Bicara Kompetisi

“BAKAL banyak tontonan bola ini, mbak?! Asyik jadinya ngisi liburan ini! Nggak cuma main gadget aja!” kata Gilang, sore tadi.

“Emang gitu, dek? Iya adek suka nonton bola, mbak kan nggak?! Jadi nggak ngaruh mau banyak pertandingan bola juga!?” sahut Dinda.

“Bukannya mbak dulu suka nonton pertandingan sepakbola?! Sampe tidur-tidur di pangkuan buya?!”

“Itu kan waktu masih bayi, dek! Karena buya pengen nonton piala dunia 2004 nggak ada kawannya, mbak yang lagi tidur, diangkatnya! Ditaruh di pangkuan! Jadi buya ngerasa ditemenin! Padahal mbak ya molor aja!” kata Dinda sambil ketawa.

“Kalo sekarang, pasti mbak mau nontonnya kok! Ada piala dunia wanita! Baru mulai kompetisinya! Seru tau mbak?! Ada hiburannya juga?!” ujar Gilang.

“Kalo bicara kompetisinya, mbak suka! Tapi nonton bolanya nggak deh!”

“Maksudnya gimana sih, mbak?!” sela Gilang.

“Iya, kalo adek ngajak bicara soal kompetisi, mbak suka! Sebab dengan adanya kompetisi itu akan lahir persaingan-persaingan! Akan terjadi proses perbaikan-perbaikan! Maksimalisasi peran, fungsi dan pelayanan! Dan sekarang ini, kompetisi itu mesti digalakkan, biar terus terjadi peningkatan di semua sisi kehidupan!” kata Dinda panjang lebar.

“Lho, kok mbak ngomongnya pake bahasa pejabat gitu ya?! Emang abis nonton apaan tadi?!”

“Hehehe.. tadi mbak nonton di tv kalo pemerintah lagi mau buat kompetisi di dunia penerbangan dengan mempersilakan maskapai asing buka rute domestik di negeri kita! Terus ada juga rencana buka kesempatan seluas-luasnya bagi dosen-dosen luar negeri buat ngajar di perguruan tinggi kita! Ini semua bagus, dek! Biar suasana kompetisi makin terbangun!” jelas Dinda.

“O gitu, mbak! Emang sudah siap maskapai dalam negeri bersaing dengan maskapai luar?! Bukannya itu nanti malah ngebunuh maskapai asal negeri kita sendiri?! Jangan karena omongan menteri buat nurunin harga tiket kayak dicuekin maskapai-maskapai kita, terus jadi alasan buka pintu lebar-lebar untuk maskapai luar dong?!” ucap Gilang.

“Dunia sekarang ini kan emang sudah eranya kompetisi, dek! Jadi ya yang terbaik itulah yang akan survive! Kalo mau tetep eksis, ya tingkatin kualitas! Itu aja kata kuncinya!”

“Tapi kan nggak sesederhana itu kenyataan nantinya, mbak?! Kenapa nggak segala hal milik negeri sendiri aja yang terus dibagusin! Ditingkatin kualitasnya! Biar setara dengan apapun yang dari luar sana?!”

“Wah, kalo pake pola pembinaan gitu lama, dek! Era sekarang kan maunya yang praktis-praktis aja! Kan harus nunjukin kalo negeri ini juga sudah modern, sudah jadi negara maju juga! Bukan negara berkembang lagi!” kata Dinda.

“Lha, salah satu tugas pemerintah itu kan ngebina dan ngembangin potensi yang dimiliki anak bangsa, mbak?! Kalo mikirnya kelamaan, terus main cepet dengan buka kran besar-besar buat masuknya apa aja dari negara lain, gimana nanti nasib anak-anak bangsa ini ke depannya?! Bisa-bisa kayak pembantu di rumah sendiri dong?!”

“Ya, bisa aja nantinya terjadi kayak gitu, dek! Kita nggak tau dan belum tentu rasainnya! Yang pasti semangat kompetisi itu lagi jadi trend pemerintahan sekarang! Jadi siapin diri aja baik-baik, kalo nggak mau tertinggal dalam dunia yang serba kompetitif ini!” tutur Dinda. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *