16 views

Bicara Angin

“… semilir angin pun sejuk, menerpa wajah anakku yang cantik jelita, penuh pesona, meruntuhkan jiwa…”
Rangkaian kata itu terdapat di sebuah bingkai indah, di kamar Dinda.

“Apa sih maksudnya mbak pasang kata-kata itu di bingkai gini bagus dan ditaruh di kamar?” tanya Gilang saat cengkrama dengan Dinda di kamarnya, sore tadi.

“Pastinya ya karena sejarahnya,  dek! Itu kalimat puja-puji yang biasa buya omongin saat gendong mbak waktu masih kecil! Tapi bukan sekadar itu sebenernya, dek! Pada kata-kata itu tersimpan sesuatu yang sakral!” kata Dinda.

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Angin yang dijadikan sentral pada kata-kata itu menandakan kalau keindahan itu tak pernah lepas dari alam!”

“Adek nggak nyambung deh, mbak! Ngomongnya filosofis gitu sih?!” sela Gilang.

“Adek perlu pahami dan sadari kalau sesuatu di alam dunia ini yang tak pernah berhenti adalah angin! Dia selalu semilir, selalu hadir dalam kehidupan dimana pun kita!” ucap Dinda.

“Terus gimana, mbak?!”

“Kalau siang, kan ada gantinya; malam! Kalau panas, kan berganti hujan! Ada matahari, ada bulan dan bintang! Begitu siklusnya! Tapi angin nggak pernah berganti, dek! Dia hanya sering diucapkan sebagai udara! Jadi, angin itu sesuatu yang hakiki dan sakral yang diciptakan Tuhan untuk hidup bersama manusia dan makhluk lainnya!” urai Dinda panjang lebar.

“Terus maksudnya bicara angin ini kenapa, mbak?!” kata Gilang.

“Ya biar kita makin sadar aja betapa pentingnya keberadaan angin buat kehidupan ini! Nggak kebayang gimana jadinya kalau hidup ini tanpa angin! Tanpa udara yang selalu semilir! Tanpa sentuhan makhluk tak berjelma itu!” sahut Dinda.

“Tapi kan angin juga yang sering buat masalah dan musibah, mbak! Angin puting beliung misalnya, kan pasti makan korban! Pohon dan rumah bertumbangan! Kalau kehadirannya semilir terus, ya enak-enak aja, mbak?!”

“Kalau soal angin puting beliung dan sebangsanya itu, memang sudah fenomena alam, dek! Sepenuhnya hak Tuhan buat gerakkannya! Yang mesti kita sadari itu bahwa siapa pun kita hidup tak bisa terpisahkan dari angin! Tak bisa hidup tanpa udara!”

“Ya nggak salah sih itu, mbak! Cuma kan angin sering menebar udara nggak sehat juga!” ujar Gilang.

“Contohnya kayak apa, dek?!” tanya Dinda.

“Karena angin, sekarang ini udara di lingkungan kita nggak seger lagi! Sejak jalan tol dibuka, dan kendaraan semua lewat depan rumah, kan debunya jadi nggak karuan! Beterbangan masuk rumah! Itu kan karena angin yang bawanya, mbak?!” jelas Gilang.

“Kalau itu mah bukan salah anginnya, dek! Tapi karena jalanannya nggak bagus! Abis kayak kubangan, disiram batu split tanpa aspal, akhirnya debunya kemana-mana! Jadi kalau ada yang mau disalahin, ya bukan angin!” sahut Dinda.

“Tadi siang ada angin ribut yang buat pohon rubuh, mbak?! Apa bukan angin yang salah itu?!”

“Angin itu sebenernya bukan mau rubuhin pohonnya, dek! Tapi ngukur sekuat apa akar pohon itu! Kalau akarnya nggak kuat, ya rubuhlah! Maka itu, bersahabatlah dengan angin! Sebab dia tak pernah pergi dari kehidupan kita!”

“Gimana caranya bersahabat dengan angin, wong wujudnya aja kita nggak liat, mbak?!” ketus Gilang.

“Kita sadari dan yakini aja kalau dia selalu setia dengan kita! Soal kehadirannya yang semilir atau kencang, jangan pernah kita puji atau caci! Sebab dari angin ini kita bisa belajar banyak tentang hakekat kehidupan! Dan itu hanya berhikmah bagi siapa saja yang menghargainya!” tutur Dinda sambil memandangi kata demi kata yang terbingkai indah di kamarnya. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *