal, beda itu sunnatullah!” ujar Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *