15 views

Bicara Dialog

“MBAK itu ngapain sih? Sudah bangun dari tadi, malah nggak keluar-keluar kamar! Jadwalnya kan mbak yang bantuin Mama nyiapin makan sahur ini!” kata Gilang sambil bantu Mama goreng telor ceplok setengah mateng.

“Hayo, adek ngopoin apa ya? Ini mbak sudah disini dan siap ambil alih tugas nyiapin lauk buat sahur!” mendadak

Dinda muncul dengan wajah semringah. “Telat, mbak! Semua sudah adek kerjain sama Mama! Berarti besok mbak tugasnya!” sela Gilang.

“Yo uwis, besok mbak yang siapin buat kita makan sahur ya, dek! Santai aja sih?!” ucap Dinda seraya tersenyum.

“Emang mbak ngapain aja sih di kamar? Kan sudah bangun dari tadi?!” tanya Gilang.

“Mbak lagi dialog, dek! Jadi mbak selesaiin dulu!” ucap Dinda.

“Dialog sama siapa? Wong nggak ada suara apa-apa gitu dari kamar mbak?!”

“Mbak dialog dengan diri sendiri, dek! Jadi ya nggak ada suaralah!”

“Maksudnya gimana sih, mbak? Setahu adek, yang namanya dialog itu kan kayak ngobrol! Berarti ada kawan yang diajak dialog! Ini kok mbak dialog sendirian?! Nganeh-nganeh aja mbak ini!” tutur Gilang.

“Adek, jadi orang itu yang luas wawasan! Yang berani berpikir dan lakuin hal-hal yang nurut pandangan orang banyak dianggep nggak lazim!” ujar Dinda.

“Adek ini tanya gimana dialog sendirian itu, mbak? Nggak butuh ceramah!” ketus Gilang.

“Justru mbak kasih adek pencerahan! Biar adek nggak terheran-heran kalau nemuin sesuatu yang selama ini dianggep orang banyak sebagai hal yang nggak lazim! Dialog yang mbak lakuin itu dialog dengan diri sendiri, dek!” urai Dinda.

“Maksudnya gimana sih, mbak? Adek makin nggak mudeng!”

“Kita ini kan punya hati! Bukan hanya pikiran! Selama ini kita lebih sering bicara atau lakuin sesuatu sesuai maunya pikiran kita aja! Suara hati jarang jadi alasan untuk kita berbuat sesuatu!”

“Iya, terus mbak..?!”

“Nah, tadi mbak dialogin antara suara hati dan pikiran mbak, dek! Mbak kasih kesempatan hati buat nyampein apa aja atas berbagai persoalan yang ada! Mbak dudukkan pikiran sebagai pendengar!” kata Dinda.

“Terus hasil dialog nggak lazimnya ini gimana, mbak?!” tanya Gilang.

“Ternyata, suara hati kita itulah yang dengan fair dan care sampein segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, dek! Nggak ada kebohongan yang diulas sama hati! Karena bersih dari berbagai pengaruh dan kepentingan, suara hati itulah yang bener dan seharusnya jadi pegangan untuk kita!” jelas Dinda panjang lebar.

“Gimana dengan pikiran, mbak? Apa pandangannya?!”

“Memang sering berseberangan sih, dek! Karena pikiran sudah dirasuki banyak pertimbangan! Jadi lebih kepada pola praktis pragmatis yang disampein! Makanya dialog tadi itu seru bener!” tanggap Dinda.

“Gimana rasanya bisa dialog dengan diri sendiri itu, mbak? Dialog antara hati dan pikiran sendiri?!” ucap Gilang.

“Mengasyikkan, dek! Ada proses pembedahan diri secara total! Ada persinggungan yang cukup tajam antara suara hati dan pikiran! Tapi memang lebih adem dan ayem kalau kita bisa lakuin hal-hal dalam hidup ini dengan duluin suara hati, dek!” tutur Dinda.

“Tapi kan nggak mudah nemuin keasyikan dengan pola yang mbak lakuin ini! Karena biasanya dialog itu diwarnai dengan egoisme masing-masing pihak!” kata Gilang.

“Semua emang butuh proses, dek! Nggak ada yang ujug-ujug! Yang jelas, kalau kita sudah biasain dialog dengan diri sendiri, kita pun akan makin sadar diri! Betapa nisbinya kita ini! Betapa ringkihnya kita ini! Dan atas kesadaran itu kita perlu Tuhan! Ternyata, untuk bisa nyatu dengan Tuhan itu mesti diawali dengan dominasinya suara hati dalam perilaku kita! Dan pikiran akan gerakkan badan kita untuk terus istiqomah pada semua yang sudah ditata oleh Tuhan!”

“Mbak yakin dengan dialog gaya ini bisa makin deketin kita sama Tuhan?” tanya Gilang.

“Yakinlah, dek! Karena suara hati adalah sumber dari kesungguhan kita mengakui akan ke-esa-an Tuhan! Dan sebenernya, kita bukanlah apa-apa! Kita cuma jalani skenario yang sudah ditulis Tuhan! Bahkan puluhan tahun sebelum kita dilahirkan! Coba deh dialog total dengan diri sendiri, bakal lebih asyik dibanding kita diskusi dengan kawan! Walau hanya orang-orang tertentu saja yang bisa lakuinnya dengan maksimal! Yaitu orang-orang yang telah ikhlas dengan takdir apapun yang diterimanya!” kata Dinda sambil mengajak Gilang siapkan piring untuk segera makan sahur karena Mama sudah menunggu di meja makan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *