Soal Kepastian

“NGOYO amat latihannya sih, dek! Selalu pulang dari sekolahan sudah malem karena rutin latihan gini! Emang sudah pasti jadi pemain inti tah di turnamen nanti?!” kata Dinda saat melihat Gilang masuk rumah karena latihan futsal dulu.

“Ya jadwal latihannya emang padet gitu, mbak! Mau nggak mau ya adek harus ikutinlah! Konsekuensi dari pilihan adek mau jadi pemain futsal!?” ucap Gilang sambil membuka sepatunya.

“Tapi kan mestinya nggak setiap hari ginilah, dek!”

“Ini latihan rutin kan karena mau ngadepin open turnamen nanti, mbak! Minggu depan mulai tandingnya! Pelatih nargetin kami juara! Makanya diforsir latihannya!”

“Emang adek pasti kepilih jadi pemain inti?” tanya Dinda.

“Kalo sudah ngomong soal kepastian, adek nggak berani jawab, mbak!” sela Gilang.

“Kenapa emangnya? Itu nandain adek nggak pede dong?!”

“Nggak gitulah, mbak! Kepastian itu cuma milik Tuhan! Hak Sang Penguasa buat mastiin itu! Jangan coba-coba kita rebut walo sedikit pun hak itu, mbak! Bisa salah kaprah kita nanti!” kata Gilang.

“Maksud mbak nggak sejauh itulah, dek! Dalam perjuangan itu kan perlu keyakinan! Perlu kemantapan! Optimisme! Nah, adek gimana? Yakin nggak bisa masuk pemain inti dari tim futsal ini?!”

“Ya kalo optimis, pastinyalah, mbak! Maka adek ikuti latihan rutin ini dengan serius! Cuma kalo soal kepastiannya bakal masuk pemain inti apa nggak, adek nggak berani jawabnya! Yang penting adek ikuti aja prosesnya dengan baik! Soal hasilnya nanti gimana, ya biar Tuhan yang mutusin!” ucap Gilang.

“Kenapa kayaknya adek takut bener ngomong soal kepastian sih?!”

“Karena itu bukan ranah kita sebagai makhluk, mbak! Itu sudah urusannya Tuhan! Jadi bukan soal takut atau berani! Tapi penempatan diri aja!”

“Emang ada cerita yang mengaruhi adek ya terkait soal kepastian itu?!” tanya Dinda.

“Secara langsung sih nggak, mbak! Tapi pernah adek baca buku yang ceritain soal kepastian! Maka buat adek terus belajar bisa baik-baik nempatin diri!”

“Bisa adek ceritain nggak kisahnya?!”

“Bisalah, mbak! Ada keluarga yang hanya terdiri dari ibu dan anak laki-lakinya! Suatu hari, sang anak pamit mau keluar kota! Tugas kantor! Kebetulan, ibunya nonton TV dan ikuti acara ramalan cuaca! Dimana disampein kalo besok cuaca sangat mendung! Awan tebal dan hujan lebat! Si ibu khawatir kalo anaknya jadi berangkat dengan pesawat!” ujar Gilang.

“Terus apa yang dilakuin si ibu itu, dek?!”

“Anaknya kan pesan supaya dibangunkan beberapa jam sebelum jadwal terbangnya! Karena kekhawatiran terjadi apa-apa dengan sang anak, ibu itu sengaja nggak ngebangunin anaknya sesuai yang dipesenin!”

“Maksudnya biar apa, dek?!”

“Biar nggak jadi berangkat, mbak! Pas dihitungnya sudah bakal terlambat sampe bandara, barulah si ibu ke kamar anaknya! Maksudnya mau ngebangunin! Toh, kalo pun cepet-cepet jalan ke bandara juga nggak bakal keuber pesawatnya! Tapi alangkah kagetnya si ibu saat bangunin anaknya!”

“Apa yang terjadi, dek?” sela Dinda, penasaran.

“Ternyata anaknya nggak bangun-bangun lagi! Sang anak sudah meninggal, mbak! Ini cerita soal kepastian itu! Bahwa hanya Tuhan yang berhak soal kepastian! Si ibu karena takut anaknya kenapa-kenapa dalam penerbangan dengan cuaca nggak bagus, akhirnya malah kehilangan sang anak!”

“Astaghfirullah…! Bener juga kata orang ya, dek; kita berhak merencanakan, Tuhan punya kehendak memastikan! Sekarang mbak paham kenapa adek nggak berani jawab soal kepastian! Karena itu sepenuhnya milik Tuhan!” tutur Dinda sambil menepuk-nepuk bahu Gilang. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *