Bicara Tontonan

“MBAK, infonya malem tahun baru tetep rame dengan tontonan ya? Padahal kan sudah banyak imbauan agar diperbanyak acara perenungan, karena kita làgi berduka akibat tsunami Selat Sunda?!” kata Gilang, petang tadi.

“Ya namanya kan sudah kayak tradisi sih, dek! Namanya malem tahun baru pasti disambut dengan sukacita! Apalagi jauh-jauh hari sudah disiapin berbagai acara, pastinya ya nggak mungkin gitu aja dibatalin!?” sahut Dinda.

“Tapi mestinya kan dengan kondisi kita yang lagi berduka, tontonan-tontonan dikurangi, mbak?! Ini kayaknya tetep aja, berbagai tempat utamain acara-acara hiburan kayak biasanya!”

“Nggaklah, dek! Mbak yakin akan banyak berkurang acara tontonan, hiburan atau hura-hura nyambut datengnya tahun baru ini!”

“Keyakinan mbak itu dasarnya apa?” sela Gilang.

“Jajaran pemerintahan nggak buat acara hiburan dan tontonan buat rakyatnya nyambut tahun baru ini, dek! Surat imbauan ke masyarakat agar nggak ngadain acara berbau hura-hura juga sudah disampein! Jadi mbak yakin, malem tahun baru ini bakalan lebih diisi dengan acara pengajian! Muhasabah! Perenungan! Ini namanya memetik hikmah dari sebuah musibah, dek! Suatu perilaku yang baik dan bijak!” urai Dinda.

“Mbak yakin imbauan pemerintah itu bakal diikuti masyarakat?!” tanya Gilang.

“Ya yakinlah, dek! Masyarakat kita itu patuh dan cinta pada pemimpinnya! Masyarakat kita itu masih percaya apapun yang disampein pemimpinnya pasti maksudnya baik! Kenapa kok adek malah kesannya ngeraguin gitu sih?!”

“Adek cuma nanya keyakinan mbak aja kok! Adek cuma mikir, belakangan ini alangkah banyak orang yang nyari peluang untuk akhirnya munculin persepsi yang salah atau kesimpulan yang nggak pas aja!”

“Maksudnya kayak mana, dek?!” ucap Dinda.

“Misalnya soal tsunami di Selat Sunda yang banyak makan korban saudara-saudara kita di kawasan Lampung Selatan maupun Banten itu, mbak?! Kan banyak aja yang ngebuat isu-isu kalo tsunami lebih dahsyat bakal dateng lagi! Akibatnya kan warga yang tinggal di sekitaran pantai jadi nggak pernah ngerasa tenang hidupnya! Pun orang yang mau wisata ke pantai juga jadi takut! Yang kayak gini kan malah ngebuat resah, mbak!”

“O, soal kabar hoaks to, dek! Jangan khawatir! Masyarakat kita kan sudah mampu memilah dan memilih mana kabar yang bener dan mana yang nyesatin! Lagian kalo kabar hoaks terus-terusan dimainin, polisi pasti bakalan nangkep pelakunya! Nggak perlu khawatirlah kalo soal itu!” kata Dinda dengan serius.

“Kalo nurut mbak, yang perlu dikhawatirin saat ini apa?!”

“Soal tontonan, dek! Sekarang ini kan apa aja langsung jadi tontonan! Kejadian baik atau buruk, dengan dunia medsos yang bebas ini, semua bisa ditonton! Ironisnya, hal-hal yang bernuansakan tuntunan makin berkurang! Akibatnya, ya tontonan itulah yang sadar tidak sadar jadi tuntunan bagi sebagian besar masyarakat kita!” kata Dinda.

“Bener juga ya, mbak?! Mau dibatasi kayak manapun, kalo bicara tontonan, ya nggak bakal bisa! Wong kita semua sekarang ini, paham nggak paham, selalu jadi tontonan atau nonton tontonan!”

“Ya itulah yang disebut Gus Mus sebagai fenomena akhir zaman, dek! Dimana orang yang rendah ilmu banyak bicara dan orang yang tinggi ilmunya malah banyak terdiam! Ironi inilah yang kayaknya pas buat perenungan di malem tahun baru!” tutur Dinda sambil mengajak Gilang bersiap solat maghrib terakhir di tahun 2018. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *