0 views

Bicara Konsolidasi

“MBAK, adek ditugasin bentuk tim futsal junior! Gimana ya memulainya?!” kata Gilang sepulang latihan, sore tadi.

“Wah, sip itu, dek! Berarti adek dipercaya! Gampang aja kok memulainya! Adek mainkan aja pola konsolidasi!” kata Dinda.

“Maksudnya mainin pola konsolidasi itu gimana, mbak?!”

“Adek fokus dengan pola itu aja! Dimulai dari konsolidasi personal! Terus konsolidasi organisasi, lanjutannya konsolidasi program! Kalo adek lakuin dengan konsisten dan disiplin, pasti kebangun tim yang hebat!” lanjut Dinda.

“Jelasin satu-satu dong maksudnya itu, mbak? Bicara konsolidasi gini kan barang baru buat adek!” aku Gilang, terus terang.

“Gitu aja kok mesti diurai satu-satu sih, dek?! Tapi biar adek mudeng, mbak jelasin deh! Maksudnya konsolidasi personal itu adek harus ngenal bener setiap yang mau dijadiin pemain tim junior dengan baik! Bicaranya kemampuan! Bukan kedekatan! Bukan karena selama ini emang sudah berteman! Apalagi atas dasar sekelik ekam alias sodara saya!” kata Dinda.

“Jadi harus ngehindarin yang sudah dikenal sebelumnya, gitu ya mbak?!” sela Gilang.

“Ya nggak gitu juga maksudnya, dek! Prioritasnya itu pada kemampuannya! Kebetulan aja sudah kenal! Kebetulan aja masih sodara! Tapi konsistensinya pada kemampuan personalnya! Soal hubungan deket dan lain-lainnya itu nomer 13!”

“Intinya harus seleksi dengan profesionallah ya, mbak?! Ukurannya kualitas permainan! Perlu juga ditambah dengan kemampuannya main dalam tim juga ya, mbak?!”

“Ya pastinya gitulah, dek! Kan ini buat bentuk tim! Bukan perseorangan! Kalo itu sudah tertata, lanjutannya konsolidasi organisasi!” ujar Dinda.
“Apa maksudnya ini, mbak?!” tanya Gilang.

“Kan personalnya sudah ketauan siapa-siapa yang layak masuk tim junior! Baru soal penempatannya diatur! Yang badannya gempel, nggak gampang nyerah, taruh jadi pemain belakang! Tugasnya ngejaga lawan! Yang kuat fisiknya, tendangannya kenceng dan lincah, tempatin jadi pemain depan! Buat ngerobek gawang lawan!”

“O gitu, terus yang dimaksud konsolidasi program itu apaan, mbak?!” tanya Gilang.

“Personal sudah oke, pembagian tugas organisasi tim sudah sip, giliran ngatur program dengan baik! Mulai dari pola latihan, latih tanding sampe turnamen apa aja yang mau diikuti berikut targetnya!” jelas Dinda.
“Sip kalo gitu, mbak! Adek bisa siapin tim junior ini dalam waktu singkat dan jadi tim hebat!” kata Gilang dengan optimis.

“Syukur kalo adek semangat gini! Cuma jangan lupakan perlunya semua itu dilakuin dengan kedisiplinan yang tinggi, dek! Dengan tetep nyadarin kalo yang diutamain adalah kepentingan tim! Bukan individu! Jadi adek nggak boleh pilih kasih!” Dinda mengingatkan.

“Iya adek tau kok! Ukurannya kan harus pada kemampuan personal yang bisa maksimal buat kepentingan tim! Gitukan, mbak?!” kata Gilang.
“Iya emang harus gitu, dek! Sekali adek nggak konsisten pegang fatsun itu, kepentingan tim yang dipertaruhkan! Dan banyak tim hebat jadi compang-camping cuma karena sang pelatih terjebak dalam pola pilih kasih! Ditambah juga sang pelatih sukanya disanjung-sanjung terus plus alergi kalo dikritik atau dikasih masukan! Kloplah sudah tanda-tanda kehancuran sebuah tim, sehebat apapun personal di dalamnya!” tutur Dinda.

“Emang ada yang kayak gitu ya, mbak?!”
“Ya adalah, dek! Makanya dalam setiap moment itu maksimalkan untuk ngebuat perbedaan! Bukan ngukir sejarah!” lanjut Dinda. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *