15 views

Bicara Move On

“MENANG nggak dek ikut pertandingannya?!” sapa Dinda saat Gilang sampai di rumah, sore tadi.
“Masuk 7 besar dari 32 tim yang tanding, mbak! Alhamdulillah!” sahut Gilang.

“Lho, emang adek tadi itu tanding apa ya? Kok banyak bener gitu pesertanya?!”

“Adek kan ikut lomba games, mbak! PBG -pobji-! Yang jadi peserta itu emang yang diundang panitianya, nggak daftar, mbak! Dan itu para pemain games PBG se-Lampung!”

“O gitu? Kirain mbak, tadi itu adek tanding futsal kayak biasanya!”

“Bukan, mbak! Belakangan kan adek ikut tim games PBG! Dengan kakak-kakak kelas?!” ucap Gilang.

“Kenapa kok jadi lebih aktif ke main games ketimbang futsal! Kan adek sudah dikenal sebagai pemain futsal! Kalo jadi pemain games kan mulai dari awal lagi!” kata Dinda.

“Pengen suasana baru aja, mbak! Biar tetep move on!”
“Orang yang pengen move on itu biasanya karena abis keilangan sesuatu atau ngalami sesuatu yang nggak ngenakin, dek! Kalo masih di zona nyaman, ya nggak mikirin soal move on!” ujar Dinda.

“Move on itu kan intinya berani lakuin perubahan, mbak! Nggak monoton! Berani keluar dari zona nyaman yang bisa aja nanti nge-ninabobok-in kita! Jadi orang mau move on nggak selalu karena abis ngalami sesuatu yang nggak ngenakin aja, mbak! Pikiran ini yang mestinya dikembangin!” urai Gilang.

“Tapi itu bicara move on yang nggak lazim, dek! Itu namanya buat teori untuk benerin mau-mau kita sendiri?!” sela Dinda.

“Lha, emang nggak boleh kita lahirin suatu teori atas dasar keyakinan kita sendiri, mbak?! Ya boleh-boleh ajalah! Yang nggak boleh itu kalo teori yang kita yakini itu bakal ngeberangus kepentingan orang lain! Bicara move on itu kan amat personal! Buat diri kita sendiri! Yang belum tentu teori orang bakal bisa kita jalani! Karena kita beda karakter! Beda pemahaman soal kehidupan! Dan nggak sama yang jadi nawaitu buat move on itu sendiri!” kata Gilang.

“Tapi kan nggak lazim gaya move on versi ini, dek?! Biasanya orang harus move on atau bangkit melakukan perubahan itu setelah ngalami sesuatu yang buat dia terpuruk! Atau abis keilangan sesuatu yang selama ini begitu bermakna buat dirinya! Kalo adek ini kan nggak! Selama ini asyik-asyik aja jadi andalan tim futsal, tiba-tiba berubah ke pemain games! Itu namanya bukan move on tapi adek berusaha ngalihin hobi sebelum jenuh dengan hobi yang lama!” kata Dinda.

“Itu versi mbak, ya nggak apa-apa! Inti move on itu kan lakuin perubahan, mbak! Dan buat itu semua dibutuhin keberanian juga kerendahan hati!”

“Jadi maksudnya, orang yang bisa move on cuma yang punya keberanian dan kerendahan hati, gitu ya dek?!” tanya Dinda.

“Iya, bener itu, mbak! Kalo kawan adek bilang; move on yang sejati itu tidak akan terjadi pada mereka yang ragu, pengecut, dan menyombongkan diri! Makanya, walo adek dikenal sebagai pemain futsal, nggak ragu buat beralih ke permainan lain! Dan bener-bener mau belajar dari awal, tanpa nyombongin diri kalo adek jago di permainan futsal! Inget aja pesen para leluhur; lain lubuk, lain ikannya!”

“Okelah mbak pahami alur pikir adek ini! Tapi bicara move on nggak kayak yang adek omongin!” ucap Dinda lagi.

“Yang mbak tau dan yakini soal move on itu kayak mana emangnya?!” sela Gilang.

“Move on itu jadi semangat buat bangkit lagi bagi mereka-mereka yang ngalami sesuatu yang nggak ngenakin dalam hidupnya! Misalnya keilangan jabatan! Nah, buat move on, mereka akan menyibukkan diri dengan hal-hal lain yang selama ini nggak dianggepnya tapi sebenernya dia punya tanggungjawab juga disana?!”

“Nggak salah move on yang mbak yakini itu! Cuma kalo pola itu yang dijadikan gaya buat move on, akan banyak orang yang tersakiti! Karena mereka yang memaksakan dirinya buat move on, akan lakuin apa aja agar orang menilai kalo dia tetep eksis! Dia nggak peduli dengan apa yang sudah dilakuin atau disiapin orang lain! Baginya yang penting bisa dilihat orang kalo tetep survive! Padahal move on yang hakiki itu lakuin perubahan pada diri sendiri! Untuk bisa bawa kebaikan buat sesama! Bukan sebaliknya! Karena pengen move on, orang lain yang dijadiin bantalan! Perilaku salah kaprah ini yang sering jadi ketawaan orang!” kata Gilang, sambil cengengesan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *