8 views

Soal Keinginan

“MBAK ekstra bener belakangan lesnya! Sampe kayak nggak ada istirahatnya lagi!” ucap Gilang saat mengantar Dinda ke tempat les, sepulang sekolah sore tadi.

“Mbak kan tahun ini sudah mau ujian, dek! Jadi ya harus ekstra belajarnya! Temen-temen deket mbak juga kan bersemangat tinggi buat belajar, jadi mbak dapet suplemen semangat juga!” kata Dinda.

“Itu bagus, mbak! Bersemangat tinggi! Tapi tetep jaga kondisi lho? Kan capek bener! Berangkat sekolah pagi-pagi! Pulang sore langsung lanjut les! Balik-balik ke rumah sudah malem! Kalo nggak pinter-pinter kiatin ngatur kapan makannya, bisa drop fisik mbak nanti!”

“Insyaallah terjaga fisik mbak mah, dek! Mbak tetep bisa atur waktu kok! Kapan makan dan solat! Juga kapan kasih kabar ke mama dan buya! Yang pasti, keinginan mbak buat lulus dengan nilai bagus itu yang selalu bergelora! Dan itu cuma bisa diraih kalo maksimal belajarnya! Jadi ya harus les disana-sini biar lebih mantep!” ujar Dinda sambil tersenyum.

“Bagus, itu bagus, mbak! Keinginan atau ambisi itu positif emang! Dorong kita buat terus terpacu untuk maju! Tapi jangan ambisius, mbak! Apalagi sampe nggak terkendali! Nanti pas apa yang jadi target nggak kesampean, kecewanya setengah mati!” kata Gilang.

“Insyaallah mbak tetep terkendali dalam wujudin keinginan, dek! Mbak akan tetep fair dalam meraihnya! Semua kita kan pasti punya keinginan, dan mbak sadar bener kalo tak semua keinginan kita bisa terwujud!”

“Bagus kalo gitu, mbak! Sebab kalo keinginan tak terkendali, bisa bahayain diri sendiri! Karena sudah jadi bawaan manusia manakala berhasil meraih satu keinginan akan lahir lagi keinginan yang baru! Begitu terus dan berlanjut sampe ajal menjemput!”

“Jadi, keinginan pun mesti berfase-fase ya, dek?!” tanya Dinda.

“Iya, mbak! Karena itu, dalam hal keinginan harus tetep terkendalikan! Perasaan, alam pikir, dan kesadaran akan kenisbian kita sebagai makhluk! Pengendalian itu terpusatkan pada satu kunci; meraih posisi penghuni surga nantinya!” kata Gilang.

“Maksudnya gimana sih, dek? Kok larinya langsung ke urusan surga?!” sela Dinda.

“Apapun yang kita lakuin di dunia ini kan proses alamiah yang akhirnya akan bertemu pada satu titik, mbak! Surga atau neraka! Jadi, keinginan yang ada adalah fase demi fase yang emang mesti dilewati buat rasain hidup yang hakiki! Itu sebabnya mbak pengen dapetin nilai bagus pada ujian nanti! Abis itu pengen kuliah dan diwisuda dengan nilai bagus juga! Pengen kerja di tempat yang bagus! Kan gitu keinginan perjalanan hidup, mbak! Yang jangan dilupain, Tuhan nggak wujudin semua keinginan kita! Dia akan berikan hal-hal yang sesuai kebutuhan kita! Maka, pengendalian dalam keinginan itu diperluin! Biar nggak kebablasan!” urai Gilang.

“Haduuuh, nggak nyambung deh mbak sama penjelasan adek ini! Pake bahasa yang mudah dicerna aja sih, jangan yang berfilsafah begitu?!”

“Gini aja deh, mbak! Adek ceritain sebuah kisah ya?!”

“Nah, gitu kali lebih enak mahaminya, dek?!” sela Dinda.

“Saat Umar bin Abdul Azis masih jadi Gubernur Madinah, dia punya sahabat akrab! Kalo zaman sekarang ya orang kepercayaan gitulah, mbak! Namanya Raja’! Suatu hari, diutusnya Raja’ beli kain ke pasar! Dibelikanlah kain seharga 500 dirham! Saat melihat kain tersebut, Umar bilang; kain ini bagus, cuma harganya terlalu murah!” Gilang memulai cerita.

“Lho, kan Umar bin Abdul Aziz itu khalifah, dek! Bukan gubernur?!” ucap Dinda.

“Setelah gubernur di Madinah, dia emang jadi khalifah, mbak! Jabatannya berjenjang! Nah, waktu Umar jadi khalifah, lagi-lagi dia nyuruh Raja’ beli kain!”

“Beli kain lagi, buat apa?!”

“Ya nggak tau buat apa, mbak! Dikisahkannya begitu! Maka dibelilah kain oleh Raja’ sesuai pesan Umar! Waktu itu Raja’ sudah diangkat jadi menteri, mbak! Saat menerima kainnya, Umar bilang; kain ini bagus, tapi harganya terlalu mahal! Spontan Raja’ nangis denger apa yang dibilang Khalifah Umar itu, mbak!”

“Lho, kenapa dek?! Dia ngerasa salah beli ya?!”

“Bukan gitu, mbak! Ternyata Raja’ inget ucapan Umar waktu masih jadi gubernur yang bilang kainnya bagus tapi harganya terlalu murah! Kok sekarang sudah jadi khalifah, dibelikan kain yang sama, malah bilangnya terlalu mahal! Itu yang buat dia bingung dan akhirnya nangis!”

“Terus kelanjutannya gimana, dek?!” kata Dinda.

“Melihat Raja’ nangis, Umar bin Abdul Aziz pun buka rahasia! Dia bilang begini; wahai Raja’, sesungguhnya aku punya jiwa yang memiliki keinginan! Setiap kali aku wujudkan suatu keinginan, maka aku punya keinginan yang lebih tinggi! Jiwaku pernah ingin nikah dengan putri pamanku, Fathimah binti Abdul Malik, maka aku menikahinya! Jiwaku pernah inginkan kekuasaan, maka aku jadi gubernur! Jiwaku pernah inginkan khilafah, jadilah aku khalifah! Sekarang, wahai Raja’, jiwaku inginkan surga, maka aku berharap jadi penghuni surga! Gitu kata Umar pada Raja’, mbak!” jelas Gilang.

“Sedalem itu ternyata gelora keinginan itu ya, dek! Moga-moga kita bisa ngejaga keinginan dengan tulus dengan akhir yang baik juga ya?!” tutur Dinda, dan kemudian turun dari mobil untuk masuk ke ruangan lesnya. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *