16 views

Soal Keira 1

“DEK, mbak dapet banyak komplain gara-gara komentari soal film Keira lho! Mbak dianggep nggak ngehargai kinerja Om Ridho sebagai gubernur dalam ngembangin dunia seni!” kata Dinda sore tadi sambil buka gadgetnya.

“Emang apa aja komentarnya, mbak?” tanya Gilang.

“Banyak, dek! Panjang dan lebar! Tapi yang nyesekin ati ya itu! Mbak dibilang nggak ngehargai kinerja Om Ridho dalam ngembangin dunia seni, khususnya seni perfilman yang promosiin daerah! Dibilang mbak nggak paham kalo Om Ridho itu wujudin falsafah kepemimpinan yang disebut gaugana hasta!”

“O gitu! Emang mbak tau apa falsafah kepemimpinan gaugana hasta itu?!”

“Mbak nggak tau dan emang nggak paham apa itu falsafah kepemimpinan yang disebut gaugana hasta, dek?!” aku Dinda.

“Gaugana hasta itu satu dari tujuh falsafah kepemimpinan yang diterapin Sultan Agung saat mimpin Kerajaan Mataram dulu, mbak! Itu bagian dari apa yang disebut Serat Sastra Gendhing! Salah satu falsafah kepemimpinan versi Jawa! Selain Hasta Brata dan beberapa lainnya!” kata Gilang.

“Terus, maksudnya falsafah gaugana hasta itu emang apa, dek?!”

“Pengertian gaugana hasta itu seorang pemimpin harus kembangin seni sastra, seni suara, seni tari, dan lain-lain! Pokoknya dunia senilah! Nah, seiring perkembangan jaman, perfilman juga masuk dalam dunia itu, mbak! Gitu maksudnya!”

“Oalah, gitu to maksudnya! Mbak kan nggak komentar minus soal tampilnya Om Ridho di film Keira ya, dek! Justru mbak nilai, yang dijual dari film itu ya dimunculkannya Om Ridho! Plus berkelebatnya Bunda Reihana! Jadi mbak terang-terangan ngehargai kinerjanya dalam ngembangin dunia seni! Emang jujur mbak bilang: kalo soal alur ceritanya, nggak menarik! Nggak jelas alurnya! Mbak rasa, semua penikmat film, juga nggak jauh-jauh dari apa yang mbak nilai abis nontonnya! Dan itu sah-sah aja! Kenapa mbak dikomentari kayak gitu ya?!” urai Dinda panjang lebar.

“Emang, nggak semua maksud baik kita akan sesuai dengan orang lain! Yang mbak komentari soal alur cerita, yang ditanggepi lain lagi! Itu mah biasa aja, mbak! Mbak ngeritik alur cerita yang nggak jelas, itu juga sesuatu yang wajar! Karena mungkin mbak ngerasa: film yang nampilin gubernur dan kepala dinas kok ceritanya biasa-biasa aja! Nggak ada gregetnya!” ujar Gilang.

“Tapi kan nggak enaklah dikomentari kayak gitu, dek? Terlepas dari apapun, yang namanya kepada pemimpin itu kan kita harus tegak lurus! Istiqomah! Junjung tinggi dan partisipasi atas apa yang dilakuinnya! Buktinya, mbak sama mama kemarin bayar sendiri waktu nonton! Walo ada temen mama yang mau kasih tiket bioskop gratis! Itu kan bentuk penghormatan dan penghargaan atas kinerja Om Ridho sebagai gubernur dalam wujudin falsafah gaugana hasta itu, dek!” kata Dinda.

“Yang mbak bilang nggak salah! Yang kasih komentar nggak nyenengin ati mbak juga nggak bisa dibilang salah! Mungkin maksudnya biar mbak inget kalo nyampein pendapat itu lebih cermat! Karena bisa aja -disadari atau nggak-, ada yang tersinggung! Ambil hikmahnya aja!”

“Ambil hikmah sih ambil hikmah, dek! Cuma kan nyesek juga! Kok jauh bener komentarnya dari yang mbak omongin!” ketus Dinda.

“Mbak perlu inget ya! Nilai seseorang itu bergantung pada apa yang dipikirkannya! Semakin baik apa yang ada dalam pikirannya, sebaik itu pula nilai seseorang! Makin bermakna yang ada dalam keinginannya, makin bermakna pula hidupnya! Jadi, hidup adalah tentang makna! Hidup adalah tentang mencapai dan meraih makna terbaik di sisi Tuhan! Begitu kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mbak! Kalo dalam satu sisi kehidupan kita nemuin hal-hal yang nggak pas, ya nggak perlu galaulah!” ujar Gilang, menenangkan.

“Jadi nggak semestinya mbak galau karena adanya komentar yang nggak nyenengin itu ya, dek?!”

“Semestinya ya nggak usah sampe galaulah, mbak! Sadari aja, karena omongan mbak bernilai maka ada komentar, meski salah arah! Artinya, omongan mbak didenger dan diperhati orang! Ini bukti kalo mbak ngewarnai kehidupan! Buya Hamka pernah bilang: kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup! Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja! Nah, kita kan bukan bangsa babi dan kera! Kita adalah manusia yang punya hati dan pikiran! Persoalannya: bisa nggak kita maksimalin nilai lebih itu untuk bedain dari bangsa babi dan kera!” tutur Gilang sambil tersenyum. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *