21 views

Pancasila; Benteng Arus Globalisasi

Penulis : Reka Punnata

DI zaman modern ini memunculkan era globalisasi yang indikatornya adalah kemajuan teknologi dan informasi. Kemunculan teknologi dan informasi sebagai eksistensi dari ilmu. Teknologi muncul atas fenomena kebiasaan-kebiasaan manusia. Kemanfaatan teknologi untuk menggantikan “kebiasaan” manusia dan membantu “menyederhanakan” tugas manusia. Manusia sifatnya praktis/efisien (pingin cepat) lalu lahir/hadir wujud teknologi sebagai alat praktis.

Munculnya teknologi informasi bukan tanpa masalah, munculnya teknologi informasi bila tidak disiapkan dengan pengelolaan dengan baik maka akan memunculkan budaya negatif. Terbukanya akses informasi akan memunculkan keberagaman budaya modern yang setiap orang bisa ikut terjebak dalam arus modernisasi itu. Padahal modernisasi walaupun tidak semua modernisme itu bahaya, bisa menyebabkan lunturnya nilai nasionalisme. terutama dibidang kearifan budaya lokal.

Teknologi informasi hendaknya menjadi alat untuk membangkitkan nilai-nilai pancasila. Pancasila sebagai tameng kekuatan dalam menghadapi dunia globalisasi karena pancasila dengan kesaktiannya digali berdasarkan budaya asli masyarakatnya sesuai dengan wilayah/daerah masing-masing.
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang memiliki berbagai macam ragam budaya. Sehingga menimbulkan keanekaragaman institusi dalam masyarakat. Institusi adalah suatu konsep sosiologis yang paling luas digunakan, walau memiliki pengertian yang berlainan.

Koentjaraningrat mengatakan, bahwa seluruh total dari kelakuan manusia yang berpola tertentu bisa diperinci menurut fungsi-fungsi khasnya dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam bermasyarakat. Maka pola pikir, pola tindak dan fungsi sistem sosial budaya Indonesia merupakan institusi sosial, yaitu suatu sistem yang menunjukkan bahwa peranan sosial dan norma-norma saling berkait, yang telah disusun guna memuaskan suatu kehendak atau fungsi sosial.
Masyarakat mempunyai bentuk-bentuk struktural, yang dinamakan struktur sosial. Struktur sosial ini bersifat statis dan bentuk dinamika masyarakat disebut proses sosial dan perubahan sosial. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.

Pancasila dengan pola pikir sistem sosial budaya Indonesia sebagaimana terdapat di dalamnya butir-butir sebagai berikut; Sila Pertama, mengandung arti bahwa Kehidupan Beragama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus dapat mewujudkan kepribadian Bangsa Indonesia yang percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sila Kedua, yang artinya Kemanusiaan yang berasal dari kata manusia, yaitu makhluk yang paling sempurna dari makhluk–makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kata adil memiliki arti bahwa suatu keputusan dan tindakan didasarkan atas ukuran/norma-norma yang obyektif, dan tidak subyektif, sehingga tidak sewenang-wenang. Kata beradab berasal dari kata adab, yang memiliki arti budaya. Jadi adab mengandung arti berbudaya, yaitu sikap hidup, keputusan dan tindakan yang selalu dilandasi oleh nilai-nilai budaya, terutama norma – norma sosial universal dan kesusilaan/ moral yang ada di masyarakat. Sila Ketiga, artinya NKRI adalah negara persatuan yang mendasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini berarti bahwa penyelenggaraan kehidupan negara harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Sila Keempat, artinya Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, menyatukan perbedaan yang tidak diakhiri dengan perpecahan atau perpisahan, maupun pertentangan. Dalam NKRI berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan, kehidupan pribadi atau keluarga dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus mampu memilih perwakilannya dan pemimpinnya yang dapat bermusyawarah untuk mufakat dalam mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan golongan dan perseorangan demi terselenggaranya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat yang bermoral. Sila Kelima, artinya letak geografis, sumber daya dalam berbangsa dan bernegara harus mempunyai ketahan dan keamanan yang berkeadilan bagi semua rakyat.

Dengan merefleksikan kembali nilai-nilai kebudayaan maka kehadiran teknologi informasi bisa di atasi dengan baik. Teknologi menjadi alat untuk membangun kembali peradaban indonesia. Peradaban tersebut ditekankan pada upaya membangkitkan kebudayaan lokal diantarannya bangga memakai pakaian asli daerah, melestarikan dan mengembangkan rumah adat, masyarakat kembali ke konsumsi asli daerah sesuai dengan hasil buminya (kultur iklim alam/tanah-cuaca); Pengelolaan lahan dengan menjaga alam (bali dgn tampak siringnya (padi-(pertanian), dan menjaga lingkungan (desa adat; bali, nias, toraja dll.). Menjaga dan melestarikan bahasa daerah, menjaga budaya dalam kontek sosiologi (Sosial-budaya-Estetika=keindahan)  mereboisasi kembali hutan dengan penanaman pohon produksi: Kayu sebagai sumber pendapatan dan membangun budaya lokal (rumah kyu/sesuai ciri khas pendudk). Karena pangan juga bisa menjadi transformasi budaya (gandum/tepung terigu, kfc dll). Dengan pendekatan budaya juga bisa dijadikan sebagai pusat kebangkitan pangan, menemukan pangan baru, memaksimalkan potensi pangan yg berkembang-dikelola oleh masyarakat dan pengelolaan makanan dari bahan mentah menjadi bahan siap dikonsumsi.

Refleksi Kebudayaan Nasional adalah sebagai buah usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan didaerah-daerah seluruh Indonesia. Kebudayaan harus menuju kearah kemajuan serta tidak menolak “bahan-bahan” baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Setiap pribadi atau keluarga dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Dan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu harus dijamin kemerdekaannya.

Dengan demikian proses sistem sosial budaya Indonesia sebagai bagian yang tidak dapat terpisahkan dari proses pembangunan nasional. Pengamalan Pancasila, yang pada hakikatnya pembangunan seluruh rakyat Indonesia. Maka pada dasarnya proses sistem sosial budaya Indonesia selalu berkaitan dengan pembangunan sosial di mana ia berlangsung beriringan dengan pembangunan nasional, bahkan kadang bisa mendahului pembangunan nasional agar masyarakat dapat menerima pembaharuan sebagai hasil pembangunan nasional.

Pembangunan nasional merupakan suatu upaya melakukan transformasi atau perubahan dalam masyarakat, yaitu tranformasi budaya masyarakat agraris tradisional menuju budaya masyarakat industri modern dan masyarakat informasi yang tetap berkepribadian Indonesia.

Penguatan pola tindak sistem sosial budaya indonesia harus mulai “dibumikan” kembali, pola tindak, Persatuan dan kesatuan hanya terwujud melalui Gotong royong suatu sikap kebersamaan dan tenggang rasa, baik dalam duka maupun suka.
Tujuan dimaksud akan cepat dicapai jika disempurnakan dengan campur tangan agama masing-masing penduduknya. Karena kesempurnaan hanya dapat dicapai oleh manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Secara khusus, agama didefinisikan sebagai suatu sistem keyakinan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasikan dan memberi tanggapan terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Dengan kata lain, agama membimbing manusia untuk menemukan hakikat hidupnya, hakikat hidup bahwa manusia adalah yang bermanfaat untuk oraang lain dan lingkungan serta tunduk dan patuh terhadap TuhanNya.(*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *