Soal Reuni

“MBAK, adek diundang ke acara reuni waktu SD dulu! Bagusnya dateng nggak ya?!” ucap Gilang, sore tadi.

“Ya kalo ada waktu, nggak ada salahnya dateng, dek! Buat silaturahmi! Menjalin kembali hubungan pertemanan selama di SD! Sepanjang adek nilai bawa manfaat, ya baiknya dateng!” kata Dinda.

“Emang perlu tah acara reuni-reuni kayak gini ini, mbak? Setau adek, mbak nggak pernah cerita kalo diundang acara reuni sama temen-temen SD dulu!”

“Ya perlu nggak perlulah, dek! Tinggal gimana kita nempatin dan ngenilainya aja! Kalo mbak emang nggak pernah ada reuni-reunian! Karena selama ini sering ketemu sama temen-temen waktu SD! Nggak disengaja! Kumpul-kumpul dan sharing! Jadi ya ngapain lagi agendain acara reuni!”

“Maksudnya perlu nggak perlu itu gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya sepanjang nawaitunya buat kebaikan, buat tetep terjaganya silaturahmi, oke-oke aja, dek! Pastinya, nawaitunya ya baiklah ya?! Terus acaranya apa aja? Kalo buat pamer-pameran antar temen, mudharat itu, dek!” ujar Dinda.

“Pamer-pameran gimana maksudnya, mbak?!”

“Misalnya ini, temen adek yang sekolah di tempat favorit, terus ngerendahin yang sekolahnya sekarang di tempat biasa-biasa aja! Yang jadi tim inti olahraga atau seni budaya di sekolahnya sekarang ngeledek temen yang lain! Intinya, kalo reuni dibawa ke arah yang lebih dari sekadar silaturahmi dan memotivasi, malah nggak bagus!”

“O gitu ya, mbak! Makanya soal rencana reuni Alumni 212 itu lagi jadi bahasan ya? Karena dikhawatirin lebih dari sekadar silaturahmi? Apalagi sekarang ini sudah eranya nyambut pilpres, pasti politisasi akan muncul?!” kata Gilang.

“Pastinya itu, dek! Banyak pihak yang telah mewanti-wanti perlunya ditelaah dengan cermat manfaat kegiatan itu! Jangan sampai reuni Alumni 212 malah berdampak negatif bagi kesatuan dan persatuan umat Islam khususnya, serta anak bangsa secara umum! Yang dikhawatirin itu justru terjadi anti-klimaks! Muncul adu domba dan politisasi massa yang hadir!”

“Mbak setuju nggak dengan acara reuni Alumni 212 itu?!” sela Gilang.

“Kalo mbak nggak setuju, dek! Sebab banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya! Mbak takut massa yang hadir akan terjebak dalam aksi adu domba! Ini yang sederhana aja!” kata Dinda.

“Kenapa takut muncul adu domba, mbak?!”

“Karena orang yang mengadu domba nggak akan masuk surga, dek! Itu kata Nabi Muhammad SAW dalam hadits Bukhari di kitab Al-Adab! Nah, kalo orang yang mengadu domba nggak bakal masuk surga, yang diadu pun sudah pasti ngikut dibelakangnya! Reuni itu kan ikhtiarnya silaturahmi! Menjalin ukhuwah Islamiyah! Sekaligus ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariah! Tapi amat rentan dengan ancaman adu domba! Terancam politisasi jelang pilpres! Akhirnya, acara yang dinawaitukan buat dapet pahala, malahan sebaliknya!” urai Dinda.

“Tapi pastinya kan panitia dan peserta reuni sudah tau batasan-batasannya, mbak? Tentu mereka nggak mau gerakan massa yang dulu begitu masif dan luar biasa jadi kempes hanya oleh aksi adu domba atau politisasi?!” kata Gilang.

“Ya pastinya sih gitu, dek! Para pemimpinnya akan ngejaga marwah independensi dan ketulusan yang mendasari gerakan 212 itu sendiri! Mbak juga percaya itu! Tapi jangan lupa, sekarang ini jaman politik! Tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik politik! Yang segala kemungkinan bisa terjadi! Yang pasti arahnya akan menyeret ajang reuni ke suasana politik juga! Jadi, kalo mbak nggak setuju dengan rencana reuni 212, semata-mata ya buat ngejaga marwah gerakan umat itu aja! Sebab, sekali kecemplung ke politisasi -apalagi adu domba-, hilang semua kebanggaan umat yang tercuatkan lewat adanya gerakan 212 dulu itu!”

“O gitu ya, mbak? Jadi sebaiknya gimana dong?!”

“Kan selama ini massa yang pernah dateng di acara 212 itu ada di setiap wilayah di negeri ini! Bagusnya, masing-masing wilayah aja buat acara tahlilan, pengajian, dan doa keselamatan! Itu lebih bermakna ketimbang ngumpul lagi di Jakarta! Sebab, yang diinginkan itu kan kebersamaan lakukan amalan-amalan keagamaan! Bukan show of force secara lahiriyah!”

“Jadi mesti cermat bener panitianya dengan perkembangan rencana reuni 212 itu ya, mbak?!” kata Gilang.

“Bener itu, dek! Pimpinan dan alumni 212 selayaknya lebih arif dan bijak dalam mencermati perkembangan yang ada! Agar terhindar dari kemudharatan! Dan perlu menelaah syair yang berbunyi; luka karena gigi itu ada bekasnya! Sedangkan luka karena lidah itu tanpa bekas!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *