1 views

Bicara Demokrasi

“NGAPAIN itu nyalin segitu banyak, dek?! Difoto aja pake hp! Nggak praktis amat sih?!” kata Dinda saat melihat Gilang tengah menyalin tulisan dari sebuah buku ke buku sakunya.

“Biar punya contekan maksudnya, mbak?! Kalo difoto pake hp, kan di kelas nggak boleh bawa hp?! Jadi baikan ya disalin ginilah! Namanya juga nyiapin contekan?!” sahut Gilang sambil cengengesan.

“Emang ada apa, dek? Kan baru masuk sekolah?!”

“Ada kegiatan cerdas cermat, mbak! Di kelas adek aja sih?!”

“Kok bikin contekan?! Emang sudah tau apa yang jadi pertanyaan di acara cerdas cermat nanti itu?!” tanya Dinda, terheran.

“Sudah, mbak! Sudah dikasih tau sama panitianya! Pertanyaannya nyangkut soal demokrasi dalam berbagai versi! Pendapat para tokoh maksudnya!?” ucap Gilang.

“O gitu ya? Baru kali ini mbak tau ada acara cerdas cermat yang pertanyaannya disampein ke peserta sebelum acara dimulai! Aneh bin ajaib ini namanya, dek!” sela Dinda sambil geleng-gelengkan kepalanya.

“Biasa aja kali, mbak?! Jadi orang jangan gumunan gitulah! Wong untuk debat capres-cawapres aja apa yang mau ditanyain panelis juga disampein duluan ke peserta debat kok, mbak?! Jaman sekarang ini nggak ada yang aneh bin ajaib lagi tau! Karena semua sudah dianggap biasa-biasa aja!” kata Gilang.

“O, jadi apa yang mau ditanyain panelis waktu debat capres-cawapres nanti itu sudah disampein ke dua pasang capres-cawapres to, dek?! Terus apa seru dan seninya ya debat itu nanti?!”

“Ah mbak mah sok nggak tau aja lho! Padahal info dikasihinnya daftar pertanyaan lebih dulu ke capres-cawapres itu kan viral! Boong kalo mbak nggak tau! Lagian, debat itu kan bukan buat seru-seruan atau seni-senian, mbak! Itu acara adalah versi lain dari kampanye! Sosialisasiin visi misi dan program capres-cawapres!”

“Nggak menarik buat ditonton kalo gitu mah, dek! Karena sudah kebaca kalo yang diomongin nanti soal data, soal proyeksi, soal-soal yang formalistik! Nggak bakal ada ekspresi-ekspresi yang mengejutkan! Atau sesuatu yang membuat rakyat jadi terbelalak: wow!” ujar Dinda.

“Jangan nduluin yang belum kejadian, mbak?! Nggak elok! Mungkin bener perkiraan mbak itu, tapi siapa tau nanti malah ada kejutan-kejutan! Capres-cawapres kita kan punya kemampuan improvisasi yang tinggi! Mungkin-mungkin aja ada kejadian yang nyeleneh!” kata Gilang.

“Ya, apapun itu, mbak sudah nggak tertarik buat nonton debatnya, dek! Dimata mbak kayak dagelan aja! Para capres-cawapres yang mestinya kita banggakan dan hormati, malah diposisiin kayak pesinetron!”

“Nggak gitu juga kali, mbak?! Nggak boleh nilai kayak gitu?! Saru itu!”

“Lho, beda penilaian atau pendapat kan boleh-boleh aja, dek! Kita kan hidup di negara demokrasi! Sepanjang nggak ngelanggar aturan, apalagi mau ngerubah NKRI, yo nggak opo-opolah, dek! Lagian mbak yakin kok, kalo disurvei, pasti mayoritas rakyat nggak setuju soal dikasihinnya duluan daftar pertanyaan sebelum debat dilangsungin! Ketara bener seremoninya! Transparan bener etok-etoknya!” urai Dinda.

“Jangan vulgar gitulah ngomongnya, mbak?! Ntar disentil KPU lho?!” kata Gilang.

“Mbak kan nyuarain pendapat pribadi, ya nggak apa-apalah, dek! Kita kan hidup di negara berdemokrasi! Beda pendapat boleh-boleh aja!”

“Emang demokrasi yang mbak pahami kayak mana sih?!” tanya Gilang.

“Demokrasi itu menyiratkan arti kekuasaan politik atau pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat! Itu yang tertulis di buku Our Democracy at Work, halaman 2, karangan Harria G Warrent, terbitan tahun 1963, dek! Mbak kan rakyat, ya boleh dong berdemokrasi nyuarain pendapat?!” ucap Dinda.

“Sip itu, mbak! Berarti adek dapet tambahan bahan contekan dari arti demokrasi yang mbak sampein tadi! Doain adek menang di cerdas cermat nanti ya, mbak?!” kata Gilang sambil meneruskan kegiatannya; menyiapkan contekan alias bahan menjawab pertanyaan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *