Bicara Perubahan

“ADEK, bangunlah! Sudah siang ini! Ramadhan kan sudah selesai, ya kembali pada kebiasaan bangun pagilah!” kata Dinda membangunkan Gilang, pagi tadi.

“Masih ngantuk lo, mbak! Lagian kan sudah solat subuh! Ya nggak apa-apalah bangun siang!” sahut Gilang sambil molet.

“Itu yang nggak baik, dek! Kalo kemarin waktu Ramadhan, karena bangun sahur, abis subuhan, tidur lagi! Sekarang kan nggak! Semaleman sudah molor, ya mustinya bangun pagi!”

“Tapi masih ngantuk lo, mbak?! Gimana dong?!”

“Paksain buat bangun! Lawan kantuknya! Ayo kembali pada kehidupan sebelumnya! Malah harusnya nambah semangat! Nambah rajin! Bukan malah males-malesan gini!” kata Dinda seraya menarik selimut Gilang.

“Sebentar sih, mbak? Biar nyawa ini kumpul dulu!” sela Gilang.

“Adek, abis Ramadhan itu musti ada perubahan-perubahan! Yang semuanya fokus pada satu titik; kebaikan dan positif! Dan yang namanya perubahan itu sunnatullah! Pasti terjadi dan karenanya kita harus mau dan siap lakuinnya!” ucap Dinda lagi.

“Jadi kita harus mau dan siap nerima perubahan ya, mbak?!”

“Ya iyalah, dek! Karena perubahan itu pasti terjadi! Suka nggak suka kita, yang namanya perubahan itu akan kita temui dalam keseharian kita!”

“Contohnya kayak mana, mbak?!” tanya Gilang yang mulai melek.

“Yang sederhana aja ya? Biasanya kan yang rapihin selimut adek itu asisten rumah tangga! Karena dia lagi pulang buat lebaran dengan keluarganya, ya lakuin sendiri!” ujar Dinda.

“Kalo itu mah adek sudah biasa ngelipet sendiri kok, mbak?! Jadi nggak ngaruh lagi ada asisten rumah tangga maupun nggak?!”

“Ya syukur kalo gitu, dek! Tapi adek tetep harus sadari akan selalu hadirnya perubahan itu! Perubahan dalam arti yang luas lo!”

“Contohnya kayak mana, mbak?!”

“Misalnya, karena dulu adek berteman dengan anak pejabat tinggi, kalo masuk bandara, selalu difasilitasi ruang VIP! Karena sekarang temen adek itu sudah pindah, jangan sekali-kali adek pas di bandara maunya lewat ruang VIP! Sebab adek bukan anaknya pejabat! Adek bukan termasuk orang yang layak dikasih fasilitas lagi!” urai Dinda.

“O gitu, mbak! Jadi perlakuan kayak gitu juga bentuk dari perubahan ya?!” kata Gilang.

“Pastinya ya gitu, dek! Perubahan sikap, perilaku, dan penghargaan orang terhadap kita pasti akan kita alami! Kapan pun dan dimana pun perubahan itu bisa terjadi!”
“Terus gimana biar kita nyaman-nyaman aja nerima perubahan kayak gitu, mbak?!” ucap Gilang.

“Ya kita sadar diri aja, dek! Pake ilmu tahu diri! Jadi diri sendiri aja! Kalo kemarin-kemarin difasilitasi, sadari apa penyebabnya! Kalo karena kekuasaan dan sekarang nggak pegang kekuasaan lagi, ya kembali aja pada diri kita saat ini!”

“Sebenernya hakekat sadar perubahan itu apa sih, mbak?!”

“Bahwa kita musti tetep nginjek bumi, dek! Kembali ke diri kita saat ini! Persoalannya; tak mudah buat kita segera menyadari kalo kehidupan ini sudah berubah! Padahal, perubahan itu sudah terjadi!” tutur Dinda. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *