264 views

Pengamat Nilai Tiga Petahana Masih “Loyo”

HARIANFOKUS.com – 2020, Lampung akan menggelar pilkada serentak di 8 kabupaten/kota. Pilkada tahun depan ini di prediksi akan seru karena akan ada tarung ulang atau rematch dengan seteru lamanya, dan juga pertarungan petahana dengan calon pendatang baru yang memiliki modal besar, tentunya akan tambah menarik untuk disaksikan.

Petahana yang dinilai masih perkasa, bukan berarti tidak bisa ditumbangkan. Ada beberapa petahana yang dinilai masih “loyo” dan wajib mewaspadai calon pendatang baru. Seperti petahana di Lampung Tengah (Loekman Djoyosoemarto) akan ditantang oleh paslon Musa – Dito, di Lampung Selatan (Nanang Ermanto) akan melawan politisi kawakan Tony Eka Chandra, dan Lampung Timur (Zaiful Bukhori) akan ditantang suami Wakil Gubernur Chusnuni Chalim, Erry Ayudhiansyah.

Sementara, petahana yang dinilai masih perkasa adalah petahana di Way Kanan (Raden Adipati), Pesawaran (Dendi Ramadhona), dan Pesisir Barat (Agus Istiqlal).

Pengamat Politik Lampung, Hertanto menyampaikan, sesuai aturan yang berlaku dalam pilkada, semua calon punya peluang yang sama untuk menang/kalah. Baik petahana maupun pendatang baru.

“Namun ada keuntungan untuk petahana di Way Kanan, Pesawaran, & Pesibar, karena popularitas mereka lebih banyak melalui kebijakan & interaksi dengan warga/pemilih selama kurun waktu 5 tahun periode jabatan,” kata dia, Senin (18/11).

Sedangkan petahana di Lamsel & Lamtim adalah hasil PAW, yang posisi sebelumnya sebagai wakil kepala daerah. Sehingga kebijakan & interaksinya dengan warga/calon pemilih lebih kecil.

“Karena itu, secara umum walaupun peluang petahana lebih besar, namun mereka perlu mewaspadai para calon penantang & pendatang baru,” ungkap Ketua Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan FISIP Unila ini.

Penguasaan strategi pemenangan tegas Mantan Dekan FISIP Unila periode 2004-2008 ini, dengan bertumpu pada modal politik, ekonomi, dan sosial perlu lebih diprioritas bagi semua calon pilkada untuk mendongkrak popularitas & elektabilitasnya.

“Tak kalah penting juga modal rekam jejak kinerja & integritas para calon, baik petahana maupun penantang,” bebernya.

Terpisah, Pengamat Politik juga Robi Cahyadi menambahkan, bahwa peluang incumbent masih cukup besar pada pilkada tahun mendatang.

Menurut dosen Fisip Unila ini ada beberapa faktor yang membuat incumbent memiliki faktor peluang besar. Seperti, incumbent memiliki waktu sosialisasi lebih dahulu ketimbang calon pendatang baru.

“Incumbent punya peluang besar jika mju kembali dalan pilkada karena beberapa faktor, misalnya sosialisasi lebih dahulu dan kekuasaan terhadap birokrasi bisa digunakan,”ujar Robi.

Incumbent juga menurut Robi berpotensi melakukan politisasi anggaran, sehingga kegiatan kampanye dapat dibungkus dengan program pemda.

“Anggaran pemda bisa digunakan,” tandasnya.(win)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *