Eloknya Me-muda-kan Gus Dur

*Catatan Ringan Dari Acara Klasika

SAAT menerima undangan acara launching & diskusi buku “Gus Dur & Catatan Yang Hilang Makna”, tidak terbayang sama saya siapa si empunya hajat. Atas dasar nawaitu silaturahmi, saya pun mengajak istri untuk menghadiri acara yang dihelat di Woodstairs Cafe tersebut, sekaligus mengganti yasinan malam jumat dengan pencerahan alam pikir dan alam batin.

Sungguh takjub saya saat sampai di tempat acara. Ternyata, si empunya hajat -sekaligus yang melahirkan buku mengupas Gus Dur- itu adalah para kaum muda yang saya kenali idealisme dan integritasnya dalam pergerakan perjuangan membedah potensi diri sebagai khalifah fil ard. Sosok semacam Chepry C Hutabarat atau Een Riansah bukanlah asing bagi saya. Mereka pernah sering terlibat perdialogan dengan saya, meski akhirnya “terjauhkan” karena situasi dan keadaan, dalam beberapa waktu belakangan.

Semangat kebangsaan diteriakkan lewat menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza yang mentradisi pada acara-acara Klasika.

Saya sempat meragukan “kehebatan” para kaum muda intelektual itu sebagai si empunya hajat sekaligus penulis buku bertajuk Gus Dur & Catatan Yang Hilang Makna tersebut. Yang saya kenali, mereka adalah kaum muda yang menggelegak hasrat kemanusiaannya untuk memberi warna guna merefleksikan tugas kehadiran di dunia sebagai sang khalifah. Yang doeloe, lebih sering tercuatkan melalui aksi-aksi turun ke jalan dan meneriakkan idealismenya dengan melawan panasnya sengatan matahari dan ketatnya pengawasan aparat keamanan.

Sungguh, saya takjub dengan “hijrah” yang dilakoni Chepry, Een, dan para sahabat dengan melahirkan Klasika itu. Dua jempol saya acungkan saat berbincang dengan Chepry maupun Een di sela-sela acara yang berlangsung amat manusiawi itu.

Kesederhanaan dan kesetaraan sebagai ajaran Gus Dur juga dilakukan putrinya; Inaya Wahid, dengan dialog ringan sebelum acara launching buku.

Ratusan kaum muda yang Kamis (2-5) malam memenuhi Woodstairs Cafe adalah bukti nyata betapa Klasika -Kelompok Studi Kader- mampu menjadi kawah candradimuka bagi para intelektual muda dalam mengekspresikan kegerahan -dan tentu potensi kemampuan dirinya- secara lebih elegan, elok, dan menebarkan kearifan.

Itu pun tergambar dengan rancaknya pada tuturan sang budayawan senior Iswadi Pratama dalam telaahannya. Bagaimana dengan bahasa-bahasa satir penuh makna, ia membuncahkan sebuah bingkai kemanusiaan dan ketuhanan dalam khalwat batin bagi hadirin. Ditambah pembawaan moderator Muhammad Yunus yang rileks, membawa suasana yang semestinya “tegang” karena acaranya diskusi buku, menjadi cair. Tampilan Yunus yang berkopiah dan berkacamata beberapa kali menarik perhatian saya; kok jadi mirip Gus Dur gini ya…

Putri bungsu Gus Dur, Inaya Wahid, pun tak terjebak dalam kajian “berat” yang selayaknya hadir dalam mengkancah buku yang di-launching.

Menyatu dalam keragaman adalah keindahan yang hadir pada acara besutan Klasika, Kamis (2-5) malam.

Jujur saya kagum, Klasika mampu secara elok membawa Gus Dur masuk dalam dunia kaum muda saat ini, tanpa mesti bertatah-titih manakala membicarakan Gus Dur. Klasika mampu memasukkan Gus Dur sebagai sosok yang amat patut diteladani dan menjadi “buku kehidupan” tanpa rasa sungkan dan ewuh pakewuh.

Suasana yang begitu ringan saat membedah ketokohan setingkat Gus Dur, menjadi kenangan indah. Dan berubah menjadi “serius”, saat saya membaca buku setebal 203 halaman itu. Ternyata, isinya cukup “berat” juga. Namun karena saya masih terbawa suasana riang gembira pada saat bukunya di-launching, kumpulan esai itu saya pelototi. Dan, Alhamdulillah, paa azan subuh, selesai saya membacanya. Selamat untuk Klasika. Teruslah beraksi, berefleksi, dan beraksi lagi. Terimakasih sudah mengundang saya. Allah selalu memberkahi, aamiin, aamiin, aamiin ya robbal alamin. (fajrun najah ahmad)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *