Bicara Bencana

“MBAK, adek perhatiin di semua tv yang nayangin acara malem tahun baruan kemarin, selalu diungkapin keprihatinan akibat banyaknya bencana selama setahun lalu ya?! Nggak nyangka ya, masih begitu besar empati anak bangsa pada sesama!” kata Gilang saat makan malam tadi.

“Iya, mbak juga perhatiin kok, dek! Ya bersyukurlah kita masih ada sesuatu yang bisa terus merekatkan kepedulian sesama anak bangsa, dek! Meski itu lewat musibah! Bencana tsunami, tanah longsor, gempa bumi, dan sebagainya!” sahut Dinda sambil mengunyah tempe goreng kesukaannya.

“Tapi kalo diinget-inget, sepanjang tahun 2018 kemarin emang banyak bener bencana ya, mbak?! Kenapa kok bisa kayak gitu ya?! Kejadian demi kejadian seakan saling susul-menyusul?!”

“Posisi negeri kita kan emang di lempeng pecahan Australia, dek! Rentan dengan pergeseran! Baik di darat maupun di lautan! Ironisnya, kita sendiri nggak sesiap orang Jepang dalam ngadepin bencana alam! Akibatnya, selalu banyak rakyat yang jadi korban!”

“Karena kurang trengginas dalam action nanggulangin bencana itu ya makanya kepala BNPB diganti, mbak?!” sela Gilang.

“Nah, nggak tau mbak kalo soal itu, dek! Soal ganti-mengganti petinggi urusan kebencanaan itu bukan kelas kita nganalisisnya! Yang kita mesti sadari, di tahun 2019 ini diprediksi bakal terjadi ribuan bencana di negeri ini!” ucap Dinda.

“Iya tah, mbak?! Siapa yang nyampein prediksi begitu?! Ini kan malah buat rakyat was-was aja?!”

“Yang nyampein prediksi itu BMKG, dek?! Lembaga yang emang tugasnya mantau perkembangan urusan alam dunia beserta seluruh pergerakan dan pernak-perniknya! Tentu maksudnya bukan buat rakyat was-was, dek! Tapi agar waspada! Ya itu baguslah, ketimbang kayak kejadian tsunami di Selat Sunda kemarin yang nggak terdeteksi sama sekali sebelumnya?!”

“Mbak percaya sama prediksi bahwa di 2019 ini bakal banyak bencana?!” tanya Gilang.

“Ya percayalah, dek! Yang bilang kan emang ahlinya?! Segala sesuatu itu kan emang mesti diserahin sama ahlinya, baru bener urusannya!” kata Dinda.

“Jadi nggak nyaman dong hidup kita di tahun baru ini, mbak?!”

“Lho, kenapa jadi nggak nyaman, dek! Ya tetep dibuat asyik-asyik ajalah! Tetep beraktifitas kayak biasa aja! Kita kan nggak tau kapan dan dimana bencana itu akan terjadi?! Bumi dengan segala isinya ini kan punya rahasia tersendiri juga, yang nggak semuanya bisa dibaca dengan alat-alat secanggih apapun!”

“Intinya, bencana itu kapan aja bisa terjadi ya, mbak?! Tapi nggak boleh juga buat kita jadi nggak ngapa-ngapain gara-gara dihantui yang namanya bencana itu?! Gitukan, mbak?!” ucap Gilang.

“Bener itu, dek! Yang namanya bencana itu bisa disebabkan banyak faktor! Mulai dari alam sampe akibat ulah manusia! Tapi penentu semuanya ya hanya satu; Tuhan Seru Sekalian Alam! Jadi, kalo pun tengah ngalami bencana, ya nggak usah ngerasa susah-susah amat! Karena pasti ada hikmah dibaliknya! Sebaliknya, kalo ada sebagian wilayah atau rakyatnya yang terkena musibah, ya nggak usah ditutup-tutupi! Karena akan ngehambat dermawan nyalurin kebaikan hatinya!” urai Dinda.

“Emang ada daerah dan warga terdampak bencana yang ditutup-tutupi, mbak? Ngapainlah kok jadi kayak gitu?!” kata Gilang.

“Mbak sih nggak tau pasti, dek! Cuma infonya ada warga terdampak bencana tsunami kemarin yang tinggal di pulau objek wisata unggulan, kayak kurang dapet perhatian gitu! Bantuan sih cukup banyak! Cuma nganternya sampe dermaga aja! Nggak bisa langsung ketemu para korban bencana! Dengan alasan, belum ada kapal yang berani nyebrang ke pulau-pulau itu!”

“O gitu, mbak?! Lha terus gimana kehidupan warga di pulau-pulau itu, mbak?!”

“Jangan khawatir, dek! Aparat pemerintah setempat pastinya lebih tau apa yang harus diperbuat! Nggak bakallah warga korban bencana itu kesusahan! Walo emang, pada setiap bencana, selalu saja ada korban yang ngalamin bencana-bencana tambahan! Ya inilah resiko kita tinggal di kawasan dunia yang masuk kategori rawan bencana, dek!”

“Jadi gimana dong biar kita nggak was-was terus dengan ancaman bencana itu, mbak?!” kata Gilang.

“Anggep aja bencana itu kayak angin, hujan atau panas matahari, dek! Jadi sahabat keseharian kita! Dengan gitu, kita tetep nyaman-nyaman aja! Kalo pun bencana dateng, kita ngadepinnya tetep dengan ketenangan! Dan tentu, kita mesti nyadarin keterbatasan kita sebagai makhluk Tuhan yang dikasih kesempatan tinggal di bumi-Nya! Ikhlas-ikhlas aja hidup ini!” tutur Dinda sambil menyudahi makan malamnya. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *