25 views

Bicara Keadilan

“Mbak, maaf ya …Adek dapet kabar kalau mbak lagi ngobrol dengan temen Mbak di depan kelasnya, diusir sama pak satpam ya?! Maklumin aja ya Mbak, pak satpam cuma jalanin tugas aja kok “ kata Gilang pada Dinda, sore tadi saat pulang sekolah.

“Adek ngga perlu minta maaf kog, kan bukan Adek yang salah! Mbak juga faham kalau pak satpam bertindak tegas gitu. Cuma yang Mbak seselin kenapa harus keluarin kata-kata kasar ! Ngomongnya itu nyelekit dek ! Buat mbak sedih, mana ngga adil pula ! Mbak diusir, yang lain nggak!” Ucap Dinda sambil menahan gejolak di jiwanya.

Ya memang ada-ada aja cerita kehidupan ini setiap harinya, Mbak… ada yang menyenangkan, adapula yang menyedihkan. Apalagi kalau bicara keadilan, memang musti pandai-pandai kita meletakkannya! Agar kita tidak merasa disepelekan!”

“Maksudnya pandai-pandai meletakkan keadilan itu gimana dek?” Tanya Dinda.

Yang Adek tau, keadilan itu tuntutan akal dan juga syariat, Mbak! Keadilan adalah tidak berlebih-lebihan, tidak melampaui batas, Tidak memboros-Boroskan, Tidak menghambur-hamburkan!” Kata Gilang.

Kongkritnya gimana dek! Ngomongnya jangan pake gaya filosof gitulah..” sela Dinda.

“Intinya, letakkan keadilan itu sesuai kadarnya, mbak! Kita harus bisa bersikap adil dalam kerelaan dan kemurkaannya! Juga adil dalam kegembiraan dan kesedihannya! Tindakan yang melampai batas dalam menyikapi suatu peristiwa, tak lain wujud kedzaliman kita terhadap diri sendiri! Ini yang musti dihindari, Mbak!”

“Jadi gimana kalau kita merasa dapetin sesuatu yang nggak adil, dek?”

“Dibawa santai dan enjoy-enjoy aja, Mbak! Kan kehidupan ini berjalan sesuai dengan konsep keadilan juga! Jadi nggak perlu diberatin! Nggak perlu soal keadilan itu membebani pikiran dan perasaan! Dudukkan saja hati kita di kursinya!”

“Jadi walau gimana kita ngerasa nggak diperlakukan dengan adil, kita musti tetep nyaman-nyaman aja ya, dek! Tetep dibawa enteng-enteng aja ya? Ucap Dinda.

“Bener itu Mbak! Sebab kalau kita bawa berat, atau justru membebani, seluruh sudut kehidupan ini jadi makin gelap! Dan kebencian, kedengkian serta dendam pun mudah bergolak dalam jiwa, ini yang harus dihindari! Kalau kita nggak mampu kendaliinnya, bisa-bisa kita hidup dalam dunia ilusi dan khayalan!” Urai Gilang.

“Maksudnya gimana dek?” Sela Dinda.

“Kalau nggak bisa ngendaliin gejolak jiwa yang ngerasa seisi dunia ini musuhin kita, Mbak! Jadi mudah curiga! Selalu was – was! Akibatnya kita akan hidup dibawah naungan awan gelap kecemasan, kegelisahan dan kegundahan! Dan itu cuma ngerugiin diri kita sendiri!”

Jadi yang pas kita musti gimana nyikapi soal keadilan itu dek?”

“Tempatkan segala sesuatu sesuai dengan ukurannya, Mbak! Jangan membesar-besarkannya! Hadapi segala sesuatu dengan hati yang tenang. Tetap jaga keseimbangan antara kecintaan dan kebencian. Nabi Muhammad SAW sudah berpesan ; cintailah orang yang kita sayangi sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi musuhmu! Dan bencilah musuhmu sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi orang yang kita cintai!” Tutur Gilang sambil memeluk Dinda. Pelukan penuh ungkapan kasih sayang untuk terus saling menguatkan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *