Soal Rencana

“MBAK, kata guru, tampilan band adek waktu pentas hari Minggu kemarin kurang greget! Nggak keluar kemampuan kami dengan maksimal!” ujar Gilang, sore tadi, saat menuju pulang dari sekolah.

“Emang bener itu, dek! Mbak kan juga nonton! Band adek kayak lagi belajar! Belum nyatu dan ngejiwai lagu-lagu yang ditampilin!” sahut Dinda.

“Padahal, kami ngerasanya sudah maksimal lho, mbak? Kenapa ya kok bisa gitu?!”

“Nyatanya emang nggak maksimal, dek! Malah kalah bagus dari waktu latihan! Mungkin, asal tampil aja, nggak ada perencanaan sebelumnya!”

“Kali itu penyebabnya, mbak! Kami dikasih tau kalo mau pentas sudah Sabtu sore! Jadi komunikasi sesama pemain cuma lewat wa! Ketemuan pas mau tampil! Sempet diskusi sekitar 15 menit aja!” ucap Gilang.

“Berarti nggak ada rencana itu, dek! Padahal rencana itu penting! Pantes aja dari pakaian pun nggak sama! Keliatan ngedadak gitu!”

“Jadi, rencana itu penting ya, mbak?!”

“Pastinya gitu, dek! Semua butuh rencana! Butuh agenda! Bisa dipikiran ataupun dituangin dalam tulisan! Nggak bisa ujug-ujug aja kalo mau maksimal dalam lakuin sesuatu!” kata Dinda.

“Kalo gitu, para pemimpin juga harus punya rencana dong dalam lakuin tugasnya! Kenapa guru adek nggak punya rencana ya, cuma kasih tau kalo kami harus tampil! Gitu aja, mbak!” sela Gilang.

“Berarti guru adek itu belum berkelas sebagai pemimpin! Kalo pemimpin, baru rencana dalam hati aja sudah bawa pengaruh! Apalagi kalo diomongin dan sudah dituangin dalam suatu keputusan! Makanya, seorang pemimpin pasti selalu hati-hati dalam rencanain segala sesuatu!”

“Jadi, kalo pemimpin yang berencana, walo masih dalam hati aja sudah bawa pengaruh ya, mbak?!”

“O iya, dek! Itu sebabnya, jadi pemimpin jangan asal aja berencana! Misalnya, direncanain masuk PAD dari ganti rugi lahan di Way Dadi sampai ratusan miliar! Rencana ini nggak gampang! Jangankan wujudinnya, sosialisasinya ke masyarakat aja pasti dapet tentangan! Dan ini akan jadi persoalan baru lagi!”

“Seberapa kuat pengaruh rencana seorang pemimpin bagi kehidupan orang kebanyakan ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Amat besar pengaruhnya, dek! Ada sebuah kisah! Suatu hari, Raja Kisra berburu di hutan! Dia terpisah dari pasukannya akibat hujan deras! Dalam kondisi begitu, ia liat ada sebuah gubuk di tengah hutan!” kata Dinda.

“Terus raja itu mampir ke gubuk itu ya, mbak?!”

“Iya, dia numpang berteduh di gubuk yang dihuni wanita tua dengan anak gadisnya! Mereka tau kalo itu Raja Kisra! Sang anak disuruh ibunya memeras susu kerbau piaraan mereka! Untuk disuguhkan pada sang raja!”

“Terus, mbak…?!”

“Saat melihat kerbau itu banyak keluarin susu, Raja Kisra sambil minum susunya berkata dalam hati; kalo gitu harus ditetepin pajak untuk setiap kerbau, karena susunya banyak! Tapi apa yang terjadi kemudian?!”

“Apa mbak..?!”

“Tengah malam, si ibu nyuruh anak gadisnya kembali memeras susu kerbaunya! Tapi nggak keluar walo setetes pun! Sang anak bilang ke ibunya; Ibu, raja berniat jelek pada rakyatnya! Si ibu bertanya; gimana kamu tau?! Putrinya menjawab; karena kerbau ini nggak ngasilin susu lagi walo setetes pun!” urai Dinda.

“Terus gimana lanjutannya, mbak?!” tanya Gilang, penasaran.

“Ketika bangun esok paginya, Raja Kisra kembali dengan sikap adilnya! Rencananya netepin pajak buat kerbau karena ngasilin susu, nggak dilanjutinnya! Luar biasa pengaruhnya! Saat si anak memeras susu kerbaunya lagi, susu pun mengalir deras! Melihat itu, anak gadis itu bilang ke ibunya; Ibu, niat jelek raja sudah hilang!”

“Wah, sehebat itu ya pengaruh rencana sang raja? Terus gimana, mbak?!”

“Siang hari, pasukan dan sahabat berburu sang raja datang! Menjemput! Ibu tua dan anak gadisnya diajak ke istana! Waktu di perjalanan, Raja Kisra bertanya ke mereka; bagaimana kalian tau kalo saya punya rencana narik pajak kerbau?” kata Dinda.

“O gitu, terus apa kata mereka, mbak?!”

“Wanita tua itu ngejawab; kami di tempat ini sejak lama, wahai Raja. Jika pemimpin kami adil, maka tanah kami subur dan hidup senang! Jika pemimpin kami jahat, hidup kami jadi sempit, dan hal-hal yang bermanfaat pun terhenti dari kami!” jelas Dinda.

“Ternyata sedahsyat itu pengaruh rencana seorang pemimpin pada rakyatnya ya, mbak?! Jadi wajar kalo seorang pemimpin penuh pertimbangan sebelum mantepin rencana jadi keputusan! Subhanallah!” kata Gilang sambil geleng-gelengkan kepalanya.

“Itu kisah yang ada di buku Hayat Al-Hayawan karangan Ad-Dumairi, dek! Mbak cuma nyeritain aja! Kita berharap; moga-moga semua pemimpin kita selalu hati-hati dalam berencana, walo masih sekadar dalam hati! Karena pasti akan bawa pengaruh yang jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya!” tutur Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *