0 views

Bicara Hoaks

“NGAPAIN siwek bongkar-bongkar tumpukan koran gitu sih, dek? Mending kalo abis itu mau rapihin lagi?! Biasanya main tinggal aja, jadi nambah kerjaan mbak buat rapihinnya!” kata Dinda, sore tadi.

“Adek lagi ngumpulin bahan, mbak! Disuruh guru buat analisis berita! Apa yang paling banyak dimuat koran seminggu ini!” jawab Gilang.

“Adek disuruh buat analisis berita? Emang bisa tah?! Lagian berita apa yang paling dominan minggu ini, dek?!”

“Justru karena adek mau belajar untuk bisa, makanya disuruh sama guru, mbak?! Tema soal hoaks yang dominan pastinya!”

“Hoaks gimana maksudnya, dek?!” tanya Dinda.

“Berita atau kabar yang tak sesuai faktanya, mbak! Mulai dari hoaks 7 kontainer yang isinya surat suara pilpres yang sudah dicoblos sampai tudingan ke beberapa orang yang disebut artis tersangkut kasus prostitusi online! Pokoknya segala sesuatu terkait hoaks yang paling dominan pekan ini” urai Gilang.

“Dan adek buat analisis beritanya soal hoaks itu ya?” ucap Dinda.

“Iya, mbak! Kan faktanya gitu! Bahasan soal hoaks itu ngalahin semua kabar lain! Dan adek yakini, berita itu dibaca orang! Nggak cuma liat judulnya aja!”

“Sebenernya, soal kabar hoaks atau berita nggak bener alias fitnah, nggak perlu digede-gedein, dek! Biasa-biasa aja nanggepinnya!”

“Maksudnya gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Maksudnya ya nggak perlu buat kita jadi over protektif nanggepin soal hoaks itu! Kan sudah jelas nggak benernya! Sudah jelas fitnahnya! Lagian, sejak jaman Nabi dulu bakal adanya fitnah, ujian, cobaan maupun bencana alam itu sudah disampein! Jadi bagi orang yang paham dinamika di akhir jaman, biasa-biasa aja ngeliat perkembangan yang ada, walo agak liar!” jelas Dinda.

“Emang dari jaman Nabi sudah disampein bakal ada hoaks ginian nantinya, mbak?!”

“Ya nggak detail gitulah, dek! Dalam hadits yang diriwayatin Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW bersabda: Umatku adalah umat yang dikasihi Allah. Mereka tidak akan mengalami adzab kelak di akherat! Adzab yang menimpa mereka hanyalah di dunia ini dan berupa fitnah! Ujian dan cobaan! Gempa bumi! Dan pembunuhan-pembunuhan! Begitu sabda beliau, dek! Jadi, bakal banyaknya fitnah, yang sekarang ini berbentuk kabar hoaks, sebenernya sudah sejak dulu disampein sama junjungan kita! Cuma kita sebagai umat beliau aja yang kurang mahaminnya!” beber Dinda.

“O gitu mbak? Iya juga sih, kalo kita semua pada paham sama apa yang sudah disampein Nabi itu, nggak bakal hoaks terus nyebar karena nanggepinnya dengan tenang! Tapi kan yang diseriusi penanganannya yang nyangkut soal kabar bohong adanya kertas suara pilpres sudah dicoblos dan ditaruh dalam 7 kontainer itu, mbak?! Wajar aja kan kalo soal itu diselidiki dengan serius?!” kata Gilang.

“Wajar dan emang harus ditelisik sampe tuntas soal itu, dek! Harus diurut sampe akar-akarnya! Sampe aktor intelektualnya! Tapi jangan pula nambah fitnah dengan menebar dugaan-dugaan!”

“Bener itu, mbak! Tuntasin sesuai koridor hukum aja! Jangan terpolitisasi! Ini perlu diingetin karena sadar nggak sadar, banyak anak bangsa yang sekarang terjebak dalam pemikiran John Stuart Mill dengan konsep civil liberty-nya!” ujar Gilang.

“Emang gimana pemikiran Mill itu, dek?!”

“Dari semua unsur civil liberty yang diusung Mill, yang paling berharga adalah kebebasan berpikir dan berekspresi!”

“Konkretnya kayak mana, dek?!” sela Dinda.

“Penganut liberalisme berkeyakinan bahwa semua opini, bahkan yang salah sekalipun, harus punya kebebasan berekspresi! Tidak jarang, dari opini itu yang awalnya dianggap salah, belakangan terbukti benar! Dengan alasan itu, kaum liberal ada di garda terdepan dari gerakan untuk menghapuskan sensor, baik resmi maupun tidak resmi! Gitu yang ada di bukunya Mikhael Dua, mbak!”

“O gitu, dek! Jadi bisa aja urusan hoaks-hoaks ini bagian dari strategi dapetin kekuasaan ya?!”

“Ya bisa-bisa aja, mbak?! Apalagi kalo hoaksnya ngangkat hal-hal politik! Salah satu cara dapetin kekuasaan kan pake pola information power! Yang nurut Inu Kencana Syafei adalah perolehan kekuasaan lewat penguasaan akses informasi, terutama di era teknologi komunikasi yang sangat modern seperti sekarang ini!” kata Gilang.

“Kok adek hari ini ngomongnya pake referensi yang punya pendapat sih?! Jadi keilangan improvisasi gitu?! Jadi nggak asyik ngobrolnya?!” ujar Dinda.

“Adek kan lagi mau buat analisis berita, mbak! Jadi otak ini sudah terformat dengan jejalan pendapat para pemikir! Emang jadi kurang asyik ngobrolnya, tapi lebih bermakna! Biar kita nggak terjebak dalam obrolan hoaks juga!”

“Iya juga ya?! Terus nurut adek, buat ngikis hoaks itu gimana?!” kata Dinda.

“Perkuat aja sikap diri! Kalo ada info, disaring dulu sebelum di-sharing! Dan inget, Tuhan sudah nyampein: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya! Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungan jawabnya! Itu ada di Alqur’an surat Al-Isra ayat 36!”

“Jadi harus dipertimbangin mateng-mateng sebelum nanggepin sesuatu ya, dek?! Pertimbangan lahiriyah dan batiniyah?!”

“Iya, eloknya ya harus gitu, mbak?! Karena seperti kata Aristoteles: manusia adalah jiwa yang berbadan dan badan yang berjiwa! Persoalannya; sebersih apakah jiwa kita?! Hanya kita dan Tuhan yang tau jawabnya! Gelorakan semangat introspeksi untuk tak ikutan hoaks-hoaks-kan!” tutur Gilang. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *