14 views

Bicara Bansos

“NGAPAIN sih mbak dari kemarin sibuk ngepakin barang-barang lama? Sampai nggak tarawehan?!” kata Gilang saat makan sahur.

“Lagi ngumpulin pakaian layak pakai yang sudah nggak mbak gunain lagi, dek! Mbak sama temen-temen mau sedekahin ke panti yatim piatu menjelang Lebaran nanti!” sahut Dinda.

“O gitu, mbak? Adek ikutan dong? Nanti adek kumpulin dulu ya pakaian yang selama ini jarang adek pakai?!”

“Bagus kalau adek ikut tergerak juga! Alhamdulillah! Bersedekah itu banyak bawa manfaat dan disukai Allah!” sambut Dinda. Dengan wajah ceria.

“Kenapa nggak kasih sembako aja, mbak? Kan kayaknya itu yang paling penting?” tanya Gilang.
“Memang sempet kepikir sama mbak dan temen-temen untuk berbagi sembako, dek! Tapi dengan kondisi sekarang, kayaknya nggak memungkinkan buat belanja-belanja ke pasar grosir! Lagian kalau sembako kan sudah diurus pemerintah! Lewat program bansos! Kita ambil peran di sisi lain aja!” urai Dinda.

“O, yang disebut bansos alias bantuan sosial dari pemerintah itu isinya sembako to, mbak?!” sela Gilang.

“Iyalah, sembako! Emang adek kira apa?!”

“Kasian amat ya rakyat miskin penerima bansos selama ini!” ucap Gilang.

“Emang kenapa, dek?!”

“Kan soal bansos ini diributin melulu, mbak? Mulai dari soal data yang katanya nggak akurat sampai banyak yang sudah didata sama Pak RT nggak tahunya nggak kebagian!” kata Gilang.

“Emang ada kayak gitu, dek?!” ucap Dinda.

“Mbak dari mana aja ya kok jadi nggak ikuti perkembangan soal pembagian bansos itu? Di Jakarta aja urusan bansos ini nimbulin keributan! Tiga menteri sampai kesel dengan Gubernur Anies Baswedan! Karena dianggep nggak valid data yang disampein!” jelas Gilang.

“O gitu, dek? Kalau di Jakarta yang ibukota negara aja urusan bansos nimbulin keributan para petinggi negeri, gimana dengan di daerah-daerah terpencil dong?!” kata Dinda.

“Itulah adek bilang tadi, mbak! Kasihan amat dengan rakyat miskin yang ngeharep terima bansos isi sembako, nggak tahunya nggak tercatat namanya!” ucap Gilang.

“Iya juga ya, dek! Rakyat lebih ngebutuhin bantuan sembako! Apa mbak ajak temen-temen jual pakaian layak pakai ini terus dibeliin sembako aja ya?!”

“Mau ngejualnya dimana, mbak? Para pedagang baju bekas sekarang ini sudah pada tutup semua! Karena nggak ada pemasukan sudah berbulan-bulan!”

“Oh ya, jadi nggak ada yang jual beli pakaian bekas lagi? Beneran ini, dek?!” sela Dinda. Penasaran.

“Ya benerlah, mbak! Ngapain juga adek boong! Sekarang ini lebih dari 75% pedagang kecil sudah nggak usaha lagi! Mereka justru nunggu bansos untuk kebutuhan sehari-hari!” kata Gilang.

“Jadi nurut adek, tetep pakaian layak pakai inilah yang dikasihin ke panti yatim piatu nanti ya?!”

“Nurut adek ya itu aja, mbak! Soal bansos isinya sembako, biar pemerintah yang lakuinnya! Toh dana yang disediain buat itu nggak terbatas! Kita sebagai rakyat, kalau mau berbagi dengan sesama, baiknya ya yang nggak dilakuin sama pemerintah! Jadi nguatin kerja-kerja pemerintah sekalian nambahin apa yang dibutuhin rakyat miskin!” kata Gilang.

“Dengaren adek ngalemin dan dukung program pemerintah?” kata Dinda sambil tertawa.

“Karena urusan bansos ini nyangkut kepentingan rakyat miskin! Urusan perut wong cilik, mbak! Jadi adek ngedukung dan berharap bisa tersalur sesuai dengan niatnya!”

“Gimana kalau ternyata bansos itu malah jadi bancaan oknum-oknum yang ngurusnya dan ngebagi buat anggota keluarganya aja, dek?!” ujar Dinda.

“Adek doain mereka yang ngemplang bansos akan terserang virus corona!” kata Gilang. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *