Soal Kecerdikan

“DEK, jangan maksain diri kalo main itu! Fisik adek kan nggak sekuat temen-temen!” kata Dinda selepas nonton Gilang tanding futsal di sekolahnya, petang tadi.

“Ya gimana dong, mbak? Adek kan ditugasin main full! Belum lagi sebagai kapten mesti ngatur strategi dan kasih arahan ke temen-temen di lapangan!” sahut Gilang.

“Maksud mbak bukan gitu, dek! Mbak tau adek punya tugas berat di lapangan! Tapi jangan forsir tenaga dong! Jadinya kan ngos-ngosan! Kelelahan kayak gini!”

“Maksud mbak jadi dimana?!” ucap Gilang sambil menata nafasnya.

“Mainlah dengan cerdik! Utamain otak! Jadi, fisik nggak keforsir abis-abisan gini!”

“Ya kan adek juga main sambil mikir, mbak! Strategi apa yang pas! Selain tetep jalanin apa yang sudah diarahin pelatih!” kata Gilang.

“Maksimalin main cerdik, dek! Bukan ngandelin fisik! Itu kuncinya! Itu pola nutupin kekurangan kita di kekuatan fisik! Apalagi lawan tanding tadi kan kuat-kuat fisiknya!” ujar Dinda.

“Cerdik gimana lagi sih, mbak?! Tadi sudah mainkan gaya umpan-umpan panjang! Itu buat nguras tenaga lawan! Kami tau kalo lawan itu tangguh fisiknya! Kuat pula mentalnya! Mbak kan liat beberapa gaya kami mainin, tapi tetep aja kami kedodoran!”

“Iya sih, mbak liat! Beberapa pola dicoba dalam pertandingan tadi! Tapi kecerdikan itu amat nentuin, dek! Jangan pernah lelah dalam improvisasi untuk sebuah kecerdikan! Karena pinter, piawai atau jago sekalipun sering kali dikalahkan oleh kecerdikan!” kata Dinda.

“O gitu, mbak? Bisa mbak berbagi cerita soal kecerdikan nggak? Buat pelajaran aja!” ucap Gilang.

“Di sebuah hutan yang banyak air dan rumput, penguasanya seekor Singa! Nggak ada hewan lain yang berani ngedeket! Walo mereka perlu air dan rumputnya!” Dinda memulai cerita sambil bilang kalo ceritanya ngambil dari buku Kalilah wa Dimnah.

“Terus, gimana langkah hewan lain buat bertahan hidup, mbak?!”

“Hewan-hewan lain berembug! Sepakat nemui singa! Mereka bilang; agar bisa sama-sama hidup tenang, maka setiap hari mereka akan kirimkan seekor hewan buat makanan sang singa! Dengan begitu, mereka bisa dapet minuman dan makanan rerumputan! Singa pun sepakat!”

“Jalan nggak kesepakatan itu, mbak?!” tanya Gilang.

“Jalanlah, dek! Mana berani hewan lain ingkar sama singa! Bisa abis mereka dikuliti! Sampe suatu saat giliran kelinci yang dapet giliran jadi santapan siang singa sang penguasa itu! Si kelinci ngelobi hewan-hewan lain! Dia punya trik sendiri rupanya! Hewan-hewan lain sepakat dengan strateginya!”

“O gitu, terus gimana, mbak? Apa strategi kelinci?!”

“Kelinci itu bersiasat, dek! Dia muncul sendirian ke tempat singa setelah waktu makan siang sudah lewat! Tentu saja Singa itu marah besar! Kelinci bilang kalo dia terlambat karena di jalan dicegat singa lain dan ngerampas anak-anak kelinci yang mau dipersembahin buat dia! Singa si perampas itu bilang kalo dialah penguasa hutan disitu! Bukan singa yang setiap saat dikasih santapan hewan selama ini!” urai Dinda.

“Apa reaksi singa yang mestinya dapet jatah makan siang itu, mbak?!

“Ya dia marah besarlah, dek! Dia maksa minta ditunjukin dimana posisi singa yang sudah ngerampas jatah makan siangnya itu! Kelinci ngajak sang Singa ke sebuah sumur tua yang ada di hutan! Airnya jernih betul! Inilah tempatnya, kata kelinci! Sang Singa melongokkan wajahnya! Keliatan bayang-bayangnya disana! Juga bayangan kelinci di permukaan air!”

“Terus, mbak…?!” ucap Gilang, penasaran.

“Singa itu percaya kalo di dalem sumur itulah keberadaan singa lain yang ngerampas makan siangnya! Dia langsung melompat! Dan akhirnya, tenggelam di dalam sumur itu, dek!” jelas Dinda.

“Bener itu! Kecerdikan ngalahin segala kekuatan dan kehebatan ya, mbak?!” kata Gilang.

“Iya, dek! Cuma gunakanlah kecerdikan untuk kebaikan! Jangan buat kejelekan! Disinilah kita mesti belajar akan kehidupan yang nyaman!” kata Dinda. (ยค)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *