31 views

Bicara Gamang

“NGGAK biasanya gerakan mbak kaku gini? Nggak konsen ya?!” kata Gilang saat melihat Dinda berlatih tari di kamarnya, selepas tadarusan.

“Nggak tahu ini, dek! Perasaan nggak klik bener latihan nari malem ini!” sahut Dinda. Sambil terus mengikuti tembang pengiring tariannya.

“Kalau lagi nggak konsen, ya jangan dipaksainlah, mbak! Istirahat aja dulu!”

“Nggak bisa gitu jugalah, dek! Harus tetep latihannya! Dicoba dan dicoba terus!”

“Ya nggak apa-apa sih kalau memang mbak masih semangat! Cuma adek perhatiin, gerakan mbak nggak ada luwes-luwesnya! Kayak kepaksa gitu, jadi kaku gerakannya!” ujar Gilang.

“Ah, sok tahu adek ini! Penari juga bukan?!” sela Dinda.

“Adek memang bukan penari sih, mbak! Tapi paham dunia koreografi! Jadi bisa nilai saat lihat orang yang lagi nari itu! Konsen apa nggaknya! Bertalenta dan nggaknya!” kata Gilang.

“Iya tah adek paham ngelihat gaya orang waktu nari?!” ucap Dinda, menghentikan gerakan tariannya.

“Pahamlah, mbak! Sudah banyak adek tangani penari selama ini sebagai koreografernya!”

“Nurut adek, kenapa tarian mbak sekarang ini kok jadi nggak luwes?” tanya Dinda.

“Karena mbak lagi gamang! Nggak mantep antara hati dan pikiran mbak! Jadi nggak nyatu dengan apa yang lagi mbak lakuin!” kata Gilang.

“Bener juga itu, dek! Susah konsentrasinya! Gamang itu kali ya? Kenapa pulalah harus gamang ya? Padahal mbak enjoy-enjoy aja lo?!” tutur Dinda.

“Nggak usah maksain cari penyebabnya, mbak! Sekarang ini emang lagi eranya kegamangan! Gamang itu lagi jadi penyakit kronis lainnya selain virus Covid-19!” kata Gilang.

“Maksudnya gimana sih, dek?!”

“Kegamangan itu saat ini lagi ngetrend! Nggak ada konsentrasi! Nggak ada kepastian! Serba plin-plan! Naik turun! Nggak berani terus bersikap teges dan jaga konsistensinya! Penyakit gamang ini lagi nyerang kemana-mana, mbak!” ujar Gilang.

“Konkretnya kegamangan lagi jadi penyakit sekarang ini apa misalnya?” tukas Dinda.

“Urusan nangani virus Covid-19 misalnya! Awalnya kan digelorakan semangat; ayo lawan corona! Banyak aturan dibuat! Sampai-sampai dibuat pembedaan arti pulang kampung sama mudik! Terus dibuat aturan pengendoran-pengendoran setelah ditetepin aturan yang teges trengginas!”

“Iya, terus kayak mana sekarang?”

“Sekarang muncul omongan; ayo berdamai dengan virus corona! Alasannya karena vaksin penawarnya belum ditemuin! Jadi mau nggak mau, ya damai-damai ajalah hidup berdampingan dengan mewabahnya virus corona sekarang ini!” urai Gilang.

“Kok bisa mencla-mencle gitu ya omongannya, dek?! Gimanalah rakyat mau nyikapinya?!”

“Itu wujud kegamangan, mbak! Semua petinggi di negeri ini sudah terserang penyakit itu! Bahkan saking gamangnya, ada yang bilang kita belum berpengalaman nangani corona, jadi ya sabar-sabar aja! Lha kan emang baru ini virus jenis itu nyerang seantero dunia? Emang kemana aja dia selama ini ya?!” ucap Gilang sambil tertawa ngakak.

“Jadi nggak apa-apa dong kalau saat ini mbak gamang juga! Walau resikonya nggak luwes dalam latihan nari ini?!” kata Dinda.

“Ya nggak apa-apalah, mbak! Jangan kan mbak seorang diri, seluruh anak negeri ini sekarang gamang pun ya dimengerti! Karena mulai dari presiden, wakil presiden sampai para pembantunya aja gamang semua!”

“Kalau gitu, negeri kita ini negeri apa dong, dek?!” sela Dinda.
“Negeri gamang, mbak!” kata Gilang. Kali ini sambil tersenyum kecut. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *