Bicara Independen

“MBAK, acara debat capres-cawapres masih dalam agenda kok sudah rame gini ya?! Emang perlu-perlu bener tah nyampein visi misi atau rencana program kerja itu?!” kata Gilang, sore tadi.

“Ramenya itu bukan soal apa visi misi atau yang mau jadi program kerja capres-cawapres ke depan, dek! Tapi layak nggak layaknya orang yang mau dijadiin panelis! Jadi belum masuk materi apa-apa!” ujar Dinda.

“Ya itulah, kok urusan panelis aja jadi heboh gini ya, mbak! Soal independensi orangnya yang jadi bahasan! Emang apa kaitannya ya soal independensi dengan capres-cawapres? Bukannya semua warga negara berhak gunakan hak politiknya?!”

“KPU punya aturan, dek! Harus independen yang jadi panelis di acara debat kandidat pilkada! Cuma, akhirnya urusan ini yang jadi bahan perbincangan! Nggak substansial emang, tapi ya itulah kebiasaan kita! Lebih suka ngebahas hal-hal yang nggak penting!”

“Emang ada ya orang yang independen itu, mbak?! Apalagi dalam urusan politik?!” tanya Gilang.

“Nggak ada, dek! Pada akhirnya, tetep berpihak! Minimal saat gunain hak politiknya! Kepakaran seseorang pun, sebenernya, banyak dibentuk oleh suasana politik yang ada di jamannya! Orang sekelas Thomas Hobbes, Jhon Locke, Jean-Jacques Rosseau bahkan Karl Marx sekalipun, jadi legenda dunia politik sampe sekarang, juga akibat politik!”

“O gitu, mbak! Jadi sebenernya kalo ada yang diajuin jadi panelis debat terus diganti, sebenernya, ya karena persoalan politik dong?! Walo mungkin dia punya kepakaran di bidangnya?!”

“Pastinya ya gitulah, dek! Wong usulan calon panelis itu emang sebelumnya diajuin juga ke yang mau debat?!”

“Oh ya, kok gitu ya, mbak?! Mestinya kan KPU bisa mutusin sendiri soal itu? Kan mereka bisa pake standar independen versinya?!” ucap Gilang.

“Itu kan kata kita, dek! KPU tentu punya pertimbangan sendiri kenapa soal calon panelis mesti dimintakan masukan dari tim mereka yang mau mentas di acara debat?!” kata Dinda.

“Kalo gitu caranya, nggak salah ada yang nilai KPU nggak independen, mbak?!”

“Di alam demokrasi, boleh aja ngenilai gitu, dek! Cuma nggak boleh nuduh, apalagi ngefitnah! Karena KPU sekarang ini nggak segen-segen ngelaporin siapapun yang dianggap ngerendahinnya! Bahkan salah-salah bisa dianggep bakal ngeganggu proses pelaksanaan pemilu!”

“Waduh, garang juga ya, mbak?! Padahal setau adek, kalo kita bicara soal kekuasaan politik untuk rakyat, tidak lepas di dalamnya ngebahas mengenai hak dan kewajiban! Juga kebebasan dan tanggung jawab! Karena dari itu semua, memungkinkan terciptanya masyarakat yang baik!” urai Gilang.

“Yang adek sampein itu bener! Persoalannya, nggak mudah kita sampein sesuatu yang nurut kita bener akan diterima dengan bener pula! Apalagi bicara independen, masing-masing kita punya penilaian sendiri! Dan apapun itu, harus sama-sama kita terima dengan hati lapang!”

“Jadi, sulit ya ngukur soal independen itu, mbak?! Sesuai dengan situasi dan kondisi aja ya?!” kata Gilang.

“Iya, nggak mudah, dek! Karena masing-masing kita punya penilaian sendiri-sendiri dan harus dihormati! Dengan pemahaman seperti inilah kita akan tetep percaya bahwa insyaallah masih ada yang namanya independen itu dalam urusan politik! Walo mungkin hanya dalam sekelebatan aja!?” tutur Dinda sambil tersenyum. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *