22 views

Bicara Lebaran

“KENIKMATAN apa yang paling adek rasain dari Lebaran kali ini?” tanya Dinda pada Gilang sambil menikmati sekubal yang dibeli Mama di Pasar Wayhalim.

“Nikmat sehat! Nikmat iman dan Islam, mbak! Itu kenikmatan yang paling adek rasain pada Lebaran kali ini!” sahut Gilang.

“Cuma itu, dek?” sela Dinda.

“Globalnya ya itu, mbak! Kalo mau diurai, ya panjang! Sekarang bukan jamannya lagi ngurai sesuatu sampe detail! Simpel-simpel aja tapi pas dan mengena!” jelas Gilang.

“Ya nggak gitu juga kali, dek! Ada hal-hal yang bisa disimpelin tapi banyak juga yang perlu diurai!”

“Emang bener sih, mbak! Tapi adek pilih yang simpel-simpel aja! Toh nggak ngurangin maknanya!”

“Contohnya kayak apa, dek?!”

“Ya Lebaran ini, mbak! Biasanya kan kita solat ied di lapangan! Terus silaturahmi ke tetangga kiri-kanan! Kita sungkeman di rumah! Lanjut sowan Nyaik dan Amo sekeluarga! Sekarang kan lebih simpel! Cukup solat ied di rumah! Nggak perlu ke rumah tetangga! Sungkeman di rumah! Dan tetep ke rumah Nyaik! Simpelkan?!” urai Gilang.

“Berkah wabah virus corona itu semua ya, dek?” ucap Gilang.

“Iya, berkah dari masih mewabahnya virus corona itu, mbak! Dan emang sudah seharusnya semua kita berpikir dan bertindak yang simpel-simpel aja! Yang sederhana-sederhana aja! Jangan terus-terusan kita dibuat ngublek nggak karuan karena rumitnya aturan!” kata Gilang.

“Kan Lebaran itu biasanya mesti sowan sana-sini! Masak iya, gara-gara wabah corona, kita jadi ngilangin tradisi itu, dek?!”

“Nggak usah nyusah-nyusahin badan, mbak! Pemerintah sudah buat aturan! Termasuk ngelarang mudik, ya ikutin aja! Walo emang, aturan pelarangan itu nggak sesuai kenyataan di lapangan!”

“Maksudnya gimana, dek?!” tanya Dinda.

“Kita terlalu banyak aturan ngadepin sebaran virus corona ini, mbak! Akhirnya malah buat rakyat kebingungan! Dan kondisi ini jadi kesempatan bertambahnya rakyat terpapar virus corona itu ke depannya!”

“Karena banyaknya rakyat yang melanggar aturan ya, dek?!”

“Salah satunya ya karena itu, mbak! Tapi ya mau gimana lagi, emang serangan Covid-19 ini nggak bisa dideteksi juga sampai sekarang! Bahkan bisa sampai akhir tahun nanti pun belum tentu tertangani dengan baik!”

“Jadi kondisi Lebaran ini memprihatinkan dong, dek?!” kata Dinda.

“Nggak juga sih, mbak! Tergantung sama kita aja! Kalo buat adek sih biasa-biasa aja kok!” ucap Gilang sambil terus mengunyah sekubal, makanan khas Menggala.

“Karena adek mikir dan lakuin yang simpel-simpel itu ya makanya biasa-biasa aja Lebaran kali ini!” kata Dinda.

“Iya, karena adek nggak suka yang njelimet, mbak! Yang konkret-konkret aja!”

“Termasuk adek males nge-wa kawan-kawan buat ucapin selamat idul fitri itu ya?!” sela Dinda.

“Bener itu, mbak! Nurut adek, nggak penting itu! Yang penting kita sudah maafin siapapun yang kita kenal seiring datangnya idul fitri! Maafin yang bener-bener dari hati! Buat apa ngucapin kalo di hati masih ngeganjel atau sekadar basa-basi aja!” tutur Gilang.

“Tapi kan itu nggak lazim, dek?!” ucap Dinda.

“Lha, kita Lebaran kali ini kan juga dalam kondisi nggak lazim, mbak? Kan nggak salah kalo kita juga lahirin pola baru dalam saling maaf-memaafkan? Bisa aja saat ini apa yang adek lakuin dianggep nggak lazim! Tapi siapa tahu tahun-tahun mendatang jadi trend! Karena hakekatnya yang beri permaafan itu hati, bukan mulut! Ayo kita biasakan duluin hati yang bicara! Jangan mulut terus yang dikedepanin!” kata Gilang lagi.

“Dengan begitu, urusan Lebaran jadi simpel ya, dek?!”

“Iyalah, mbak! Yang wajib aja, kayak ke rumah Nyaik, itu harus kita lakuin! Selebihnya ya di rumah ajalah! Lebih sehat, lebih terjaga! Dan nggak nambah-nambah urusan! Hakekat Lebaran ini ngerayain kemenangan selepas puasa Ramadhan selama satu bulan! Kan yang puasa yang ngerayainnya! Ngapain kita siwek ngucapin buat orang yang belum tentu ngeraih kemenangan!?” kata Gilang sambil cengengesan. (*)

Bagikan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *