13 views

Soal Keira

“PULANG nonton film kok nggak ceria gitu sih, mbak? Nggak sambil makanin popcorn kesukaan ya?!” ucap Gilang saat menyambut Dinda di depan rumah, sore tadi.

“Nggak bagus cerita filmnya, dek! Nggak ada yang bisa diambil jadi pelajaran kehidupan! Dibilang film mistik bukan, disebut film yang promosiin objek wisata juga jauh! Disebut film hiburan juga nggak jelas alurnya! Pokoknya jauh dari film-film biasanya deh!” sahut Dinda sambil menghabiskan sisa-sisa popcornya.

“Emang filmnya apa sih, mbak?!”

“Judulnya Keira, dek! Mbak kan diajak mama nonton tadi itu! Katanya film itu lagi jadi trending topik di kalangan temen-temen mama! Para orang kantoran! Emang sih, ada Om Ridho juga! Muncul sebagai Komandan yang dilapori kejadian pembunuhan misterius! Om Ridho kasih perintah buat segera dituntasin! Tapi sudah! Nggak jelas lanjutannya! Pun muncul Bunda Reihana! Sebagai dokter yang sempet liat kondisi Keira waktu dirawat di RSBNH! Sekelebat aja! Selain itu, ditongolin beberapa objek wisata di Pesawaran! Nggak disebutin dimana-mananya! Itu juga selintas aja! Kalo ceritanya sendiri malah nggak jelas, dek!”

“Kalo gitu ini film emang bukan ngejual ceritanya, mbak! Tapi Om Ridho dan adanya Bunda Reihana itu! Makanya jadi bahasan di kalangan temen-temen mama sesama orang kantoran! Ya kalo mbak ngarepin ceritanya bagus, salah nonton film emang!” kata Gilang.

“Tapi biasanya kan yang namanya film itu alur ceritanya tetep harus bagus, dek! Terlepas dibaliknya ada promosi objek wisata atau munculin pejabat sebagai tokoh di film itu! Karakteristik sebagai tontonan jenis apa juga tergambar! Misalnya kayak film Filosofi Kopi itu! Kalo film Keira ini nggak jelas ceritanya, dek! Ditambah pemainnya yang dikenal masyarakat cuma Ray Sahetapi dan Djenar Maesa Ayu! Selebihnya, orang-orang baru yang nggak dikenal! Mainnya pun alakadar aja!” ucap Dinda.

“Emang ceritanya gimana sih, mbak?!”

“Si Keira ini punya trauma masa lalu yang menakutkan! Ayahnya yang minta pesugihan ke air terjun! Tumbal pun berjatuhan! Keira sendiri kesusupan beberapa makhluk halus! Sering buatnya nggak sadar apa yang dilakuin sampe berhari-hari! Kekosongan batinnya disesaki oleh bisikan dan perilaku mistis! Sadistis! Pembunuhan berantai dialami awak kru film yang minta bantuannya ngenalin tempat shoting di pantai-pantai di Lampung!” urai Dinda.

“Terus gimana lagi, mbak?!” sela Gilang, penasaran.

“Ya, akhirnya Keira lepas dari kekuasaan mistis di badannya, dek! Bukan karena diobati dokter! Tapi oleh adanya rasa cinta di hatinya pada bekas temen SD-nya yang jadi kru film! Gunawan!”

“Kok bisa sesederhana itu obatnya ya, mbak?!”

“Namanya juga film dengan alur cerita yang tak jelas karakteristiknya, dek! Jadi ya bisa pake apa aja sebagai ending-nya!”

“Tapi dari urusan mistis kok sembuh karena rasa cinta, kan nyeleneh bener, mbak?!”

“Namanya juga film, dek! Terserah sutradara dan penulis naskahnya aja! Lagian, yang mbak yakini, cinta adalah rahmat dan anugerah! Yang hukum-hukum alami pun tak mampu menerjemahnya dengan lugas!” kata Dinda.

“Makna cinta yang mbak yakini itu nggak salah! Dan itu pendapat Kahlil Gibran! Kalo kata BJ Habibie; cinta adalah suatu keadaan yang memungkinkan satu tambah satu tambah satu bukan tiga, tetapi satu tambah satu tambah satu menjadi tiga puluh, tiga ratus, tiga ribu, tiga juta, sampai tak terbatas! Gitu katanya di buku The Power of Ideas! Kalo film Keira nurut mbak the power-nya dimana?!”

“The power-nya film Keira? Ya cuma ditampilinnya Om Ridho dan munculnya sekelebat Bunda Reihana doang, dek! Selebihnya; no ideas!” tutur Dinda sambil membuang tempat popcornnya ke kotak sampah. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *