0 views

Bicara Waktu

“MBAK, jangan lama-lamalah silaturahminya itu?! Masak setengah hari cuma ke satu rumah temen doang!” kata Gilang.

“Santai aja sih, dek! Namanya juga lebaran! Kesempatan yang pas buat bisa ngobrol lama-lama!” sahut Dinda.

“Nggak gitu juga kali, mbak! Justru di hari lebaran itu musti atur waktu sebaik mungkin! Jadi bisa banyak yang kita kunjungi buat bermaaf-maafan!”

“Adek nggak usah bicara soal waktu sama mbak ya?! Ngertilah mbak ngaturnya!” sela Dinda dengan nada kurang suka.

“Maksudnya gimana sih, mbak? Adek kan cuma ingetin aja, biar mbak gunain waktu efektif efisien! Bicaranya kualitas silaturahmi, bukan kongkownya yang dilamain!” ucap Gilang.

“Adek perlu tahu ya, kalo urusan ngatur waktu, mbak sudah terlatih! Jadi mbak paham kapan harus bermain dengan waktu!”

“Adek malah nggak paham apa yang mbak maksud lo?!”

“Makanya jangan bisanya protes aja! Tapi pahami juga kenapa mbak lama-lama silaturahmi ini!” kata Dinda.
“Emang kenapa mbak lama-lama silaturahmi ini?!” tanya Gilang.

“Mbak pengen tahu kenapa kakak Ketua OSIS masih mau adain pergantian pengurus padahal beberapa waktu laku sudah perpisahan?! Dia kan sudah lulus, penggantinya juga sudah ada! Tinggal peresmiannya aja!” urai Dinda.

“O gitu, mbak?! Emang kenapa dia masih mau repot-repot adain reshuffle pengurus ya, mbak?!”
“Ya itu yang lagi mbak pelajari, dek! Makanya mbak lamaan di rumah temen ini! Biar mbak dapet pelajaran dan pengalaman juga!”

“Terus, yang mbak dapetin apa?!” sela Gilang.

“Ternyata, manfaatin waktu sedikit apapun itu amat perlu, dek! Apalagi kalo itu nyangkut kepentingan persaudaraan atau juga pertemanan!”

“Maksudnya gimana, mbak?!”

“Kakak Ketua OSIS itu sadar bener kalo dia punya beban buat nempatin keluarganya, juga keluarga temen-temennya dengan cara masukin mereka dalam kepengurusan sebelum dia bener-bener selesai jadi Ketua OSIS!”

“Emang boleh gitu, mbak?!” ucap Gilang.

“Kalo bicara aturan, ya boleh-boleh aja sih! Nggak ada larangan! Cuma mesti sepengetahuan pembina OSIS! Persoalannya bukan pada boleh apa nggaknya, dek! Tapi etika aja!” jelas Dinda.

“Emang secara etika nggak pas ya, mbak?!”

“Pastinya ya gitulah, dek! Apalagi rencana ganti pengurus itu sebenernya nggak murni maunya Ketua OSIS! Tapi pengurus-pengurus yang selama ini deket dengan dia aja! Kalo sampe ada blunder, yang kena kan Ketua OSIS! Yang kena getahnya kan Ketua OSIS!” kata Dinda.

“Nah lo?! Gimana nanti kalo timbul masalah dan sama Ketua OSIS yang baru dianulir, mbak?!” kata Gilang.

“Itulah yang mbak bilang tadi, dek! Kalo bicara waktu, jangan adek ngeguruin mbak! Karena mbak sudah terlatih soal itu!”

“Maksudnya terlatih gimana sih, mbak?!” tanya Gilang.

“Ya biarlah waktu yang kasih bukti! Nggak perlu kita berandai-andai! Sebab, yang namanya waktu itu misteri! Dan hanya orang penuh misteri yang bisa memainkan waktu dengan apik di ujung kekuasaannya!” kata Dinda lagi. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *