Bicara Kesehatan

“MBAK, hari pertama masuk sekolah tadi, cuma sedikit temen adek yang dateng!” kata Gilang saat menuju ke rumah selepas sekolah, sore tadi.

“Kenapa emangnya, dek? Masih banyak yang belum pulang dari liburan ya? Atau sengaja belum mau masuk karena hari pertama sekolah?!” jawab Dinda.

“Ya macem-macem alasannya, mbak?! Tapi yang paling banyak karena lagi sakit!”

“O gitu, dek?! Lagi musim pancaroba emang! Jadi banyak virus tak terdeteksi! Kalo sudah nyangkut urusan kesehatan, semua ya harus pengertian!” ujar Dinda.

“Maksudnya apa ya mbak, kalo nyangkut urusan kesehatan harus pengertian itu?!” sela Gilang.

“Ya karena soal kesehatan itu sakral, dek! Seperlu apapun kita dengan seorang temen misalnya, tapi dia lagi sakit, ya harus kita ngertiin kondisinya! Tunda dululah urusannya! Itu satu misal, banyak contoh lain juga! Intinya kalo nyangkut urusan kesehatan -biasanya pas sakit yang jadi bahasan-, siapapun kita mesti ngertiin! Mesti teposeliro! Harus maklumi kalo nggak sekolah!” urai Dinda panjang lebar.

“Pastinya ke depan, urusan kesehatan bakal makin rame diperbincangin, mbak?! Karena bisa dipastiin, orang kurang mampu bakal kembali susah dapet layanan kesehatan yang prima!?” kata Gilang.
“Emang kenapa, dek?!” sela Dinda.

“Mbak nggak tau apa pura-pura ya?! Masak sih nggak tau kalo sekarang ini ratusan rumah sakit putus hubungan kerja sama dengan BPJS Kesehatan?! Artinya, makin sedikit rumah sakit yang ngelayani pemegang kartu BPJS, mbak?! Konkretnya, program BPJS Kesehatan itu nggak ngejawab kebutuhan rakyat! Dengan alasan akreditasi, puluhan rumah sakit diputus kontrak kerjanya!” beber Gilang.

“Wah, ini baru berita, dek! Kalo kemarin-kemarin pihak rumah sakit komplain karena dana pelayanan bagi pasien BPJS nggak dibayar-bayar, sekarang giliran BPJS unjuk kekuasaan! Yang nggak lolos akreditasi, nggak dapet jatah dana BPJS! Seru ini, dek! Urusan kesehatan rakyat yang digadang-gadang jadi program unggulan pemerintahan sekarang, nggak dinyangka kejebak pada urusan administrasi kelayakan dan action unjuk kekuatan!” kata Dinda sambil tertawa.

“Kok malah ketawa dengan kondisi layanan kesehatan kayak gini, mbak?! Emang lucu apa?! Kan orang kurang mampu yang dirugiin, kayak kita ini?!” ucap Gilang.

“Mbak jadi inget tulisan Machiavelli di bukunya The Prince, dek! Dia tulis begini; this is a common failing of mankind, never to anticipate a storm when the sea is calm!”

“Artinya apa ya, mbak?!”

“Maksudnya kurang lebih gini lo, dek?! Kekuasaan bisa runtuh ketika seorang penguasa tidak mengantisipasi badai yang mungkin terjadi di saat laut sedang tenang! Urusan pelepasan ratusan rumah sakit se-Indonesia dengan program BPJS ini jangan dianggep remeh! Ini bisa jadi munculnya tsunami politik bagi pemerintahan sekarang!?”

“Nggak sampe segitunya juga kali, mbak?! Mosok urusan kesehatan aja bakal nimbulin tsunami politik?! Jangan nge-deg nge-deg-in ajalah!?” kata Gilang.

“Adek perlu tau ya, urusan kesehatan itu soal yang sakral buat semua orang! Bicara kesehatan maka bicara soal kehidupan! Bicara soal masa depan suatu bangsa! Maka urusan kesehatan diseriusi oleh pemerintahan manapun! Tapi saat ini, urusan sakral itu jadi carut marut hanya oleh persoalan administratif akreditasi!” urai Dinda.

“Jadi apa yang bisa kita lakuin, mbak?!” kata Gilang.

“Jaga kesehatan baik-baik! Jangan sakit-sakit! Jangan mau diajak ke rumah sakit! Sebab, saat ini ada 197 juta lebih anggota BPJS Kesehatan se-Indonesia yang akan makin panjang antriannya untuk berobat! Akan banyak rumah sakit yang penuh sesak oleh rakyat miskin yang berobat dan banyak juga rumah sakit yang sepi-sepi aja karena yang berobat bukan pengguna kartu BPJS! Pastinya, situasi begini nunjukin kalo negeri ini belum jadi negara ideal! Yaitu negara yang memanusiakan warganya! Begitu kata Aristoteles!” tutur Dinda. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *