47 views

Bicara Eksibisionisme

“MBAK, kita ini bakalan mudik nggak sih? Kok kayaknya Mama anteng-anteng aja! Nggak ada omongan sama sekali sampai sekarang!” kata Gilang, saat menunggu waktu makan sahur.

“Lah, kan mudik nggak boleh, dek! Dilarang sama pemerintah! Untuk mutus mata rantai penyebaran virus corona, biar nggak sampai di desa-desa!” sahut Dinda.

“Tapi mulai hari ini semua sarana transportasi sudah boleh operasi lagi kok, mbak! Menteri Perhubungan sudah oke-in itu semua!”

“Iya, bener itu! Tapi kan yang boleh manfaatin sarana transportasi yang sudah dinormalkan cuma orang tertentu dengan berbagai kriteria dan persyaratan tertentu pula! Rakyat kebanyakan kayak kita mana boleh gunainnya, dek!”

“Terus buat apa diubah-ubah ketentuannya ya kalau gitu? Malahan dengan aturan baru ini pemerintah sadar nggak sadar jadi pemecah belah kesatuan rakyatnya! Malah ngeberangus kebersamaan yang sudah mulai tumbuh untuk sama-sama ngelawan corona dong?!” ujar Gilang.

“Ya inilah pemerintahan kita sekarang, dek! Buat aturan nggak ngitung dengan cermat dan detail segala sesuatunya! Jadi ya berubah-ubah terus! Belum lagi mau ada relaksasi-lah! Aneh memang! Ditambah antara satu menteri dengan menteri yang lain, sering beda langkah! Padahal masalahnya ya masih sama: melawan wabah corona!”

“Kayak gini ini apaan sih, mbak?! Bikin rakyat kecil bingung aja?” tanya Gilang.

“Kali yang pas buat ngomentari sikap kayak gini ini kita pakai istilah pemerintah terjerumus pada gaya eksibisionisme, dek!” kata Dinda.

“Apa pula istilah itu, mbak? Nyebutnya aja susah!” sela Gilang.

“Eksibisionisme itu mempertontonkan bagian tubuh yang sensitif ke orang lain, dek!”

“Apa kaitannya dengan urusan ini, mbak?”

“Ya kalau diibaratin, kayak gitulah laku para petinggi negeri ini yang lagi siwek-siweknya melawan corona sekarang ini, dek!” ucap Dinda.

“Yang konkret aja sih ngomongnya, mbak! Jangan bersayap melulu!” kata Gilang.

“Ibarat tubuh, pemerintah sudah netepin langkah-langkah buat ngatasi terus merebaknya wabah corona! Salah satunya, semua sarana transportasi ditutup untuk rakyat kebanyakan, bahkan sangat ketat penjagaannya! Dan sudah ngelarang mudik! Pak Jokowi, presiden kita, langsung yang nyampein keputusan itu! Tapi kemudian, anak buah Pak Jokowi, katakanlah tangan kirinya, ambil keputusan semua sarana transportasi boleh jalan lagi! Rakyat sekarang dapet nonton bagian sensitif dari badan pemerintah! Yang ternyata badan dan tangannya beda jauh! Badannya putih, tangannya ireng! Belang-belang pula!” tutur Dinda sambil tertawa.

“Jadi maksudnya sekarang ini justru rakyat yang nontonin laku pemerintah karena ngebuka sendiri sensitifitas kebijakan yang nggak solid, gitu ya mbak?!” kata Gilang.

“Ya semacam itulah, dek! Padahal, dalam ilmu psikologi, orang yang lakuin eksibisionisme itu mayoritas yang masih dibawah umur! Karena dia belum tahu kalau mempertontonkan bagian tubuh yang sensitif ke orang lain itu, saru!” ujar Dinda, masih sambil tertawa. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *