41 views

Bicara Kebersamaan

“KASIHAN kawan adek, mbak! Waktu makan sahur pertama tadi, bapaknya nggak ada! Lagi tugas di rumah sakit nangani pasien corona!” kata Gilang.

“Nggak ada itu maksudnya nggak ikutan sahur bareng keluarga, gitu ya, dek?!” tanya Dinda.
“Iya gitu maksudnya, mbak! Ni kawan adek nge-wa! Bilang kalau sahur pertamanya penuh kesedihan, karena tanpa kehadiran si bapak! Bapaknya cuma bisa menyapa lewat vical saat mereka makan sahur tadi! Paling baru pas sahur dan buka puasa ketiga nanti mereka kumpul lengkapnya!” jelas Gilang.

“Terus adek jawab apa?!”

“Adek bilang yang sabar aja! Toh walau bapakmu nggak bisa sahur bareng, kehadirannya terwakili dengan vical-nya!” ucap Gilang.

“Lebay kawan adek itu! Gitu aja ngeluh! Biasa-biasa aja kali?!” sela Dinda.

“Kasihanlah, mbak! Wajar dia sedih karena pas sahur pertama, bapaknya nggak bisa makan bareng istri dan anak-anaknya!” kata Gilang.

“Hahaha..! Adek ini aneh! Nanggepin keluhan kawan yang ngeluhin gitu aja sampai ngedalem! Adek sadar nggak dengan yang kita alami dan rasain?!” ujar Dinda.

“Emang kita kenapa, mbak?!” Gilang bertanya.

“Lha, yang kita alami sama dengan yang dialami kawan adek yang lebay itu! Kita makan sahur kan tanpa kehadiran buya! Sadar nggak sih adek ini!” kata Dinda.

“Subhanallah! Iya juga ya, mbak! Kok adek nggak nyambung ya?! Baru sadar adek kalau buya nggak ikut makan sahur bareng sama kita! Bahkan buya nggak bisa vical-an kayak bapak kawan adek itu ya! Sore kemarin aja buya sempet telepon mama dan juga ngomong sama kita lewat wartelsus dari tempatnya mondok, kasih wejangan dan semangat buat kita masuki bulan puasa ini! Sorry, mbak! Adek lupa bener kalau sebenernya nasib kawan itu lebih bagus! Bapaknya bisa vical pas mereka sahur dan tiga hari ke depan sudah bisa sahur dan buka puasa bersama! Kalau kita, sampai Idhul Fitri dateng pun, nggak bakal bisa bareng buya!” kata Gilang panjang lebar.

“Syukur kalau adek sadar diri! Memang kita nggak rasa-rasa sih kalau buya sebenernya lagi nggak bersama kita! Bayangan dan hati kita tetep aja ngerasa ya buya ada sama kita!” tutur Dinda.

“Iya, kok bisa gitu ya, mbak?!” tanya Gilang.

“Karena rasa kebersamaan yang ada di kita sudah naik levelnya, dek!”

“Maksudnya kayak mana sih, mbak?!”
“Kebersamaan bagi kita bukan diukur dalam kedekatan lahiriyah! Tapi lebih kepada ikatan batin! Dominannya suara batin yang memenuhi perasaan dan pikiran kita itulah, membuat berjaraknya lahiriyah, tak kita rasakan! Dan inilah hakekat dari kebersamaan yang sesungguhnya!” jelas Dinda.

“Jadi sebenernya ukuran kebersamaan itu lebih kepada batin ya, mbak? Lahiriyah pelengkapnya! Gitu ya?!”

“Bener! Pinter emang adek kesayangan mbak ini! Cepet nyambung dan nggak gampang lupa!” kata Dinda sambil memeluk Gilang.

“Apaan sih mbak ini! Risih tahu dipeluk-peluk gini! Lagian obrolan kita kan belum tuntas!” ucap Gilang dan berusaha melepaskan pelukan Dinda.

“Apa lagi yang mau adek sampein emangnya?!”

“Gimana biar rasa kebersamaan itu dominan pada ikatan batinnya ketimbang lahiriyahnya?!” kata Gilang kemudian.

“Sederhana aja kok, ─Ćek! Posisikan diri kita sebagai makhluk yang mau berdekatan atau rasakan kebersamaan dengan Sang Khaliq! Kan lebih banyak melalui pendekatan batin! Lahiriyah melengkapinya!” ujar Dinda.

“Contohnya kayak mana, mbak?!”

“Kita jalani puasa ini misalnya! Lahiriyahnya kita menahan lapar dan haus dari datangnya waktu subuh sampai maghrib nanti! Nggak boleh makan, minum, dan lakuin hal-hal yang bisa batalin puasa! Batiniyahnya kita harus menjaga kebersihan hati dan pikiran kita! Bahwa puasa ini kita lakuin semata-mata karena Allah! Bukan untuk dan karena siapapun diluar Dia Yang Maha Pengasih! Dengan kebersihan batin itu, kebersamaan kita dengan Sang Khaliq akan terbangun! Apalagi amalan puasa ini langsung buat Allah! Kuncinya sederhana; kita sadari bahwa kebersamaan itu terbangun dari tumbuh dan kuatnya ikatan batin! Karena manusia terdiri dari dua unsur; raga dan jiwa, maka raga menjadi pelengkapnya! Bukan kedekatan raga yang jadi ukuran kebersamaan hakiki itu!” ucap Dinda panjang lebar.

“Dan karena kita berserah pada kehendak Allah itulah maka kita nggak ngerasa kalau sebenernya buya lagi nggak bareng kita di Ramadhan kali ini ya, mbak?!” kata Gilang.

“Iya, bener itu, dek! Syukur Alhamdulillah, kita bisa kedepanin kebersamaan dengan kehakikiannya! Sehingga kita nggak jadi lebay atau terpuruk, walau secara fisik, buya saat ini berjarak dengan kita! Inilah indahnya kehidupan kalau kita ikhlas jalani takdir! Dan sesungguhnya, masing-masing kita, punya takdirnya sendiri! Yang tak kan bakal tertukar!” ucap Dinda lagi. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *